Udara pegunungan yang dingin membuat ke-5 orang ini berlarian kecil. Laju mereka terhenti saat mereka membaui aroma bawang prei, kaldu daging dan aneka aroma yang lain yang lezat dari suatu kedai mie ramen di pinggir jalan.
Mereka dengan segera memasuki kedai itu dan mulai memesan. Dengan lahap, mereka mulai menikmati semangkok mie hangat itu. Tapi kelezatan mie itu, tidak membuat salah seorang dari mereka untuk tetap tinggal dan makan setelah dia melihat separas wajah gadis tercantik yang pernah dia lihat, sedang menumpang di bak pick up.
Teman seperjalanan yang lain tidak sadar dengan kepergian salah seorang temannya. Memelototi semangkuk mie yang menganggur, dua orang remaja lelaki ini saling memandang tajam satu sama lain, hendak memperebutkannya.
Dengan berbagai ilmu ninja yang sudah mereka pelajari, akhirnya pertandingan memalukan itu dimenangkan oleh remaja yang berambut coklat dan lebih gempal.
Kejadian itu tidak dinyana membuat sang penjual mie ramen menangis terharu. "Kuberi kalian masing-masing semangkok mie gratis. Sudah lama sekali tidak merasakan, ada konsumen mie ku yang menganggap mie buatanku sedemikian enak."
Sementara itu.....
Seorang pria berambut putih keperakan berjalan pelan menyusuri hutan kecil menuju ke sebuah kuil diatas bukit. Kicauan burung dan terpaan sinar matahari menghangatkan hatinya yang penasaran.
Penasaran yang timbul karena dia mendengar cerita dari penduduk sekitar tentang seorang pendeta hebat yang tinggal di kuil diatas bukit.
Bosan dengan penasaran di hatinya, dia pun segera melaju langkahnya dan dalam sepuluh menit dia sudah sampai bukit. Dengan sopan, dia menyapa seorang pengurus kuil ya
ng sedang menyapu. "Tolong tanya, pendeta yang terhebat disini ada di tempat?"
"Oh iya iya, ada. Lihat patung ikan itu, berjalanlah kearah sana, belok kiri lalu lurus terus dan kalau Bapak melihat gantungan kera yang lucu yang berbunyi kalau diterpa angin maka itulah kamarnya."
Dengan sedikit menyengir, pria berpostur tinggi ini berjalan ke arah patung itu. Dan mencari gantungan kera yang lucu. Ting Ting Ting... aneh juga pendeta ini. Pria itupun membuka pintu besar kamar itu. Saat melongok kedalam, dia melihat seorang pendeta muda sedang memegang kain -- sedang berhenti membersihkan patung dan memandanginya dengan wajah tegang dan takut.
"Cantik dan manis sekali cewek ini." pikirnya.
"Ehem, mau ketemu dengan guru kamu bisa?"
Sambil meremas kain putih itu, pendeta muda itu menjawab: "Iiii yaa...."
Suara sahutan pendeta muda itu, membuat pria itu berkernyit dan rasa kagum atas kecantikan wajah pendeta itu menguap dengan segera. "Wah, sial... pendeta banci." Pikirnya dalam hati sambil terus memperhatikan cara berjalan pendeta remaja lelaki cantik itu.
Dengan tergagap, remaja pria itu, menawari Hidan duduk. Bentuk kursi dan desain lantai yang aneh, membuat pria ini mengernyitkan dahi. Suara tuangan teh wangi, membuatnya berhenti mengamati desain aneh itu.
Kecantikan dan kemanisan paras pendeta itu, masih tetap membuat wajahnya memerah saat dia memandangi dari dekat wajah pendeta muda yang sedang menuang teh kedalam cangkir. "Sayang sekali dia cowok atau dia lagi nyamar?" Pria itu segera memandangi leher pendeta muda itu. "Wah asli cowok." Simpulnya dalam hati dengan kecewa.
Setelah menuang teh, pendeta muda itu meminta diri.
Pria berperawakan besar ini mengamati interior ruangan. Besar juga. Tiba-tiba, Bluammmm!
"Nanio??!!" Pria itu menoleh kearah pintu yang daunnya dibanting dengan marah. "Lho, ngapain anak ini?!" Matanya melotot kaget melihat pendeta muda itu ada di depan pintu dan mengeluarkan banyak kartu berwarna putih.
Rasa kagetnya bertambah saat dia merasa tubuhnya tidak bisa bergerak. Dengan bingung, dia memandangi kartu-kartu putih itu dilemparkan dan membentuk burung-burung cahaya putih. Pendeta muda itu membaca mantra. Desain aneh yang dia duduki tiba-tiba bercahaya terang. "AARRRGH!!"
Di jalanan yang sepi,
Dengan cepat pria paruh baya berambut gondrong putih keperakan ini mengikuti pick up yang membawa "gadis" incarannya. Dengan mengintip dari kejauhan, dia melihat "gadis" itu melompat dengan ringan dari bak pick up dan membuka pintu bak. Dia mengeluarkan berbagai bahan makanan mentah yang kelihatannya berat.
"Wah tomboy juga."
Dengan sigap, tiba-tiba pria ini berdiri di samping bak pick up. "Nona manis, saya bantu ya..." ujarnya mengagumi wajah cantik itu sambil akan mengangkat kardus berat itu. Tapi ucapannya tidak ditanggapi pemilik paras cantik itu.
"Wah jual mahal juga."
Pria bertubuh besar ini mengikuti langkah cepat "gadis" bertubuh kurus itu ke dapur.
Teguran koki, membuat dia kehilangan konsentrasi memandangi punggung 'gadis' itu. "Maaf, Pak, ini khusus karyawan. Silahkan ke depan aja Pak."
"O maaf, saya cuma mau bantu dia." Sambil menunjuk kearah 'gadis' itu. "Lho?" Sosok cantik itu sudah menghilang.
Dengan terpaksa, pria itu berjalan ke bagian depan.
"Ada yang bisa saya bantu?" Sambut pelayan manis itu kepadanya.
"Ahaha.... saya pesan teh hangat dan sedikit cemilan."
"Silahkan duduk dulu, Pak. Maaf, ini daftar menu cemilan..."
Potong pria itu: "Pokoknya kasih yang istimewa aja."
