meww

meww
meww

Sabtu, 25 Desember 2010

Zero Hayate D'grayman

Lagu This is How We do iT… by Montell Jordan …..
http://www.youtube.com/watch?v=PVi8bJFIac8


Kata pembuka lagu “This is how… we do it…” menggema di kuping Allen… Lagu yang aneh dan berisik… Bersama Marie, Miranda, Leenale dan Kanda, dia memasuki ruangan yang riuh dengan suara lagu dentuman bass…. Dengan liukan pengunjung pub yang terlihat sedang menari ditengah temaram lampu laser kelap kelip… Baju2 mereka aneh... Mata Allen tertuju dengan excited melihat bentukan lampu laser warna warni di lantai yang berlari lari mengikuti dentuman lagu aneh yang dia dengar…
Dia berjalan menyusuri suatu lorong setelah dia memasuki pintu exit pub super mewah dan lengkap… bukan pub saja sebenarnya, pub itu hanya bagian dari suatu one stop entertainment yang super lengkap semegah hotel bintang 5.

----

Beberapa hari sebelumnya…
Setelah sampai dengan cepat di head quarter… home sweet home-nya… Allen dipanggil ke ruangan Komui…. Sesampai disana, wajah serius Komui - yang membuat dia curiga, menghiasi pemandangan matanya yang sudah mencapai 5 watt… Rasanya watt matanya tersetrum setelah dia merasa Kanda menyenggol dia dari belakang… Kanda yang terlihat babak belur juga…. Setruman pandangan tajam dari Kanda membuat rasa kantuknya menguap.

Suara Leenale yang lembut dan menyentuh bahunya membuat hati Allen sedikit bergirang.
Komui masih terlihat serius menerima telpon. Setelah gagang telpon diletakkan, dengan tampang super serius, Komui mengatakan kalau ada persekongkolan mengerikan antara pihak Earl dengan penjual senjata gelap/black dealer. Black dealer ini sudah beberapa kali melakukan pembelian Akuma dalam jumlah besar dan didistribusikan ke pihak-pihak yang berkonflik atau teroris.

Komui memaparkan kalau black dealer ini mencuci uang haramnya di beberapa pub dan one stop entertainment. Tapi Komui yakin pusatnya ada di One stop entertainment terbesar yang dinamakan L3ṡTÄt.
One stop entertainment yang isinya ada kasino, pub, restorant, hotel, bioskop, panggung opera, ballroom dan macam-macam. Ia ingin agar exorcist2 itu menyelidiki keberadaan stok akuma black dealer ini dan menghancurkannya.

----

Mereka berbaris menunggu di suatu ruangan…
Menunggu manajer tempat hiburan itu keluar….
Allen dan teman2nya iseng melihat kepada pelamar-pelamar lain.

Mata Leenale dan Miranda terlihat tidak bisa melepaskan pandangan pada seorang cowok super tampan♥ berambut keperakan tapi tampangnya sejutek Kanda.






















Allen melihat seorang cowok seumuran dia yang bishi berambut biru berdiri dengan gelisah di pojokan, sekilas menimbulkan rasa iba.




>>>















“Hah?! Ya ya, pak?” Allen terkaget kok dipanggil pertama kali.
“Kamu daftar jadi dealer di kasino?”






“Ya…. “


“Huah ada 2 pelamar nieh… kamu dan anak berambut biru itu… namae ?”
“Allen Walker..”
“Anak yang berdiri di pojokan…”
“Haik…”
“Sapa nama kamu?”
“Hayate….”
“Dengar sebenarnya kami cuma butuh 1 dealer lagi… jadi kalian berdua ke ruang sebelah… tunjukkan ke supervisor kasino kemampuan kalian… yang paling bagus, kami terima..”

---

“Kamu… yang badannya gede… kulit coklat!“

Marie pun menoleh kearah manajer itu…
“Ya.. namae ?”
“Marie.”
Sambil memandang juga seorang cowok berbadan kekar lain. “Marie dan kamu, kalian jadi penjaga di depan pub aja… tampang pengunjung yang harus kalian sortir untuk pub mewah ini selanjutnya akan diberitahukan kepala penjaga.”
“Lho, tapi saya melamar jadi cleaning service?” kata si gempal satunya. Marie pun memberikan surat lamaran untuk pekerjaan cleaning service juga.
“Alah… sudahlah… bagian penjaga depan kekurangan orang… kalian cocok… udah jangan banyak cerewet… gajinya lebih tinggi kok… (shoo shoo) siu siu… cepat sana pergi ke ruangan D301. Besar badannya lemot otaknya”



“Lalu kamu…”
Si manajer memandangi Leenale dan Miranda serta Kanda….

Lalu dengan nada sedikit genit…. “Ayo… beri Oom ini… sedikit kedipan genit…”
“Heh?” Leenale kaget, Miranda terlihat kaget syok sedang Kanda melotot kearah manajer itu.
“Mulai dari kamu…” Manajer ini memandangi dari atas ke bawah Leenale yang kebetulan pake rok pendek…
Leenale sukses melakukannya.

Giliran Miranda….
“Yaaa… kamu!” Manajer itu terlihat kecewa dan kaget dengan kostum Miranda
“Iiiiyyyaaaa….” Miranda gugup..
“Haduh haduh… kamu ini gimana…. Kamu melamar dari pelayan pub atau nanny? Emangnya sini mirip biara? Baju kamu kayak suster aja… “
Manajer itu menjentikkan jarinya ke pegawainya yang mengawal di pintu. “bawa dia.. suruh dia ganti kostum… biar bisa kelihatan jelas…”


“Kamu…” Manajer itu menunjuk Kanda…

a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiuWES3pLvDj5Ul_KiFWLa3k-bKBuXQNDqOQZ60WtRwAm9F0-Q46kv4rviNguc03xcYdqoG2lBpd5SUJUHurYEU1nQhZeJ06v47wv01s3DeQPxGeUmaBGRkidz6SbqoeIiHc6T9IXD7ZOE/s1600/yu+kanda+D.Gray-Man.359312.jpg">


“Kamu cantik wajahnya… tapi tampangmu itu… kamu ini gimana?! Melamar jadi penari strip tease kok tidak ada genitnya…. Body-mu juga kurang mendukung… kurang seksi….” Manajer berdiri dari kursinya lalu memutar-mutar tubuh Kanda.

Leenale dan Kanda sangat terkejut. Setelah tersadar, Leenale berusaha sekeras mungkin menahan tawa. Tidak boleh sampe ketawa karena dia, Allen, Kanda, Marie dan Miranda tidak boleh terlihat saling mengenal.


“Saya tidak melamar jadi penari!” Kanda marah dan melotot.
“Kamu garang juga ya… memangnya kamu melamar jadi apa? Penjaga pintu depan? Tampang kayak gini dan body kerempeng kayak kamu tidak bisa lah…”

Tampang Kanda tidak puas dan merasa terhina skill-nya.
Manajer itu jadi agak khawatir dengan tampang Kanda yang terlihat rada seram, diapun menjelaskan alasannya "Yaaa, bukan kemampuan yang penting sebagai penjaga depan, perawakan besar aja cukup. Kita tidak mau ribut dengan calon pengunjung. Kita hanya mau mereka yang aneh2 tidak masuk aja - keder sendiri lihat perawakan penjaga... is that understood?"
Kanda merasa ada benarnya.