"Baik, Pak." Gadis manis itu beranjak pergi dengan cepat. "Wah, lumayan nih cewek.... sexy juga... yang tadi cantik sekali tapi terlalu maskulin...." Hati pria itu membandingkan.
Setelah menunggu 5 menit, hidangan kue cantik sudah terpampang di matanya.
"E, nona manis... nanya... pelayan disini cuma kamu aja?"
"Wah... ada 5 sebenarnya.... yang 2 lagi cuti.... yang 1 lagi dimarahi bos (gadis itu tersipu menutupi mulutnya yang tersenyum)... yang satu jarang melayani pengunjung dalam kedai...."
"Lho, kenapa jarang?"
"Dia bagian pengiriman."
"Ooo..."
Gadis itu dengan segera beranjak saat pengunjung lain meneriakinya.
Teriakan seorang pria muda berumur 30an membuat pria berambut perak ini menoleh tidak senang. "Kucing Garoooong!!!!"
Dengan emosi dia bertanya kepada salah satu pelayannya: " Mana Kamui?"
"Wah, tidak tahu... Bos.."
"Mana nih anak?" Pria itu mengaruk-garuk kepalanya.
"Mungkin membetulkan genteng, Pak? Kemarin kan Bapak suruh.."
"O Iya ya..."
Dengan cepat, pria itu beranjak ke halaman dan menoleh atas -- meneriaki seseorang.
"Nih, kunci mobil.... cepat ada yang minta kiriman sake 50 botol. Barangnya ambil di gudang... cepat... jangan lupa minta uangnya.... dan jangan keburu ngabur aja dari sana, tante Misako ada pesanan khusus."
Dengan cemberut, remaja pria itu melompat dengan ringan dari genteng. "Adduuhh duuhh bikin jantungan aja.... tangga aluminium disana buat apa??!! Nanti kamu jatuh gimana??!! Memang dasar kucing ...." Bos itu menggerutu khawatir.
Sosok berparas cantik yang melompat dari genteng itu, langsung menarik perhatian pria yang sedang menikmati cemilan, dengan tergesa dia meninggalkan uang di meja dan segera mengikuti orang cantik ini.
Dari samping mobil yang hendak di-starter, pria ini berujar: "Saya boleh numpang tidak?"
Paras cantik itu mengangguk.
"Pasang sabuk, Pak." Suara remaja pria membuat pria ini ragu dan memandangi paras cantik ini tanpa berkedip sambil memasang sabuk.
Dengan gigi R, remaja pria ini menancap gas mundur dengan cepat. Dengan gaya koboi, remaja pria ini menyetir mobil dengan ngebut.
Bos remaja cantik itu hanya bisa geleng-geleng kepala. "Baru kali ini, punya pegawai, di pasar belanja ama Bapak-bapak penjual selalu dikasih murah, tapi ibu-ibunya tidak cemburu tapi malah senang kalau dia datang. Langganan pria doyan tapi istrinya tidak marah, langganan wanita juga doyan tapi suaminya juga terpesona. Ck ck ck ck, saking kelakuannya kok kayak mafia..."
Dengan ngebut, Kamui menyetir mobil itu menyusuri jalanan pegunungan yang berkelok-kelok. Pria paruh baya yang bersamanya menggenggam erat pintu mobil. "Paling tidak aku mati kecelakaan bersama orang yang cantik...." pikirnya.
Dalam beberapa menit, Kamui, sudah sampai ke suatu penginapan. Dia mengangkat beberapa krat sake kedalam troli dan mendorongnya.
Tok Tok Tok
Seorang wanita paruh baya bertubuh subur membukakan pintu. Pria paruh baya yang sedang membantu Kamui mengangkat se krat sake, langsung mengernyitkan dahinya saat dia melihat pemandangan: betapa terlihat senang dan dengan mesra wanita paruh baya itu memeluk Kamui.
Wanita itu segera mempersilahkan Kamui dan Jiraiya, pria itu menyebut namanya sebagai. Sambil minum sake berbotol-botol, wanita itu kerap menceritakan suaminya yang suka selingkuh. Dia juga bercerita betapa dia senang melihat Kamui yang mirip putrinya yang sudah meninggal karena sakit 6 tahun lalu.
Jiraiya memandangi foto putri itu, tersenyum kecut, mirip apanya dengan Kamui pikirnya.
Wanita yang sudah setengah mabuk itu tiba-tiba teringat sesuatu. "Kamui-chan, lihat ini, mama belikan sesuatu, kawaii... " Wanita itu membuka sebuah kotak, dan mengeluarkan sehelai gaun yang mewah."
"Kamui-chan, kamu coba ya..."
Kamui hendak menolak permintaan ibu itu, tapi dia terkenang akan ibunya sendiri yang baru meninggal setahun lalu. Dengan berat hati, Kamui mengambil baju itu dan mengenakannya.
Saat keluar dari kamar mandi, ibu itu dengan terharu berdiri. "Kamui-chan, kamu sangat cantik."
Jiraiya semakin terpesona dengan kecantikan Kamui, sampai botol sake yang seharusnya dia tempelkan di bibirnya, dia tempelkan di bawah hidungnya.
Wanita itu akhirnya mabuk berat dan tertidur. Kamui dengan segera melepas gaun itu dengan sedikit jengkel. Dia pun beranjak dari kamar itu, mengambil uang pembayaran di meja dan meninggalkan kamar itu.
Jiraiya-pun yang juga agak mabuk mengikutinya.
Saat di perjalanan pulang, tak dinyana, segerombolan genk sepeda motor, memblokir jalan Kamui. "Hei, banci cantik, sini turun.... kami tahu kamu lagi bawa uang banyak... kalau kamu kasihkan uangnya, kami tidak rampas mobilnya."
Kamui diam saja, memandangi mereka satu persatu dengan tajam.
Jiraiya, merasa akan timbul suatu tontonan yang menarik, diam seribu bahasa memandangi Kamui.
Dengan refleks cepat, Kamui membuka pintu mobil dengan cepat sehingga menghantam dagu salah seorang anggota genk yang lagi mendekatkan kepalanya ke pintu mobil untuk mengintimidasi Kamui.
Dengan sigap, Kamui turun, dan Jiraiya pun turun pelan-pelan dari mobil, penasaran dengan apa yang hendak dilakukan Kamui.
Anggota lain yang marah segera mengayunkan kunci Inggris kearah Kamui, tapi Kamui berhasil menghindar, lalu dengan sigap menggenggam kunci Inggris itu dan memukulkannya ke muka anggota genk itu. Dia dengan segera mendorong anggota genk itu kearah anggota genk lain yang sedang bergerak marah kepadanya. Kamui lalu dengan sigap meloncat kearah sepeda motor untuk menjaga jarak.
Dengan cepat, dia membuka tangki bensin dan merobohkan sepeda sehingga bensin tertumpah kearah anggota2 genk itu. Anggota2 genk itu berteriak kaget dan ketakutan sambil melompat mundur menjauhi Kamui dan mobil tapi tiba-tiba mereka sadar dan tertawa, tidak ada api.
Tanpa mereka sadari, Kamui sudah menumpahkan beberapa liter bensin dengan menendang motor dengan tangki bensin terbuka ke badan jalan dan berlari kedalam mobil, menstater mobilnya. Jiraiya segera ikut masuk dan Kamui dengan sigap melempar penyala rokok mobil kedalam genangan bensin dan ngacir.
Badan jalan yang terbakar, membuat genk itu tidak bisa mengikuti Kamui....
"Tak kusangka, kau hebat sekali, Kamui." Jiraiya memujinya.
"Dimana kamu belajar bertempur seperti itu?"
Kamui diam saja, berkonsentrasi mengemudi yang ngebut.
Jiraiya mengeluh: anak jaman sekarang kurang sopan terhadap senior, dia teringat pada Naruto yang sering memanggilnya pertapa genit. Dia mulai membandingkan Kamui yang pendiam dan Naruto yang cerewet. Jiraiya tertawa sendiri membayangkan betapa betenya Naruto kalau omongannya diacuhkan orang seperti Kamui..
Tiba-tiba, Kamui membuka pembicaraan:
"Bapak, mau turun dimana?"
"Heh? Akhirnya kamu bersuara juga! Saya mau turun dimana ya? Aha, ada pemandian air panas disini tidak?"
Kamui tidak menjawabnya hanya terus menyetir. Setelah mengemudi 45 menit, Kamui menghentikan mobil. "Pak, ini permandiannya."
"Eh?! Oh sudah sampai ya.... Eh, omong-omong, kamu bisa bantu Bapak tidak?"
Kamui memandangi Jiraiya dengan heran.
"Eh, Bapak punya murid-murid yang masih nunggu di kedai mie ramen dekat perbatasan... kamu bisa tolong antar Bapak kesana dulu dan menjemput mereka?"
Tiba-tiba HP Kamui berbunyi.... suara keras memarahi dia dapat didengar Jiraiya.... Jiraiya merasa tidak enak dan merampas HP Kamui. "Eh, maaf Pak, saya ini pelanggan yang tadi ke kedai, saya merasa kedai Bapak spesial, jadi saya ingin mengajak Kamui menjemput beberapa teman untuk makan juga di kedai Bapak."
"Ho, begitu ya, terimakasih Pak... Bisa tolong kasihkan teleponnya ke pegawai saya?" Jiraiya menyodorkan HP itu sambil tersenyum menang kearah Kamui.
Terdengar suara keras dari speaker HP...
Kamui pun tanpa berkata sepatah katapun, menstarter mobilnya dan memandang ke arah Jiraiya.
"Hah.... antar ke kedai itu ya...."
Jiraiya pun berpikir: lumayan ada variasi, kalau Naruto nanya-nanya melulu, kalau ini diam aja dan melakukan apa yang disuruh dengan segera.
-----
Sementara di kedai ramen...
Perut membuncit kedua ninja cowok itu membuat mereka mengantuk dan bosan menunggu Jiraiya.
Sementara pemilik kedai menceritakan cerita tentang pemandian dan kenapa tidak ada mie ramen pake daging selain seafood di desa ini.
"2 tahun lalu, seorang chef di permandian air panas melakukan pembunuhan berantai terhadap gadis-gadis muda, masakan mie ramennya dan odennya yang dari daging sangat spesial. Tidak ada tubuh selain tulang belulang yang sudah tercecel-cecel.
Kalian tahu kemana daging korban?
Dimasak sebagai daging mie ramen."
Hii.... kedua remaja cewek ninja bergidik...
"Sejak itu, mie ramen dengan daging selain sea food tidak ada yang mau makan disini.... tapi seafood di desa gunung seperti ini, tidak mungkinlah kami dapat seafood segar, semua sudah di bekukan... jadi kelezatannya berkurang..."
Deruan mobil membuat ninja-ninja remaja yang mulai terkantuk, menjadi kaget dan bersemangat ingin tahu siapa yang datang.
Pria berambut perak, membuat kebosanan menunggu mereka menghilang.
Mereka berdiri menyambut guru mereka itu.
Muka pria2 remaja itu memerah saat mereka melihat kecantikan sopir mobil. Tapi lain halnya dengan sopir itu.....
Dengan ketakutan dia memandangi
remaja yang berambut pirang....
Dia berdiri mematung memandanginya....
Remaja itu merasa tidak nyaman dan mulai marah...
"Hei, kenapa?!!"
"Naruto, diamlah!" Jiraiya menghardiknya. Dia mulai berpikir: jangan-jangan anak ini tahu ada Kyuubi dalam Naruto. Dia bukan anak biasa.
Tiba-tiba Kamui memegangi kepalanya dan terlihat kesakitan, seperti mimpi dia melihat kebakaran dahsyat dan langit yang memerah dihiasi bara api. Seekor rubah dengan ganas mengeluarkan energi yang begitu jahat dan kuat.
Tiba-tiba Kamui pingsan...
Jiraiya segera menggendongnya....
"Wah, gimana ya?"
"Eh, Chouji, rogoh koceknya, dia ada HP, telpon bosnya....."
"E???" Chouji menoleh dengan ragu ke arah Sakura dan Ino.
"Cepat! Lelet banget! Sakura, kamu aja."
"Haik."
Sakura memandangi wajah Kamui saat merogoh kantungnya mencari HP... dalam hatinya dia berpikir: "Sial, dia cantik sekali!" Sementara dari belakangnya, Ino juga menunjukkan wajah cemburu.
Tiba-tiba mata Sakura terpaku pada "Adam's Apple" pada leher Kamui.... mukanya langsung memerah. HP yang berhasil dirogohnya dengan gugup dijatuhkannya.