“Gini aja, kamu dan anak itu!” Sambil menunjuk cowok tampan yang dari tadi dilihatin terus ama Leena dan Miranda. “Bertempur aja satu lawan satu. Yang menang dapet pekerjaannya.”

Kanda pun memandang awas cowok berambut perak di pojokan. Muka Leenale terlihat kemerahan setelah bisa memandang jelas wajah cowok super tampan itu dengan lebih jelas dan dekat. Tapi rasa malu Leenale hilang begitu melihat kesengitan gaya Kanda dan cowok itu. Ujung mugen Kanda udah pada batang leher cowok itu dan ujung pistol cowok itu sudah pada dahi Kanda. Cowok yang lebih tinggi dari Kanda. Kanda akan kesulitan.

“Owe owe…. Aku tahu kalian bersaing…tapi sengit sekali… jurus kalian menarik… Tapi kamu yang berambut putih, namae?”
“Zero..”
“Kamu kalau mengandalkan pistol gitu… tidak efektif lah… kamu bisa tempur tangan kosong?”
Beberapa detik setelah mendengar perkataan manajer itu. Leenale dapat melihat tubuh Kanda sudah terpental kearah pintu dan pistol Zero sudah tersarung.
“Sial, kuat sekali.. kekuatannya luar biasa untuk manusia… Jangan2 dia akuma?” Kanda berpikir. Kanda memandang kearah Leenale yang terlihat kaget dan khawatir. Kanda berdiri dan menyerang Zero. Tapi lagi-lagi dia merasakan kekuatan Zero jauh melebihi orang2 yang pernah dia ajak bertempur sebelumnya. Zero mencengkeram lehernya. Kanda tidak bisa berkutik setelah Zero mencengkeram lehernya dari samping dan menginjak mugennya dan menendangnya sampai tubuhnya membentur sudut meja.

“Etto….” Leenale berusaha melerai dengan mendekati Zero. Tiba-tiba handphone si Manajer berbunyi… Melihat wajah Leenale yang terlihat khawatir dan takut, Zero melepaskan genggamannya dan menendangnya sekali lagi sehingga membuat Kanda tidak berkutik untuk sementara.

“Apa?! Baka domo… sulit cari pegawai yang handal dimasa seperti ini..”
Dengan jengkel, si manajer berkata kepada Kanda dan Zero…
“Ya sudah, kalian berdua kuterima… kalian bertugas sebagai penjaga didalam bersama2…”
“Woi!???” Leenale kaget lalu melihat kearah Kanda yang terlihat jengkel yang mengelus lehernya yang sakit. Zero memandang cuek kearah Kanda lalu memandang kearah si manajer…


Si manajer terlihat jengkel sekali….
“Halah biarawati itu.. mana? Kok ndak muncul2… Rupert itu ngapain aja toh?!”
engan intercom, dia meneriaki Rupert. “Hey….Rupert… kerjamu lelet amat, suruh gadis ganti baju aja lelet..”
“Ini ini pak… gadis ini histeris sekali…. Dia tidak mau pake bajunya….”
“Pake baju gitu aja tidak mau…. Ya sudah… usir saja dia! Aneh aneh aja! Salah lamar kale dia!”
Leenale kaget sedang Kanda merengut, tanpa sadar, kalau Zero sedang memperhatikan mereka dengan curiga.

---

Sementara di ruangan sebelah, Allen dan Hayate menunggu supervisor kasino. Ada beberapa set kartu, chip, dadu dan sebuah roulette. Masuklah seorang wanita cantik dan seorang pria yang bergaya agak gemulai (lembeng) ke dalam ruangan itu. Wanita itu mengajak Allen dan Hayate bermain Black Jack. Allen dan Hayate terlihat berjuang untuk memenangkan permainan dengan cara apapun. “Huah, anak rambut biru ini… tidak jelek…” Allen berpikir: “Cepat juga dia mengganti kartu dan menghilangkan kartu asli. Sial dia sembunyikan dimana ya? Ayo Allen… lihat baik-baik…”
Belum kelar permainan, wanita yang terlihat angin-anginan itu meminta mereka berhenti.


“Lha.. sekarang lempar dadu… Dadu yang dimodifikasi… udah obsolot…. Saya ingin kalian lemparin dadu ini agar menunjukkan sesuai angka-angka yang saya sebut… dia yang paling banyak tepatnya…. Saya kontrak…”
Skor mereka sama sampe lemparan ke 6, masih ada masing2 4 lemparan lagi untuk mereka. “Sial… anak ini hebat juga…” Allen berpikir keras.. “Enaknya kucurangi aja ya?” Tapi ingatan Allen akan tampang anak itu sebelumnya yang berdiri dengan gelisah di pojokan, rasa ibapun muncul.


“Sebentar sebentar..” kata pria yang gemulai itu memotong pikiran Allen.
“Kamu, kelihatan cantik.. gadis penari di pub harus terlihat selalu fresh…harus sering gonta ganti…”
“Heh?” Allen terpaku dan Hayate terpaku lalu menunjukkan tampang melasnya teringat keusilan Nagi ojosanma yang sering menyuruhnya berpakaian cewek dan memfotonya….
“Suruh dia ganti baju… make up dia…” Pria gemulai itu menjentikkan jari

Lalu memutar suatu keping video…
“Lagu-lagunya…” sambil memilih-milih lagu di DVD karaoke di layar…
Setelah berselang 20 menit..



Hayate masuk…
“huah, cantik sekali…” Allen takjub memandanginya dengan ngeri.
>>>


“Dengar, nak.. saya bermaksud inovatif aja.. kamu kusewa sebagai dealer tapi kalau pub membutuhkan dancer… kamu akan dipekerjakan dengan system sewa per jam.☺”
“Ya?” Hayate semakin malu melihat ekspresi Allen dan wanita itu yang terkagum-kagum.
“Coba kamu tiru tarian di DVD ini… saya mau kamu beraksi menari dengan penuh perjiwaan..” Pria gemulai ini menjentikkan jarinya untuk menyadarkan Hayate yang agak bengong.
“A.. iya iya…” Hayate memandangi tayangan tarian di DVD itu dengan aura kekelaman di wajahnya.
http://www.youtube.com/watch?v=Dq4pOFayJag&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=EgNWykzqB2A&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=0Xf08XB3K8o
http://www.youtube.com/watch?v=I4a8DY7SiMU
http://www.youtube.com/watch?v=mtnix7W9NKY

“Bagus… bagus…. Kamu perfect…. “ Pria itu bertepuk tangan setelah Hayate dengan sukses menirukan gerakan tari dalam DVD. Allen diam terpaku tidak bisa berkomentar apa-apa. “Sugoi?!” Pikirannya buntu tidak tahu harus berpikiran apa.

----
Lenalee berjalan dengan riang menikmati ruangan pub yang sudah kosong pada pagi harinya…. “Huah… keren tempat ini…”
Matanya lalu menangkap 2 ekor makhluk jutek yang ‘cantik’ dan tampan berjalan berkeliling memeriksa seluruh ruangan. “Ano…” Lenalee mencoba menyapa mereka. Tapi sepertinya dia invisible bagi mereka. Kanda terlihat lebih emosional tidak suka dan curiga terhadap Zero. Zero terlihat lebih tenang.