Jiraiya memelototinya. "Cepat, tadi bosnya baru telpon."
Sakura dengan gugup memencet HP itu dan
"Pingsan??!! Kalian dimana?"
"Di kedai mie ramen dekat perbatasan desa."
"Oh, bawa ke rumahnya aja. Dia tinggal di kuil dengan saudaranya. Hanya 500 m dari sana."
"O ya....."
Sakura segera menoleh ke arah penjual mie ramen... kebetulan ada sopir yang lagi makan di kedai itu, dia mau mengantar mereka.
----
Pendeta2 di kuil itu dengan segera membantu membopong Kamui dan membawanya ke ruangan bagian dalam.
"Subaru-san, kakakmu pingsan." Pendeta2 itu meneriaki seorang pendeta muda yang sedang menyimpan sesuatu dalam lemari.
Subaru terkejut dan berlari keluar.
Saat memandang wajah Subaru, Jiraiya berteriak happy dalam hati: "Hari ini aku di surga, lihat 2 orang yang maha cantik.... apalagi yang ini kelihatannya lebih lembut dan pengertian...."
"Onni-chan.... onni-chan...." Subaru memanggilnya, tapi tiba-tiba Subaru terdiam dan menoleh kearah Naruto dan memandanginya terus....
Naruto jadi grrr, dikira separas wajah cantik itu menyukainya.....
Subaru membisikkan sebait mantra ke telinga Kamui....
Tiba-tiba mata Kamui terbuka.
"Onni-chan.... "
Kamui langsung bangkit dan memandangi Naruto lagi yang berdiri dengan salah tingkah di pojokan. Tiba-tiba Kamui mengalihkan pandangan kepada Subaru dan mengangguk pada Subaru yang sedang menggelengkan kepala.
Semua ninja yang berada di kamar itu, langsung berpikir: Wah, mereka ini telepati atau apa?
Subaru membungkuk kepada Jiraiya, lalu Sakura, Ino, Chouji dan Naruto sambil berucap terimakasih. Jiraiya tertawa senang dalam hati: wah akhirnya ketemu anak yang punya sopan santun, lemah lembut dan cantik lagi. Tapi sayangnya kok juga cowok.
----
Subaru meminta diri untuk mengambil hidangan buat mereka. Jiraiya menoleh kearah Kamui. "Nak, kamu dan adikmu, kelihatan tidak jauh umurnya, beda berapa tahun?"
"Umurku dan nii-san jauh berbeda....." Ujarnya cuek memandangi lemari dalam kamar.
"Eh? Beda 2 tahun, 3 tahun?"
"6 tahun....."
"Masa??!!"
Sakura tersadar sesuatu. "Lho, barusan Subaru memanggilmu Oni-chan.... kamu memanggilnya Nii-san?"
Kamui tidak menanggapi pertanyaan itu, dia lalu menoleh kearah jendela.
------
Ketidakenakan dalam ruangan itu segera cair setelah aroma teh yang wangi menggaruk hidung mereka.
Subaru masuk dan membawa makan malam.
Naruto dan Chouji segera berebut makan dan Jiraiya segera memukul tangan mereka. "Tidak sopan!"
Subaru tersenyum. "Masih banyak, kok. Nii-san, kamu makan nasi juga aja. Kelihatannya kamu belum makan seharian."
Kamui mulai memakan nasi itu. Naruto melihat ke arah volume nasi Kamui yang sedikit. "Sedikit sekali, mana kenyang?!"
Subaru menoleh ke arah Jiraiya. "Pak, apa Bapak sudah punya tempat menginap malam ini?"
"Belum. Sebenarnya saya ingin menginap di permandian air panas yang juga penginapan di desa ini."
"Ooo... kalau begitu malam ini, saya mohon Bapak dan murid2 Bapak tinggal menginap disini dulu, besok saya antar Bapak kesana. Bagaimana?"
Subaru berharap
"Wah, terimakasih, undanganmu saya terima." Jiraiya senang.
-----
Seraya menyusuri lorong kuil, Jiraiya diiringi ninja2 muda, membuka obrolan dengan Subaru. "Kalian, tidak punya orang tua?"
"Tidak. Kami yatim piatu."
"Kalian asal sini?"
"Bukan dari tempat lain, jauh..."
"Darimana?"
"Saya tidak begitu ingat.... rasanya sudah lama sekali.... mungkin saya masih kecil."
"O..."
Sakura teringat pada soal onni chan dan nii san...
"Lho, kamu dan Kamui, siapa yang kakak sih?"
"Kamui...."
"Lho, dia kok manggil kamu, nii-san...."
"Tidak tahu.... tapi rasanya dia lebih tua karena dia lebih ingat masa lalu kami...."
"Lho, kalian terlihat seumur bahkan wajahpun mirip..."
"Benarkah? Padahal kami cuma sahabat...."
"E? Aneh ya Kamui itu, bilang kalau umur kalian beda 6 tahun...."
Subaru tersenyum.
"Mungkin kakak salah dengar.... lah ini kamarnya.... Bapak di kamar ini.... sementara kakak-kakak di kamar sini dan sini ya... selamat malam...."
Saat hendak berebut tempat tidur dengan Chouji...
tiba-tiba Subaru menegur Naruto....
"Kakak ....." sambil menepuk bahu Naruto dengan lembut.
"Ya?"
"Kakak sebaiknya jangan tidur di dekat jendela.... dan jangan menatap bulan malam ini...."
"Kenapa?"
Tiba-tiba Subaru meyodorkan kacamata tidur...
"Apaan ini?!"
Chouji tertawa terbahak2. Tiba-tiba Subaru mendorong Naruto dan menempelkan kertas mantra pada dahinya. Cahaya terang menyelimuti Naruto dan sesaat kemudian, Naruto ambruk ke ranjangnya dan tertidur pulas.
"Hebat sekali!" Chouji bepikir.
Dengan langkah tenang, Subaru berpamitan dan berjalan ke ruangannya.
------
Dalam ruangannya, Subaru menemukan Kamui sedang mencoba membuka lemari. Subaru pun segera membuka lemari itu. "Ada yang mau kutunjukkan."
Subaru mengeluarkan sebuah kotak dan mengeluarkan sesuatu berbentuk bulat.
"Apa itu?"
"Kepala seseorang."
"Heh?"
Subaru pun membuka perban yang menutup mata kepala itu. Sinar mata dari mata itu terlihat marah.
"Apa ini?"
"Hawa aneh sangat terasa saat dia datang. Jadi kuserang, tapi tak kusangka kepalanya lepas."
"Apa dia manusia?"
"Sepertinya iya... aku ingin kasih dia makan."
"Sebaiknya besok aja."
"Kenapa?"
"Aneh aja, lihat kamu keluar masuk dapur malam-malam."
"Iya juga."
"Oh ya, Onni-chan...."
"Kenapa?"
"Soal anak berambut pirang itu?"
"Iya?"
"Aku merasakan hawa tidak enak. Terlalu dekat dengan kudashitsuji.... nanti musuh bisa menemukan kita."
"Kalau begitu besok kita pergi dari sini, sambil bawa kepala ini dan kasih dia makan."
"Onni-chan, Kira-kira kepalanya bi
sa lekat dengan badannya lagi ndak? Oh ya, aku tadi janji ama Bapak itu mau antar dia ke permandian..."
"Aku saja... Besok kamu antar kepala ini ke badannya dan jahit... Kita ketemu di tempat biasa..."
Kamui terdiam mengamati kepala itu. Dia berdiri dan mencari jarum jahit dan benang lalu menyodorkannya ke Subaru.
Mereka duduk tertidur pulas dihadapan sepasang mata yang memelototi mereka.
-----
Jiraiya bangun sangat pagi... saat keluar menyambut pagi di kuil yang indah itu... dia menemukan kalau Kamui udah menungguinya di luar kamar. Sambil membawa sekeranjang handuk dan sabun.
"Wah, rajin sekali..." Dia langsung teringat pada Naruto dan Chouji... wah, 2 berandalan itu pasti masih tidur.
"Bapak mau mandi sekarang?"
"Heh? Iya, setelah kubangunkan muridku dulu ya..."
Jiraiya merasakan kegelisahan pada Kamui. Seperti sedang tergesa-gesa.
Saat sarapan, Jiraiya menanyakan Subaru. Kamui menjawab asal dengan bilang lagi ada urusan kuil dan menjelaskan kalau dialah yang akan mengantar Jiraiya.
-----
Di tempat lain...
Kakuzu mulai gelisah dengan ketidak pulangan Hidan dari sembahyang. Dia gelisah karena Pein menanyakan keberadaan Hidan yang mangkir dari misi.
Konan pun menawarkan bantuan untuk mencari Hidan. Mereka pun pergi bersama. Setelah mencari beberapa saat, mereka merasakan keberadaan Hidan di sebuah bukit.
Mereka pun dengan cepat menelusuri pepohonan dan melihat...
Seorang pendeta perempuan muda terlihat kebingungan memasang kepala Hidan dengan mulut tersumpal pada badannya...
Pendeta ini terlihat menjahit tengkuk Hidan. Kakuzu tidak mau bersabar menonton lagi dengan cepat dia turun dan merampas kepala Hidan dan klek terpasang.
Pendeta ini terlihat ketakutan dan berlari cepat.
Gerakan pendeta ini dinilai sangat lincah oleh Konan. Konan pun mengejarnya dan menangkapnya dengan melemparkan kertas origami berbentuk pesawat yang berisi obat bius.
Pendeta inipun terbius pingsan.
Hidan pun menjelaskan penyerangan yang dilakukan pendeta ini dengan kartu tarot sihir. Iseng Hidan bertanya pada Konan...." aku dengar tentang Kudashitsuji dari pendeta... kamu tahu itu?"
"Kudashitsuji?"
Hidan dengan gaya menjelaskan tentang Kudashitsuji....
Kudashitsuji adalah sebutan lain bagi siluman rubah berekor 9.
"Lalu?"
"Dari pernyataan pendeta ini tadi malam... saya bersimpulan kalau ada siluman rubah berekor 9 lain selain yang ada didalam tubuh Naruto..."
------
Kamui dengan ngebut menyetir mobil mengantar Jiraiya ke pemandian air panas. Naruto, Ino, Sakura berteriak histeris memarahinya. Tapi Kamui cuek dan tetap berkonsentrasi menyetir. Setelah Jiraiya dan murid-muridnya turun, Kamui dengan segera atreet dan menancap gas pergi. "Dasar sudah gila." gerutu Sakura. "Tapi, cowok kayak gitu, jadi terlihat keren deh.... wild...." Ino tersenyum penuh arti. Melihat ekspresi Ino, Sakura pun merasa kepalanya serasa memanas matang di ubun-ubun apalagi setelah 3/4 jam merasakan perjalanan berkendara bak ikut rally Paris - Dakkar.
"Ayo, kita ikuti anak itu..." Jiraiya tiba2 bertukas.
"Hee? Ngapain turun tadi?!" Naruto protes.
"Tidak usah cerewet lagi! Ayo!" Jiraiya menjitak kepala Naruto.
Mereka pun mengikuti mobil Kamui dari kejauhan. Semakin dekat dengan kuil, Kamui merasa aneh. Dia tidak lagi merasakan keberadaan Subaru. Kamui pun turun dari mobil dan berlari menyusuri hutan, langkahnya terhenti setelah dia merasakan aroma yang sangat jahat. Kamui pun menoleh ke belakang.... matanya dengan kaget dan shock melihat kearah mata Naruto.
"Sejauh ini dan tersembunyi seperti ini. Dia seperti memandang langsung ke mataku." Naruto terkaget berpikir dalam hati.
"Ada apa, Naruto?" Sakura heran.
"Dia melihatku......" Naruto bertukas dengan ragu.
----------
"Taruh dimana anak ini?" ujar Hidan jengkel.
Deidara mengangkat wajah Subaru...
"Kawaiii.....^ - ^"
"Kita sering harus menjalankan misi. Merepotkan kalau harus jaga dia.." Konan bertukas dengan tergesa hendak melapor ke Pain.
"Ahaa... suruh aja Itachi yang jaga, dia kan lagi sakit...."
"Ya... ide bagus. Titipkan Itachi aja."
-----
Subaru mulai mulai membuka matanya. Aroma tanah yang lembab dan bebatuan aneh mulai menyeruak di hidungnya. Suara batuk membuat dia semakin terjaga. Subaru bangun melihat seseorang terbaring dan terlihat sakit dibawah temaram cahaya lilin.