----

Allen terus memandangi Hayate yang sekamar dengan dia dengan sedikit ngeri. Ingatan akan perubahan cuaca Hayate dari cowok yang membuat iba menjadi penari ‘cewek jejadian’ yang luar biasa terus menari dikepalanya.

Hayate tersenyum padanya berkata “ kamu mau tidur dimana? Dekat jendela atau dekat pintu?”
“Heh? Dekat de de dekat jenddeeela..” Allen gugup.

----

Sedang Kanda….
Saat malam tiba…
Zero masih saja absen dari kamar mereka. “Kemana makhluk mencurigakan itu?”
Kanda pun memutuskan untuk keluar kamar dan mencari Zero.

---

Lenalee…
Sepi nieh… seandainya Miranda keterima disini… tidak ada teman… pelayan lain sepertinya tidak begitu suka padanya karena manajer memberikan perhatian lebih untuknya.
“Aha ke kamar Allen aja… “ Lenalee bergegas.

---

“Kanda?” Lenalee kaget melihat Kanda berjalan seperti sedang patroli memeriksa sesuatu,
“Ngapain?”
“Nyari Zero… dia sangat mencurigakan. Aku curiga dia itu akuma…”
“Lho… kan ada Allen juga seruangan dengan dia waktu itu.. mata kiri Allen…”
“Yah… kamu jangan lupa insiden di pantinya Timothy…”
“Ah ya…” Lenalee bergegas membantu Kanda.

----

“Allen…” Lenalee kaget melihat Allen yang belum tidur.
“Aku lapar…. Haduh… gimana ya?” Allen mengeluh.
“Moyashi… “ Kanda memandanginya dengan tidak senang. Allen tidak memperdulikannya karena betul2 kelaparan.

Suara lembut dari belakang Allen mengagetkan mereka bertiga. “Allen… “
“Iyaaa..” Allen menoleh dengan ngeri mendengar suara lembut dibelakangnya.
“Aku dengar perut kamu sedang kabuto-an sejak tadi… Aku masakkan sup kentang sepanci untukmu..”
Kanda dan Lenalee yang sempat “cemas” memikirkan ukuran panci terlalu kecil menjadi kaget saat melihat ukuran panci begitu besar sampai sumber suara tidak terlihat lagi wajahnya… Sumber suara itu melanjutkan: “Maaf, di dapur pancinya tidak ada yang kecil.. kalau volume sup kentang tidak tepat…masakannya tidak enak…”

Tangis senang Allen tidak terbendung lagi.. Aroma lezat bau daun herb dari sup kentang itu menggaruk hidungnya. “Itadakimasu…” Allen menghabiskan sup sepanci dengan ukuran diameter 60cm itu dengan lahap. Kanda, Lenalee dan Hayate merasa ikutan kenyang takjub melihat Allen yang menghabiskan sup itu hanya dalam 5 menit. “Enak…. Seperti makan di resto mahal…” Allen mengelus perutnya.
---
“Kalian ngapain?” Allen baru tersadar dan menoleh ke Kanda dan Lenalee.
Lenalee menariknya ke pojokan dan membisikkan masalah kecurigaan Kanda terhadap Zero. Tanpa menyadari… kalau Hayate bisa membaca gerakan bibir Lenalee lalu terlihat takut sampai tidak sengaja menjatuhkan panci besar itu… Krompyaanggg….
“Kenapa?” Allen heran.
“Hehe hehe…. Ndak apa-apa… saya ke dapur dulu mengembalikan panci… mungkin tadi agak kecapaian menari… “ Hayate kabur.
“Menari?” Lenalee heran.. Menoleh kearah Allen…” Lho kalian kan diaudisi untuk jadi dealer kasino kan?”

“Hehehe… dia adalah dealer plus plus…” Allen enggan menceritakan kalau Hayate tadi sama cantiknya dengan Lenalee bahkan terlihat lebih menggoda dengan tariannya.

-----

Di dapur…
Hayate dengan agak takut mencuci panci super besar itu. Gelapnya dapur membuat bulu kuduknya berdiri. “Akuma itu apa ya?” Teringat pada gerakan bibir Lenalee.
Tiba-tiba Hayate melihat sekelebat bayangan saat dia meletakkan panci yang sudah bersih. “Hiiii…” Hayate-pun langsung membuka laci dan mengambil pisau, garpu, sendok sebanyak mungkin. Dengan bersiap, Hayate pun berjalan mundur dengan pelan menyalakan saklar lampu. Tapi yang dilihatnya……”A a a aaaaaa kuuumaaaa…..” Sambil melempar dengan keras mungkin dan terfokus seluruh garpu, pisau dan sendok kearah Zero, Hayatepun kabur. Zero berhasil mengeles lalu memandangi garpu, pisau bahkan sendok yang menancap erat di lemari dapur yang terbuat dari aluminium. Dia pun memutuskan mengejar Hayate.

Hayate lari terbirit2 dan melihat Allen yang masih terlihat mencari-cari bersama Kanda dan Lenalee. Diapun berlari secepat mungkin kearah Allen, lalu menggendong Lenalee di punggungnya dan menggandeng Kanda dan Allen berlari secepat mungkin.
Kanda membantingnya sampai Allen tertindih Lenalee dan Hayate. “Ada apa?!!”
“Akuuumaaa…..” Hayate menoleh dengan gugup saat melihat Zero sudah berdiri di belakangnya sambil bengong.
Kanda pun bersiap dengan mugennya. Allen menengahi. “Lebih baik bawa dia keluar dari bangunan ini dulu dan bawa ke tempat agak jauh… kalau dia akuma, mata kiriku pasti bereaksi.”
“Akuma?” Zero keheranan.
“Nanti sambil dijalan aja… Lenalee, tenangkan Hayate ya… ” Allen mengajak Kanda dan Zero pergi menyelinap keluar.
---
Sambil minum teh, Lenalee memuji Hayate. “Tadi hal yang manis untuk gadis yg sudah kamu lakukan. Menggendongku di punggungmu, tidak lari sendiri… Kamu ingat melindungiku padahal kamu ketakutan… ^ - o”
---
“Gimana? Mata kirimu sudah bereaksi belum?” Kanda tidak sabar.
“Jangan2, barrier Earl tidak terbatas suatu bangunan aja..”
Zero juga sudah mulai tidak sabar. Mereka sudah berjalan 10 km dari tempat asal. Allen tiba-tiba merasakan dinginnya ujung pistol Zero di pelipisnya. “Hei, kamu dengan tanda kutukan! Kamu ini apa? Semacam utusan iblis, penyembah setan atau apa?”
Tanpa babibu, Kanda langsung menyodokkan ujung pedangnya dari telinga Allen ke leher Zero.
Tiba-tiba mata kiri Allen bereaksi… Akuma…
Dalam beberapa detik, tembakan akuma sudah membabi buta di tanah. Allen meneriaki Zero. “Zero! Jangan sampai terkena tembakannya. Bersifat racun, nanti tubuhmu bisa hancur menjadi debu!”