"Kasihan.." ujarnya dalam hati.
Subaru pun membau-i air minum dalam kendil lalu gelas yang ada di atas meja dan menuangkan air itu ke gelas. Dia memapah orang yang terlihat sakit itu dengan menopang tengkuknya dengan lengannya. Tiba-tiba Subaru merasakan sakit dan sesak pada lehernya. Dia memandangi mata pemilik tangan yang mencekiknya yang memandanginya tajam.
Gelas yang berisi air yang dia pegang pada tangan satunya pun jatuh dan airnya membasahi selimut. Itachi memandangi gelas itu dan melepaskan cengkeramannya.
Subaru segera memungut gelas itu dan segera berdiri menjauhi pria berambut panjang itu sambil memegangi gelas.
Pria bertubuh tinggi itu bangkit dari ranjangnya dan mengambil gelas dari tangan Subaru dan menuanginya air lalu minum. Dia lalu mencengkeram tengkuk Subaru dan mendorongnya menuju pintu kamar.
----
Setelah berjalan beberapa saat, Itachi dan Subaru pun berdiri memandangi sedaun pintu. "Masuk..." ujar orang dari balik pintu tanpa harus mengetuk.
Subaru memandangi wajah penuh tindikan itu dengan takut. Rasa sakit karena cengkeraman kuku pada tengkuknya tidak membuat rasa takut yang amat sangat itu hilang.
Itachi tidak berkata apapun, dia hanya memandangi Pain dengan heran. Dia lalu mendorong Subaru sedikit ke depan.
"Tugasmu menjaga dia untuk sementara waktu itu. Jangan sampai dia hilang dari pandanganmu."
Itachi mengangguk dan mendorong Subaru lagi keluar ruangan.
-------
Itachi dan Subaru memasuki kamar mereka lagi. Itachi membangun segel agar Subaru tidak bisa keluar. Dia mendorong Subaru dan menyuruhnya segera tidur. Itachi istirahat lagi.
Suara gelisah dari Itachi, membuat Subaru tidak bisa tidur. Dia memutuskan untuk bangun dan memberanikan diri meletakkan punggung tangannya di dahi Itachi. --- Demam ---
Subaru pun menuang sedikit air pada sobekan kain lengan jubah pendetanya dan mengkompressnya pada dahi Itachi. Subaru membaca sedikit mantra untuk membuat Itachi lebih tenang dan tertidur lebih pulas.
---
Paginya, Itachi terbangun dan menemukan Subaru sedang tertidur pulas bersimpuh disamping ranjangnya. Dia memandangi secarik kain yang dia temukan pada dahinya. Dia memandangi wajah Subaru yang manis dari temaram lampu lilin.
Gerakan lengan Itachi, membuat Subaru terbangun kaget dan melompat sampai terduduk. Itachi menyodorkan secarik kain padanya dan menyuruhnya berdiri. Mereka berjalan ke suatu ruangan dan menemukan banyak makanan di meja. Tampak Deidara dan Tobi sedang berebut nasi kepal. Tapi pemandangan memalukan itu, malah membuat Subaru terlihat takut dan tanpa sadar dia meremas jubah Itachi.
Itachi pun memandanginya dengan heran lalu dia merasa ada yang luar biasa dari anak ini sehingga Pein menyuruhku menjaganya.
--------
"Wah, pingsan lagi anak ini?!" Ujar Jiraiya jengkel.
"Chouji, kamu bopong dia ya.."
-----
Pagi sekali....
Naruto dengan terkejut bangun karena kedinginan.
Lebih kaget lagi saat dia melihat ke pojokan di mana Kamui seharusnya berbaring...
Kosong!
Naruto pun melompat dari ranjang dan berlari keluar kamar...
"Sial sial sial.... kenapa sampe suruh aku yang menjaganya?"
Naruto pun me-rewind kejadian malam sebelumnya.
Perintah Jiraiya setelah mabuk anggur bareng Tsunade, jadi terdengar kacau. Team 7 disuruh menjaga Kamui. Kakashi tidak bisa. Yamato tidak di tempat. Sai? Hmmm, gimana ya? Senyam senyum tidak meyakinkan. Sakura? Naruto menoleh ke Sakura sekilas aja saat kebingungan menawari siapa yang harus menjaga Kamui aja, Sakura sudah menendang perut Naruto dengan keras dan memukul dagu Naruto hingga tergeletak dengan telak.
Akhirnya Narutolah yang menjaga tapi sialnya dia ketiduran.
Naruto berlari secepatnya ke sana ke mari. Sampai tiba-tiba di depan pintu WC... Braaakk....
"Aduh."
Terdengar erangan Shikamaru.
"Maaf."
Naruto tanpa babibu berlari ke ujung lorong.
Shikamaru-pun menoleh ke arah menghilangnya Naruto dengan lesu. "Sial, bangun pagi-pagi malah ketabrak..."
Shikamaru mencoba berdiri, tiba-tiba matanya menangkap sepasang sepatu hijau lusuh.
Tangan Lee membantunya berdiri. Shikamaru pun mengeluh tentang tertabraknya dia oleh Naruto. Lee lebih tertarik akan ketergesaan Naruto. Diapun segera berlari ke ujung lorong menyusul Naruto.
Lee melihat Naruto berjongkok kebingungan diatas genteng. Lee pun meneriakinya..
Naruto dengan sigap turun. "Sssttt... jangan teriak2... ayo bantu aku mencarinya."
"Siapa?"
"Kamui.."
"Anak yang kemarin kalian bawa itu?"
"Ya..."
Naruto dan Lee - pun berpencar ke seluruh tempat mencari Kamui. Dengan kebingungan akhirnya mereka pun berkumpul lagi di bawah pohon sakura.
“Sial… dimana dia ya?” Naruto dengan gelisah memegangi kepalanya.
Dari kejauhan mereka mendengar suara tawa ceria beberapa shinobi yang umurnya lebih tua dari mereka.
Naruto dan Lee sangat tertarik mengapa shinobi2 itu begitu ceria dipagi buta.
Mereka pun mencari sumber suara.
Huah lumayan banyak pemuda berkumpul disana. Sekitar 30-an.
Mereka terlihat menggoda seseorang.
“Cantik… turun dari pohon donk… apa mau kakak bantu? Ha ha ha….”
“Kau menakuti dia tuh? Lihat wajahnya terlihat takut sekarang…”
“Masa ngomong gitu menakutkan?”
Keberadaan Naruto yang begitu dekat tercium Kamui. Pancaran mata Kamui yang terlihat takut dengan lurus menghujam mata Naruto.
Naruto agak bergidik memandang mata Kamui. Kamui tiba-tiba melompat kebawah dan mengambil batu yang berukuran cukup besar dan melemparnya ke Naruto. Batu yang terlempar cukup kuat berhasil dihindari oleh Naruto.
“Leave me alone!” teriaknya histeris.
Kamui dengan cepat melompat tinggi kearah Naruto dan melancarkan tinju.
Shinobi pemuda yang berkumpul disana kaget dan “Lho itu kan Naruto? Host Kyuubi…”
Naruto menghindari pukulan Kamui. “Hei, kenapa menyerangku?”
Kamui menyerangnya terus dengan membabi buta dan Naruto pada suatu ketika berhasil memegang bajunya dan mendorongnya. Sialnya, kepala Kamui terantuk batang pohon yang keras dan pingsan.
“Aku bisa gila.. Hei, kamu tidak apa-apa” Naruto dengan keras mengguncang tubuh Kamui. Naruto-pun membopongnya dan bergegas ke kamar Sakura.
---
Sakura sedang asyik menyisir rambutnya lalu memandangi jepit manis dari giok yang baru dia beli. Senyumnya melebar. Dengan ceria, dia membuat jepit itu dan hendak menyisipkan ke rambutnya. Tiba-tiba…Braaakkk… pintu jendela kamarnya terbuka. Teriakan Naruto yang lebih keras membuat Sakura sangat kaget. “Sakura, tolong… dia pingsan….”
Pyaarr…. Jepit giokpun jatuh pecah di lantai.
“Naaaaarrruuuutooooooooo…..!!!” teriaknya dengan geram dan terdengar seram
“EH?!” Naruto menoleh ke Sakura dengan heran. Sebuah pukulan keras yang membuat hidungnya berdarah mendarat diwajahnya.
Sakura pun lalu terlihat bingung mengobati kepala Kamui. Telapak tangan Sakura terlihat memegang dahi Kamui sedang telapak tangan satunya memegang dahinya sendiri…
“Lho kok aneh…”
“K eke kenapa??” Naruto sambil memegangi hidungnya dengan sedikit air mata menggenang dari sudut matanya…
“Masih bernafas… tapi kulitnya sangat dingin….. “
“Kenapa dia?” Naruto dengan panic mendekati Kamui dan memandanginya dari dekat. Lalu ikutan memegang dahi Kamui. Tapi setelah beberapa saat, Naruto merasa pandangannya agak kabur dan suara Sakura yang memanggil-manggil namanya jadi begitu nge-bass tapi terdengar sangat jauh.
------
“Narutoo… kamu sudah bangun!” Teriakan Sakura yang terdengar panic tapi lega menggetarkan gendang telinga Naruto.
“EeH? Ada apa?” Naruto mencoba bangun.
Naruto merasa tubuhnya seperti dalam keadaan seluruh cakranya habis tersedot setelah bertempur dengan lawan yang sangat kuat.
Terdengar ceriwis Sakura: “Tadi aku sempat panic, kukira karena pukulanku kamu pingsan tapi Tsunade bilang bukan. Syukurlah, aku sempat merasa bersalah.”
“Iyaa…. “ Jawab Naruto lesu.
“Tsunade bilang pingsanmu sangat aneh. Dia bilang mungkin ada reaksi aneh dari Kyuubi terhadap Kamui, beliau hendak menyelidikinya. Jadi sementara kamu dan Kamui tinggal sekamar dalam kamar khusus..”
“Apaaaaa?! Jadi kelinci percobaan nenek itu? !!!” Naruto berteriak geram.
“Keterlaluan. Emangnya enak tiap kali dipandangi dengan mata ketakutan kayak gitu! Aku mau protes nenek Tsunade. Jangan2 masih mabuk dia!” Naruto bergegas turun dari ranjang.
------
Naruto dengan geram memandangi Tsunade yang dengan cuek dan bosan membubuhkan stempel pada berkas2 yang berjibun.
“Kenapa suruh aku sekamar dengan anak itu?!”
“Kalau mau tahu Kyuubi ada terpengaruh tidak ama anak itu. Buka segel dan nanti aku Tanya dia!”
Tsunade bertekuk wajah dan menopang dagunya dengan punggung tangannya.
Dia melirik Naruto sebentar, lalu berujar “Mungkin Kyuubi juga tidak menyadari. Makhluk arogan seperti itu mana mau ngaku lemah?”
“Eeeh?” Naruto heran sambil terus memandangi helaian-helaian berkas yang distempel begitu saja oleh Tsunade tanpa dibaca.
“Hah, kamu sudah datang. Ayo tunjukkan kamar baru Naruto dan anak itu.”
“Ya…”
Penggendong babi itu tersenyum pada Naruto dan berjalan didepan Naruto. Naruto mengikutinya dengan dongkol.
Begitu lihat dalam kamar itu, Naruto kaget melihat seluruh bajunya udah tergeletak didalam kamar itu.
Kamui yang didalam kamar itu terlihat kaget memandangi Naruto. Beberapa shinobi menenangkan Kamui yang mencoba kabur.
“Naruto…” dengan lembut si penggendong babi memanggilnya
“Ya?”
“Kamar mandi ada didalam kamar. Pintu kamar akan selalu dijaga. Jendela juga diterali, tidak boleh keluar kalau tidak diijinkan…” ujarnya sambil tersenyum manis.
“Grrrrrrr!” Naruto membayangkan wajah Tsunade dengan geram.
Setelah Kamui tenang, seluruh shinobi dalam ruangan tadi dengan tergesa keluar dan menutup pintu. Braaak. Terdengar kunci diputar.
Selama beberapa menit, Kamui dan Naruto mendengar obrolan shinobi diluar sayup sampai karena tebalnya daun pintu besi yang dingin.
Naruto dengan jengkel menoleh kepada Kamui yang berdiri dengan tegang di pojokan. “Sudahlah! Aku bisa gila lihat kelakuanmu. Duduk saja!” Naruto mendorong kursi dengan kakinya kearah Kamui.