Kanda sudah menyerang akuma itu. Sekali tebas… hancur…. Kanda langsung berhenti menyerang Zero. Mata kiri Allen ternyata berfungsi. Dia pun dengan cuek melenggang pergi kembali ke pub.
Allen protes. “Hei, setidaknya kamu hutang maaf ama dia.” Tapi setelah menoleh kearah Zero yang lebih tertarik untuk mengais2 sisa akuma. Allen sadar: Zero mungkin tidak perduli dengan tuduhan Kanda.

----

“Hoi, Hayate… kenapa aku tidak lihat kamu di ruangan kasino tadi? Hari ini, aku sukses banyak.. :)” Allen riang sambil makan kue bikinan Hayate. Hayate juga heran kenapa setelah merasa begitu capek dengan kegiatan sebelumnya dia masih bikin kue dan teh untuk Allen. Mungkin kebiasaannya di rumah Sanzenin tidak bisa hilang. Hatinya merasa sedih teringat Nagi ojosanma yang hilang dan dia pun mencari jejak Nagi sampe sini.

“Lusa… aku ada show di pub…” Hayate berkata dengan nada melankolis.
“Nari?” Allen teringat kehebatan Hayate waktu menari waktu lalu. “Iya…” Hayate berkata dengan lesu. “Kenapa sedih? Kamu tidak suka menari?”
“Bukan.. tapi setelahnya itu lho, dengar2 harus mau melayani tamu.”
“Maksudnya?”
“Yah, yang itu… melayani yg itu…”
“Heee? Melayani yang itu apa maksudmu?”
“Tamunya nanti marah tidak ya kalau tahu aku ini cowok?”
“Uhuk uhuk uhuk.” Allenpun tersedak teh. “Wah, kamu udah nanya belum ama bos?”
“belum…. Saya kembalikan piringnya dan cangkirnya ke dapur dulu ya…”
“Biar aku sendiri aja.. ya.. kamu terlihat capek.”

----
----

Esoknya..
Hayate menyusuri lorong menuju tempat dia berlatih menari. Dia melihat ada ‘perhelatan besar’ dengan bergerombolnya penari2 pub. “Sugoi…. Itu Nana-chan, hebat sekali dia… iya.. wah dengar2 dia mau melatih lho… wah… asyik sekali kalau bisa dilatih Nana-chan…”
Hayate-pun berdiri memandangi gerombolan itu. Kaget sekali rasanya setelah tiba-tiba seseorang menggandeng tangannya. “Ayo sini, say.”

“Hee?”
“Nana-chan…. Kamu semakin cantik dan luar biasa…”
“Uumm…. Georgie… Georgie… Miss ya… Muach muach”
Hayate: “Huek” melihat pemandangan aneh itu.
“Ini anaknya… “ Nana-chan mengangkat dagu Hayate.. “Huah, kamu manis sekali… mirip Barbie.…”
“Lalu konsep nya gimana Georgie sayang…”
“Ini lho say… aku rencana… anak ini muncul dari atas…. Lalu dia nari di podium atas… lalu ganti lagu… dia turun kebawah turun kedalam cage/sangkar………setelah nari sebentar disana… tutup cage-nya dengan tabir, buka tabirnya tapi dia menghilang dari cage… lalu muncul di panggung dengan asap .. ganti lagu dan menari lagi dengan beberapa background dancers… gimana konsep eke, darling?”
“Keren keren keren… aku suka… tapi aku mau lihat dulu dia… Hii, aku suka wajahnya.. innocent banget… “ Nana-chan sambil terus memegangi wajah Hayate yang semerah tomat.

---

“Madam…” Hayate dengan gugup ingin bertanya sesuatu pada Nana-chan sesudah latihan berat.
“Aduuh… say… jangan panggil, madam… panggil Nana aja ya… hii, imutnya kamu ini… guci guci guci gu…” sambil mencubit hidung Hayate.
“E… aku kan cowok… tapi nanti jadi penari cewek… apa pengunjung tidak marah nanti kalau aku ini bukan cewek?”
“hohoho… urusan itu…. Serahkan pada Georgie…. Kamu sementara ini focus nari aja…”
“Baik…. “
“Kamu ini polos ya… kok takut pengunjungnya marah sieh? Pengunjungnya ada macam-macam selera… mereka tidak akan peduli lah… apalagi kalau ntar ada diskon atau reward gitu…” Nana mencubit hidung Hayate lagi….

----

Kanda memandangi tajam teman jaganya di depan suatu ruangan. Biar pun tahu Zero bukan akuma, tapi ada yang aneh dan mencurigakan dari Zero. Zero terlihat tidak senang dengan pelototan Kanda. Tiba-tiba tingkah Zero berubah. Dia seperti gelisah. “Hoi, Kanda, jangan pergi dari sini. Ruangan ini harus ada penjaganya.. aku pergi dulu!”

Kanda pun mengikuti Zero.

----

Tiba-tiba ada 'serbuan dari CID" ke ruangan yang seharusnya dijaga Zero dan Kanda. Leenale yang kebetulan lewat, merasa gerombolan yang mengendap-endap ke ruangan itu terlalu mencurigakan. Dia pun celingukan bingung mencari Kanda. "mana dia?"

Ada yang masuk...
"astaga penjaga ring luar yang kaget.."
Lenalee pun segera mencegat penjaga itu dan bilang ada orang lain yang dikejar Zero dan Kanda sedang gerombolan ini tiba-tiba masuk.

------

Sedang Kanda mengikuti Zero yang bergerak sangat cepat. "Dia ini manusia atau bukan? Cepat sekali!"

Dia melihat Zero melompati dinding tinggi. Diapun melompati dinding itu. Tapi apa yang dilihatnya dibalik dinding itu, agak berbeda dari yang biasa dia lihat selama menjadi exorcist. Sekumpulan manusia buas yang seperti sakit rabies berliur terus dengan mata kemerahan yang ganas yang berlarian cepat menyerang Zero. Dengan mugennya, Kandapun melukai salah satu dari mereka. Tapi.... sepertinya luka itu tidak membuat mereka tidak berdaya, mereka tambah menggila menyerang dia. Gigi jelek makhluk2 ini membuat Kanda sedikit kaget dan membeku sekejap. Sampai tiba-tiba dooor! door doorr! makhluk yang melompat kearahnya hancur berkeping-keping menjadi serpihan pasir. Uhuk uhuk uhuk...

Tiba-tiba Kanda merasa kuncir rambutnya ditarik dengan kasar ke bawah. Kupingnya pun mendengar teriakan Zero yang menjengkelkan "Hey! Kan sudah kubilang! Kamu jaga pintu itu!"
Kanda pun menyodok Zero dengan pedangnya dan menggores pundaknya dengan mugen setelah mengaktifkan innocencenya. Zero yang tergerus innocence Kanda merasa seperti dibakar.

Zero pun membanting Kanda ke tanah dan dia menggeliat kesakitan. Kanda yang tergeletak dibawah tidak memperhatikan warna mata Zero yang kemerahan menyala untuk beberapa detik.

Kanda pun berdiri dan berlari hendak menghajar Zero. Zero dengan cepat meladeni jurusnya. Tatapan mata mereka bertabrakan dan berjuta-juta volt listrik dihasilkan dari perpindahan bermilyar2 elektron dari kedua pasang mata itu.
Aktivitas ini terhenti mendadak sejenak setelah mereka merasakan dikepal telapak tangan besar memegang kepala mereka dan menghantamkan dahi mereka.

Kanda sambil memegangi dahinya yang sakit langsung menoleh protes ke wajah pemilik tangan itu. "Marie! Beraninya!"
Marie memandangi kedua makhluk yang lagi berwajah jutek protes ke dia. Rasa amarahnya tiba-tiba muncul saat memorinya mengingat ucapan permintaan tolong Lenalee di golem. "Hey, nona cantik itu, Miss Lee, minta agar aku mencari kalian... kalian meninggalkan pos, nona itu kepayahan sendiri demi kalian yang payah ini!"
Dengan tangan besarnya Marie mendorong mereka berdua agar masuk kedalam. "Sial!" Kanda dan Zero berlari.

Kanda dan Zero bisa melihat Lenalee dan beberapa orang penjaga bagian dalam sedang bersembunyi.
"Hii... peralatan mereka canggih sekali!"

"Kanda!" Lenalee kaget. "Z z zero.." Muka Lenalee memerah.
"Hey, kalian.. kalian pernah lihat senjata api seperti itu tidak?" salah seorang berbisik kearah Zero dan Kanda.
Zero dan Kanda melihat senjata yang dimaksud. Asing. Bentuknya kokoh, Popornya sangat besar, beratnya mungkin sampai 25 kg, mereka dapat melihat cahaya kemerahan dari senjata itu dan topeng gerombolan penginvasi itu yang aneh.
Mereka dapat melihat gerombolan itu mengkode salah satu dengan yang lain --- sepertinya mereka akan turun ke bawah tempat mereka bersembunyi.

---

Tapi sesosok orang muncul dari kegelapan dibelakang gerombolan itu...
"Siapa dia?"
Penjaga yang lebih senior dengan gemetaran bilang: " Itu penjaga ring nol. Mereka mengerikan!"
"Mengerikan?" Lenalee tanpa sadar menggigiti jarinya.
Sesaat setelah mendengar perkataan itu, tiba-tiba gerombolan itu menggeliat kesakitan dan kepala mereka tiba-tiba terputar sendiri kearah belakang dengan bunyi leher putus... "Kreeek"

---

Sesosok sangat flamboyan berambut keperakan sangat anggun dibawah temaram cahaya lembut pub memandangi kumpulan Lenalee dengan pandangan mata yang sangat lembut.
"Konbawa."




Penjaga lain bergidik ngeri "Hiii.."
Dengan gemetaran Lenalee berdiri dan berucap terimakasih.. Tapi mata Lenalee menangkap mata penjaga ring 0 ini memandangi salah seorang dari mereka dengan tatapan yang mengerikan.
"Angels n Demons are fighting... Why should I see such a abomonition like this here now... when I am falling in such a bad mood?"
Zero merasa tersedak. Dia sulit bernafas. Tangannya gemetaran mencoba mengarahkan pistolnya tetapi sepertinya dia tidak bisa bergerak.

Lenalee mencoba membantu Zero. Dia memandangi penjaga ring nol ini dengan kekerasan hatinya untuk melindungi. Suara dari intercom, hampir membuat jantungnya melompat keluar: " Ok.. semua penjaga ring nol dan ring satu harap kumpul di ruangan security sekarang. Penjaga ring lain, harap melakukan patroli." Penjaga ring nol ini pun langsung beranjak dengan cuek.

----

Kanda dan Lenalee berpandangan satu sama lain saat berkeliling bersama Zero.
"Dia Noah?" Lenalee mengeluarkan unek2nya
Zero memandangi mereka meminta penjelasan.
"Rasanya bukan. Dia pasti udah kenal kita. Kayaknya dia tidak kenal tuh."
"Zero, kamu yang tadi diserang dia kan? Emang dia apa mu?"
"Ndak kenal!" Zero menyahut ketus pertanyaan Kanda. Tapi hati Zero dengan gelisah memikirkan sosok itu. Jelas bukan vampir, tapi sangat kuat. Akuma? Kayaknya rate kekuatan jauh diatas Akuma yang pernah dia lihat.
Zero pun menoleh ke arah Kanda yang terlihat jutek tidak bersahabat. Dia pun bertanya pada Lenalee. " Miss Lee?"
"Ya?" Lenalee gugup mukanya kemerahan.
"Akuma.... apa ada tingkatan lain?"
"Akuma? Ada... yang kamu lihat dulu sama Allen dan Kanda itu tingkat 1. Yang tertinggi yang pernah kami lihat tingkat 4, tapi kalau kamu mau minta pendapat saya apa penjaga ring nol itu akuma, saya rasa bukan."

----

Hari show Hayate...

Allen senang bisa libur kerja dan memberikan dukungan pada Hayate pada tugas pertamanya menjadi penari.
Teriakan seorang gadis "I'm not a girl, not yet a woman...."
Mengagetkannya.
Itu Hayate.
Sesanyup terdengar lagu yang aneh yang pernah didengarnya sebelumnya.
http://www.youtube.com/watch?v=I4a8DY7SiMU&feature=related
Huah Hayate menari dengan menyakinkan... Takkan ada yang tahu dia itu sebenarnya cowok.

Saat dalam sangkar, lagupun berubah...
http://www.youtube.com/watch?v=YNSxNsr4wmA
Tiba-tiba sangkar ditutup dan setelah covernya dibuka Hayate menghilang. Muncul asap di panggung dan Hayate muncul dengan pakaian yang berbeda.

Tiba-tiba terdengar suara MC meminta beberapa pengunjung untuk melemparkan kacang ke salah satu drum tabuh yang ada di panggung. Pakaian Hayate dengan pakaian tradisional RRC membuatnya terlihat semakin anggun. Tapi mau ngapain ya?

http://www.youtube.com/watch?v=UN5-k0Pvk6E&feature=related

Allen semakin kagum dengan kemampuan Hayate melakukan tarian tradisional unik. Tarian yang melelahkan pastinya.


------

Allen menunggui Hayate keluar dari ruangan rias. Dia melihat beberapa orang pria mengirimkan serangkaian bunga, ada juga yang kirim boneka, lingerine kepada Hayate, astaga...

Hayate keluar menggendong boneka teddy besar yang lucu.
Sambil tersenyum. "Kasih ke Lenalee aja." Sambil menyodorkan boneka itu ke Allen.

------

My Roommate is a vampire...

Malam ke 15, Zero dan Kanda berpatroli malam. Ada kiriman besar ke club malam ini. Mereka diperintahkan untuk menjaga perimeter ke 11.

Tak dinyana mereka bertemu dengan penjaga ring nol aneh. Tanpa babibu, penjaga itu, langsung menusukkan sebilah pisau chopper ke batang leher Zero. Darahpun mengucur deras. Sembari ketawa kecil, penjaga itupun beranjak dengan puas

Jumat, 24 Desember 2010

Enaknya judulnya apa?