Kamui-pun duduk dengan hati-hati.
Naruto-pun mulai bercerita sambil menangis.
“Jangan memandangiku seperti itu. Kamu mengingatkanku pada masalalu-ku yang tidak punya teman karena mereka takut padaku. Iya, memang ada siluman disegel dalam tubuhku. Sudahlah jangan takut, dia belum pernah berhasil keluar tanpa lepas segel. Kamu tahu rasanya tidak punya teman dan dijauhi?” Naruto tetap berujar memandangi lantai mengkilap itu tanpa memandangi Kamui.
Kamui terlihat kaget dan terbayang pada masa lalunya. Dia dijauhi dan dimusuhi karena dianggap anak yang aneh. Sering di-bully, sampe dia menunjukkan kekuatan espernya dan malah tambah dijauhi. Hidupnya sendirian terluntang lantung tanpa sahabat-sahabat berharganya setelah dia jauh meninggalkan Tokugawa shrine. Belum lagi musuh-musuh iblis kiriman yang sering mengganggunya di tengah jalan.
-----
Esoknya…
“Sakura… Sai… Shikamaru… Lee… kalian mengunjungiku ya….” Ujar Naruto dengan senang.
“Naruto, bawah matamu terlihat kehitaman? Kamu tidak bisa tidur?” Sakura berujar dengan khawatir sambil memandangi Kamui yang sedang diam cuek memandang keluar dari jendela berterali --- tidak bereaksi terhadap kehadiran mereka.
Dalam inner dirinya….
Sakura dengan geram. “Hih… sombong sekali!” Tangannya mengepal seperti ibu kost di Kungfu Hustle saat mengancam gembong mafia kapak merah.
-----
Sai berjalan mendekati Kamui sambil tersenyum.
“Halo apa kabar? Kita baru pertama kali bertemu …” sambil menyodorkan tangannya.
Kamui terlihat tidak suka pada Sai. Dia tidak mau mengulurkan tangannya dan tetap diam memandang keluar jendela.
Lee terlihat geram. Dia melompat kearah Kamui.
“Kamu tidak boleh seperti itu!”
Kemarahan Lee menyurut begitu melihat Kamui yang terlihat sangat sedih. “Kenapa?”
Naruto menoleh pada Kamui.
“Mungkin rindu ama kembarannya….” Sakura berujar dengan menyesal.
“Iya…. Kembaranmu mana?” Naruto berteriak kaget memandang kea rah Kamui.
“Sepertinya dia dikurung…..” Kamui berujar dengan lirih.
“Hah? Bagaimana kamu tahu?” Naruto berujar dengan heran.
“Mereka kan kembar… mungkin bisa merasakan…”
“Kira-kira kamu bisa tahu dimana dia dikurung?” Sakura menyelidik.
“Yang jelas saat ini dia tidak bisa melihat bulan pada malam hari seperti aku.”
“Jadi maksudmu dia dikurung didalam ruangan tertutup - tanpa bisa lihat langit – bawah tanah?” Shikamaru berujar dengan cuek.
“Bawah tanah? Apa kamu mau bilang Subaru…. Yang kasih makan di kuil itu… ditangkap Akatsuki???!” Naruto kaget.
-------
Itachi berjalan kearah sungai dengan sedikit gontai. Tubuhnya sangat lemah. Tiba-tiba dia merasa ada orang yang memapahnya. Wajah manis pemilik tangan yang memapahnya itu terlihat sangat khawatir dan bergegas ke tepi sungai. Itachi merasa agak heran dengan kelakuan anak itu yang sering kali menciumi air yang hendak diminum.
Itachi merasakan hawa yang begitu pekat dari arah depan. Beberapa pasang mata mengawasinya. Dengan tenang, dia berdiri dan memandangi orang-orang yang ada diseberang sungai dengan tajam dan awas.
Diapun mendengar teriakan dari seberang untuk melepas anak yang pergelangannya dirantai dengan benang merah aneh dengan pergelangannya.
Belum sempat Itachi berkelit, tiba-tiba serangan listrik merambat dengan cepat dari seberang dan memutus benang merah. Hawa aneh yang menyengat dari sampingnya membuatnya menoleh ke sebelah.
Sosok remaja itu menghilang…..
Tiba-tiba didepannya, berdiri sesosok pemuda yang umurnya tidak jauh berbeda dengannya…..
Semacam dinding transparent berbentuk bintang menghadang dimukanya dan muka pemuda itu. Serangan chidori Kakashi yang bertubi-tubi seolah-olah teredam oleh dinding itu. Itachi dapat melihat aliran listrik petir itu membentuk ombak-ombak indah pada dinding berbentuk bintang itu, seperti ubur-ubur transparent yang menyala dalam kelamnya lautan.
Tapi pemuda itu sepertinya sudah mulai kehabisan tenaga. Pemuda itu mulai jatuh berlutut tersegal. Terdengar mantra Hindu terlontar dari mulutnya.
Seberkas sinar terang muncul didepan kekkai berbentuk bintang itu. Terlihat sesosok gadis kecil berpakaian putih terbentuk diatas pentagram berbentuk bintang yang rumit.
--------
Kakashi, Chouji dan Yamato terlihat kaget dan ragu saat melihat sesosok gadis kecil seumuran anak SD ketakutan dan hampir menangis memandangi mereka sambil meremas sekaki tongkat berujung bintang.
Gadis kecil itupun menoleh kearah pemuda yang membuat kekkai berbentuk bintang itu dan terlihat mengenalnya.
“Gomene, Sakura.” Pemuda itu berujar lirih lalu roboh. Itachi memapahnya.
Subaru mengumpulkan segala tenaganya untuk memandangi Sakura dan berkata “be the master of the Clow cards.”
Sakura, gadis kecil itupun, mengangguk dengan sejumput air mata pada tepian matanya.
Dengan mengumpulkan keberanian, Sakura membalik tubuhnya dan memandangi Kakashi dan kawannya dengan seberani mungkin yang dia bisa.
Sakura mulai memutar-mutar tongkatnya dan membuat tubuhnya melayang diudara... Secarik pentagram bercahaya terbentuk dibawah kakinya....
Lalu begitu banyak kartu keluar dari kantungnya dan melayang-layang mengelilingi gadis itu.