Dalam suatu rumah besar…
Hidupnya seorang jenderal besar. General Li Shang Shun. The north general. Especially ‘taken care of’ the savage, brave and unmerciful Mongolian from the North.
He has 2 sons. The oldest was a successful commander of platoon, Li Zhen Ming. His youngest called Li Zhen Cai. Zhen Cai is still very young, only thirteen, but a bad thing happened to him. His father and whole family accused him to have betray his family, he was accused to have sold the family stamp to the enemy and according to jia fa (the law of the family), he must be banned to far west without any precious things he could use.
Zhen Cai merasa tidak terima. Dia bersumpah dihadapan keluarganya kalau bukan dia yang mencurinya. Bahkan dia tidak mengenal penadahnya.
Zhen Cai pun pergi dari rumah tanpa sepeser uangpun hanya pinjam baju pelayan rumahnya. Dia menyamar jadi seorang anak perempuan dan menyusup sebagai pelayan di suatu rumah yang dia curigai ada hubungannya dengan penadah. Rumah seorang menteri yang benci pada ayahnya. Menteri yang ternyata doyan daun muda ini melihat wajah Zhen Cai sangat elok. “Nanti kalau kamu udah berumur 16 tahun, kamu jadi istriku ya..”
“Yay…” Zhen Cai tercekat. Dia tersenyum meringis sambil menaruh teh dan dian xin (kue) di meja. Dengan tetap berusaha tenang, Zhen Cai berusaha meneruskan penyelidikan.
Suatu malam, dia melihat pak Menteri dengan tergesa menuju ruangannya. Seorang berjubah hitam muncul dari kegelapan pojok ruangan setelah menteri masuk. Dia memberikan kertas dan dibaca menteri lalu setelah dibaca dengan wajah tegang, dibakarlah kertas itu oleh menteri itu lalu membuang kertas itu di semacam tong sampah. Menteri itu lalu keluar dari ruangannya.
Zhen Cai langsung masuk ke dalam ruangan itu begitu dia melihat bayangan hitam orang berjubah hitam itu pergi menghilang di balik kegelapan malam. Dengan hati2 dia mengamati sisa abu kertas itu dan berusaha membaca bentukan gambar tulisan yang punya warna abu sedikit berbeda dengan kertas. Nama sebuah tempat dan waktu.
Zhen Cai pun menyelinap dengan cepat keluar rumah itu dan berlari menuju rumahnya dan menancapkan pesan dengan sebilah pisau yang dia lontarkan dari atap rumah ke daun pintu kamar ayahnya.
Ayahnya terbangun dan mengambil pedangnya lalu dengan hati2 membuka pintu dan menemukan pesan.
Tulisan Zhen Cai yang dikenalnya. Diremasnya kertas itu dan dibuang di pojokan.
--
Esok malamnya, jenderal Li tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan note itu. Dia pun menghubungi anak buah kepercayaannya dan memobilisasi beberapa dari mereka yang tangguh. Bersama anak tertuanya, dia menuju ke tempat dalam note Zhen Cai.
Alangkah terkejutnya si jenderal melihat begitu banyak pao zhu (barang berharga) dari rumahnya yang dipakai tempat itu seperti Ling Bai (papan tanda pengenal) keluarganya yang pernah hilang. “Ada apa ini?”
----
Tiba-tiba kelompok jenderal ini dikepung banyak tentara. Dengan pongah, si menteri keluar, “Li jiang zhuin, tertangkap basah kau! Kaulah yang selama ini menjual barang2 berharga di istana!” Menteri itu menunjuk.
“Hei! Ada apa ini? Apa.. apa Zhen Cai mengkhianatiku?” hatinya marah dan sedih.
----
Zhen Cai dengan gemeretak menunggu di persembunyiannya. Dia menanti sesuatu…
----
Tapi keadaan disana sudah begitu kacau, Zhen Cai mau tak mau keluar untuk membela ayahnya. Dia pun menohok menteri dengan perkataannya kalau menteri ada terima suap dari pihak Korea agar upeti yang harus diserahkan kepada kaisar lebih sedikit. Tapi dia tidak punya bukti kuat.
Ayahnya yang sangat marah sudah tidak bisa mendengar perkataan Zhen Cai lagi dengan sekeras mungkin, jenderal Li memukul Zhen Cai dengan kung funya sehingga Zhen Cai terdorong dekat bibir teping dan sebelum jatuh, Zhen Cai berkata “Fu jin, deng ke jiao pa…” Dengan wajah tenang, Zhen Cai terjatuh dari tebing. Tangis dan kemarahan jenderal Li jadi satu memandangi Zhen Cai yang terjatuh ke jurang.
----
Jenderal Li dan kelompok kecilnya dibawa ke hadapan raja. Sejenak menteri diatas angin dengan penuh keyakinan membeberkan bukti. Tapi… datanglah pengawal raja… setelah berbisik sesuatu, si pengawal pun pergi.
“Menteri… zhen… wen ni… Rumahmu itu yang di pojok kota kan?”
“Ya…. Raja..” Menteri itu dengan sedikit berbungkuk.
“Kenapa dari rumahmu ada jalan rahasia ke suatu gudang beras di kota yang isinya banyak sekali barang berharga milik kerajaan?”
“Itu itu….. “ Menteri itu sangat terkejut.
“Lalu… sepatu dan baju kamu ada tersangkut sisa-sisa jerami dan suatu hal yang istimewa dari dalam gudang itu… yakni bekas kulit telur sisa tetasan anak burung seriti yang hanya mau bersarang di gudang beras itu.”
“Raja… yen wang yen wang….” Menteri itu berteriak berkeras dia sudah difitnah.
Raja pun memerintahkan agar papan belenggu dilepaskan dari jenderal. Raja pun berkata “Aku sangat ingin ketemu anakmu, Zhen Cai… tapi sayang… tanpa dia, kasus pencurian ini tidak akan terbongkar….”
Jenderal terduduk berlinang air mata dengan lemas tersadar dia sudah salah menuduh anaknya yang kencur itu. Bayangan wajah Zhen Cai sebelum terjatuh dari tebing selalu menghantui ingatannya.
----
“Hei… ada sosok mayat… itu hanyut…”
“Iya… ayo…angkat dia…”
“Eit.. dia masih hidup… huah… dijual saja jadi budak… walau kecil, dia kelihatan tegap.”
----
“Berapa harga anak ini?”
“Jual dia jadi budak biasa, bisa rugi kamu. Anak ini kelihatan bagus… Jual aja jadi kasim… harganya pasti lebih tinggi.”
“HUah ada intrik lagi dalam kerajaan sampai beli kasim segala..”
“Yah dengar2 banyak kasim yang mati…”
---
Seorang kasim berjalan cepat. “Tugasmu membersihkan gudang ini tiap hari. Teh hangat harus terus tersedia di meja itu. Jangan lelet. Ayo kerja! Tolah toleh aja! Cieh..” dengan berlenggang sedikit gemulai kasim itu pergi. “Oh ya..” Kasim itu berhenti… “Ingat ya… nama kamu sekarang adalah Xiao Gui Zi.”
---
Keseharian Xiao Gui Zi…
Dia membersihkan gudang itu. Kasim yang paling muda di istana itu. Kadang dia melihat seorang kasim tua dengan baju yang jauh lebih mewah memasuki gudang yang dia bersihkan dan berlatih jurus2 kungfu tapi dia tidak tertarik untuk melihat kungfu itu. Dia lebih ingin ingat siapa dia? Kenapa tiba-tiba dia harus jadi kasim?
Suatu hari…
Dia melihat bayangan berkelebat cepat dan terjun dengan cepat kearah gudang dimana kasim tua itu masih berlatih.


http://www.jiawen.net/Chinesenames.html
http://www.mandarintools.com/chinesename.html

Selasa, 09 Maret 2010

My Plagiarism?


Penerimaan hasil ulangan….

Dengan wajah tertunduk susah, Pak Guru memandangi nilai ulangan murid-muridnya yang menyedihkan. Dengan gontai, Pak Iruhi berjalan menyusuri bangku membagikan hasil ulangan.

Dia memandangi Shikamaru lama, lalu memberikan hasil ulangan. Lalu dengan senyuman kecut, dia berjalan ke arah depan. “Haih haih…. Membuat kalian duduk didepan pun tidak membuat nilai kalian membaik.” Ujarnya kepada Kiba dan Naruto sambil geleng-geleng kepala.

Sebelum mengakhiri kelasnya, Iruhi menyuruh Shikamaru, Naruto dan Kiba menghadap guru BP, Kakashi.

-------

“Nilai kalian di kelas pak Iruhi, jeblok melulu. Terutama kau, Shikamaru, kenapa 3 kali berturut-turut nilai Mekanika-mu jeblok terus? Padahal untuk ke-3 materi sebelumnya yang lebih susah, nilaimu bagus.

Shikamaru dengan cuek memandangi Kakashi sambil mengangkat bahu sedikit.

Begini, kalian diharuskan untuk ikut tutoring tambahan dengan anak-anak dari kelas A. Sayang sekali Akagi tidak bisa membantu kalian sekarang, dia sibuk menyiapkan ujian akhir dan masuk perguruan tinggi.

Hati Naruto dan Kiba gembira bukan kepalang. Teringat mimpi buruk bersama Akagi, Gori-chan yang super keras dan mendorong mereka sampai ke batas kesabaran. Kalau mereka melawan, siswa bertubuh king kong yang wajahnya super menakutkan. ini akan menghajar mereka.

“Lah, pilihan kalian tinggal 2 orang siswa dari kelas A ini… hmmm…. Neiji dan Sasuke….”

Naruto langsung mendengungkan ketidaksukaan saat mendengar nama mereka: “Dasar, yang satu Banci Kejam, yang satu Playboy kelas Tomat sayur…..”

“Hah, Shikamaru dan Kiba, kalian pilih mana?”

“Lho, Bapak kok tidak nanya saya?” Naruto protes.

Kakashi tersenyum. “Lha, kamu ama dua-duanya tidak mau….”

“Grrrrr…”

Kiba memilih Neji. Shikamaru memilih Sasuke. “Kayaknya, dia tidak secerewet yang satunya…..”

Kakashi segera menelpon hape Neiji.

“Heee… kamu tidak terima murid cowok? Kenapa?”

“Oooooo…. Kejadian itu….”

“Wah, Kiba, kayaknya kamu harus ikutan kelas Sasuke. Rupanya Neiji belum melupakan kejadian dengan salah satu tutee-nya yang tatanan rambutnya mirip batok kelapa itu. Murid itu terlalu antusias.”

------

Sore itu dalam kelas tutoring….

Naruto dan Kiba dengan malas menduduki bangku yang sudah tersedia. Shikamaru belum datang. Tiba-tiba suara ketokan nan lembut di pintu menarik perhatian mereka, masuklah seorang siswa yang sangat manis.

“Kenalkan nama saya Hayate, mohon petunjuk.” Sambil membungkuk.

Naruto dengan antusias bertanya:

“Wow, kamu murid kelas mana?”

“Kelas B.”

“Sini duduk disamping ku.”

“Terimakasih.”

Tiba-tiba Sasuke masuk dengan cepat. Dengan cepat, dia membagikan kertas berisi soal-soal dan menyuruh mereka mengerjakannya. Dia duduk di bangku lain yang agak jauh dengan tuteenya sibuk mengerjakan PRnya sendiri.

Mata Naruto langsung berkunang-kunang melihat segudang soal itu. Kiba garuk-garuk. Sedang Hayate berusaha mengerjakan.

Naruto semakin jengkel melihat Sasuke yang terlihat cuek mengerjakan soal. Dia berdiri dari bangkunya dan berjalan kearahnya.

“Hei! Aku tidak bisa mengerjakan satu soal pun! Ini memang betul soal tentang Mekanika?!!!!”

Sasuke memandangi Naruto dari balik kacamatanya. “Betul, itu bahkan soal dasar tinggal masuk rumus yang jelas2 sudah diajarkan di kelasmu. Buka buku teks-mu.”

“Grrrr…..”

Shikamaru yang datang terlambat, langsung menyelonong dan berdiri didepan Sasuke meminta soal.

“Hei, kalau soal ini sudah selesai kukerjakan, tutoringnya selesai?”

Sasuke mengernyit, “Ya, tapi kalau betul semua.”

Shikamaru dengan sigap duduk dibelakang Sasuke dan mengerjakannya dengan cepat.

--------

5 menit kemudian….

“Ini sudah…..” Shikamaru menyodorkan ke Sasuke yang keheranan.

Sasuke sangat terkejut saat melihat jawaban Shikamaru yang betul semua tanpa melihat buku teks.

“Hei, tolong bilang kalau aku ikut tutoring pulangnya ama anak –anak ini.” Ujar Shikamaru sambil nunjuk-nunjuk Naruto, Kiba dan Hayate setelah itu, dia pun kabur,

Sasuke mengangguk keheranan.

----------

3 jam kemudian…..

Sasuke berhenti membaca setelah selesai membuat tugas-tugasnya. Dia menutup buku dan mulai mengelilingi tutee-nya.

Naruto…. Wajah Sasuke memerah padam menahan tawa. “Apa?!” Naruto memandangi Sasuke dengan muka kemerahan.

Kiba….. “Yah.. lumayan ada yang benar beberapa soal.”

Hayate…. “ yang tinggal masuk rumus, betul semua tapi yang lainnya, lebih banyak salahnya.

-----------

Sasuke memutuskan untuk memberikan petunjuk kepada Kiba dulu. “Oh iya ya….” Kiba menggaruk kepalanya dengan bolpen.

Lalu menuju Hayate. Sasuke memberikan petunjuk, tapi Hayate masih bingung. “Maaf, saya membolos untuk materi itu saat sekolah di tempat dulu.” Ujarnya sambil tersenyum manis.

Sasuke lalu menuliskan beberapa buku materi yang harus dibaca Hayate…..

Melihat list-nya, “Ini pembantaian….” Ujarnya menderita dalam hati.

Untuk Naruto….

Sasuke terpaksa menuliskan rumus dan menyuruh Naruto menuliskan satu persatu angka-angka dalam soal yang bersesuaian dengan abjad rumus.

t = waktu =

Vo = kecepatan awal =

v = percepatan =

--------

“Fuih, akhirnya pulang…. Aku lapar…”

Naruto memandangi jam di dinding koridor sekolah.

“Hei, Hayate, kenapa kelihatan susah?”

“Huhuhu….aku harus membaca buku sebegini banyak…. Hiks”

Tangan Naruto gemetaran saat membaca list buku yang harus dilahap Hayate. “Ini… ini…. Betul-betul keterlaluan….”

“Lho itu kan Shikamaru?” Kiba menunjuk pada sesosok anak yang duduk ditangga sekolah.

“Kok belum pulang? Ngapain?”

Shikamaru terlihat kaget dan berusaha menyembunyikan sekarung barang.

Kiba menarik dengan paksa karung itu. “Apa ini? Ngapain kamu ngumpulin kaleng bekas?” Sedang Naruto tertawa terbahak-bahak, sedang Hayate terharu, “ Nanti kalau Nona mengijinkan, saya akan membantumu mengumpulkan kaleng bekas demi kebersihan sekolah ini.”

“Cerewet! Ini urusanku.” Shikamaru dengan cepat mengangkat karung berisi kaleng bekas itu.

“Pulang sama-sama, yuk… arah jalan pulang kita kan sama…..” Naruto mengajak teman2nya

“Ya, jelas sama…. Karena kita satu asrama..” Kiba menggerutu keheranan

“Lho, Hayate.. kamu tinggal dimana?”

“Pulang ke rumah majikan….”

“Majikanmu baik?”

“Baik dan sangat manis….”

“Wah cewek donk…”

“Ya…. Seorang ojosanma yang berhati mulia….”

“Hore… kapan-kapan kenalin donk ke kita-kita…” Naruto menodong Hayate.

“I… i…. ya…..” Hayate memegangi kepalanya. Hayate-pun segera pamit, begitu ada lampu terang dari mobil yang menjemputnya.

-------

“Hei…. Lihat asrama lama itu…. Pintu pagarnya terbuka… lumayan buat hang out….” Kiba memandangi pintu pagar besi yang hampir roboh.

“Tapi katanya seram disitu….” Naruto bergidik melihat bangunan rusak itu,

“Pengecut…..”Kiba mengejeknya. “Pokoknya nanti malam kita ke sana lihat lihat.”

-------

Kiba dan Naruto mulai memasuki ruangan hall di asrama kuno itu. Bau sarang laba-laba dan debu menyengat hidung mereka. “Uhuk uhuk uhuk….”

Mereka mulai menyusuri tangga naik. Naruto ke kiri dan Kiba ke kanan. Naruto mulai menyusuri tangga ke lantai dua. Dia membuka pintu kamar di lantai 2 satu persatu.

Suara deruan angin dari palang-palang kayu yang menutup jendela membuat hati Naruto bergidik. Angin dingin yang menyeruak dari dalam ruangan apek itu mulai menusuk dagingnya yang sudah tertutup jaket tebal. Decitan pintu membuat hatinya ciut. Naruto pun memasuki ruangan itu.

Angin yang membuat sebongkah kursi goyang berdecit bergerak-gerak membuat Naruto hampir saja melompat keluar jendela. Narutopun segera berlari keluar kamar.

Hatinya memutuskan untuk mengajak Kiba pulang ke asrama mereka.

Tapi alangkah terkejutnya Naruto saat melihat ujung koridor diluar kamar itu…

--------

Dia sangat terkejut dengan keberadaan cermin di ujung koridor yang dia yakin tadi tidak ada disitu. Naruto terus memandangi cermin itu dengan keheranan. Diapun mendekati cermin itu. Dia menyentuh dan mengelus cermin itu sambil berjongkok. “Ada yang aneh? Tapi apa ya?” Pikirnya.

Naruto pun berdiri. Dia pun berjalan menjauhi cermin itu. Tiba-tiba, ingatan akan pertarungannya dengan Gaara + Shukaku membuatnya tercekat. Dia memandangi telapak tangannya. “Tidak ada debu?!”

Naruto-pun membalik tubuhnya dengan cepat memandangi cermin itu.

Mulutnya ternganga saat dia memandang apa yang ada didalam cermin…

--------

Naruto didalam cermin, berdiri diam kaku memandangi dia dari dalam cermin. Disampingnya ada seorang gadis.

Naruto dengan cepat menoleh kekirinya. Tidak ada orang, Naruto melihat cermin lagi, tidak ada gadis itu lagi dalam cermin. Tiba-tiba, seluruh dinding koridor yang ada dalam bayangan cermin menghitam dan keluar tulisan-tulisan aneh merah menyala seperti bara.

Begitu banyak suara-suara seperti membaca mantra dan membuat Naruto pusing dan pingsan.

------

Suara teriakan Shikamaru memarahi Kiba membuat Naruto bangun.

“Baka! sudah tahu dia penakut, ngajak dia ke tempat begitu!”

Naruto pun membuka matanya dan duduk. “Aduuuh…” sambil memegangi kepalanya.

Kiba meneriakinya “Dasar bodoh, kenapa tidak panggil aku aja dari lantai 2.”

“Eeee…..” Naruto coba menyadarkan dirinya. Dengan sedikit terseok, Naruto berjalan ke asrama. Bayangan gadis yang berdiri bersamanya didalam cermin terus terbayang. Dia terus memikirkan kenapa gadis itu menunduk sambil terus menyentuhkan ujung jari telunjuk tangan-tangannya.

-------

Dalam kamar asrama berisi 4 orang. Ranjang susun 2 menghiasi kamar itu berikut dengan 2 meja belajar dan 4 kursi.

Saat akan tidur,

Kiba dengan tiba-tiba menggelantung dari ranjang bagian atas dan “Boooooo…” berusaha membuat kaget Shikamaru yang tidur di bawahnya. Tapi Shikamaru terlihat melamun dan sama sekali tidak kaget. Reaksi Shikamaru membuat punggungnya seketika terasa tertarik. “Au au….”

“Ngapain sih ngumpulin kaleng bekas?” Kiba penasaran.

“Kamu lihat pertandingan Neiji?”

“Iya….”

“Aku jadi ingin tahu bagaimana bentuk pusaran Neiji yang sebenarnya.”

“Heee? Buat apa?”

“Ya… penasaran aja….”

“Ooopps… kamu mau membantu Temari yang akan melawan Neiji bulan depan kan? Hiii…. Apa yang kamu lihat dari dia? Dia seperti Freak on the Flesh….”

Shikamaru merengut tidak suka. Dia lalu mengalihkan pandangan kepada Naruto yang sudah tidur pulas sambil terus mengigau.

“Lho…. Kemana lagi anak itu?” Shikamaru melihat ranjang atas Naruto.

--------

Tutoring hari ke 2….

Naruto merasa lesu dan tidak enak badan. Dia minta ijin Sasuke untuk istirahat kembali ke kamar….

-------

Setengah jam sebelumnya…..

Naruto merasa bosan. Iseng-iseng dia mematut dirinya dikaca pintu ruangan kepala sekolah. Dari kaca itu seluruh ruangan koridor terlihat jelas berikut dengan loker-lokernya.

Sasuke lewat dan menyuruhnya segera masuk kelas. “Grrrr.” Naruto menggumam tidak suka. Alangkah terkejutnya dia saat melihat ke kaca pintu. Gadis yang dia lihat di dalam asrama kuno lalu terlihat melintas berjalan menunduk. “Hiiiiii…… “ Naruto-pun berlari dan melompat kearah Sasuke dan memeluk Sasuke. Seluruh murid yang memandang kejadian itu tertawa terbahak-bahak. Sasuke-pun sangat murka…. Dia langsung membanting Naruto ke lantai sampai tak sengaja kepala Naruto terjedok tembok.

The Mirrors, the Haunted in Connecticut