The way he looked at…
His eyes…
Tell nothing but…
I shall protect you…
Even no words came out from his mouth…
His eyes…
So sincere...
……
Pagi hari…
Udara sejuk menghembus ke dalam jendela pada ruangan yang penuh sesak dengan kertas-kertas.
Ingin sekali rasanya udara berhembus lebih kencang sehingga menerbangkan seluruh kertas terbang tinggi ke angkasa.
Saat melihat tumpukan kertas yang berjibun.
“Halah, dokumen lagi dokumen lagi… seharusnya berkas2 ini kujual aja sebagai kertas bekas ke Konan di Akatsuki sana….”
Ketukan pintu tidak membuat betenya menghilang.
“Hokage-san, memanggil saya dan beberapa murid?”
“Yah, silahkan masuk.”
“Ada misi…“
Tsunade menyodorkan satu map berkas.
“Misi yang ….” Kakashi agak terkejut.
“Aku tahu tapi bayarannya 25% dari dana yang kita perlukan…. Kita harus menyumbang desa sebelah yang kena banjir lahar dingin…. Dan kita juga harus membenahi desa karena serangan musuh waktu lalu.”
“Ya…”
“Kenapa sensei?” Naruto bertanya keheranan.
“Ah, tidak apa… Nanti tugasmu dan tugas Kiba masuk ke sekolah Teitan Utara dan menjaga seorang anak cowok yang namanya Yohei. Dan kalian harus merahasiakan jati diri sebagai ninja.”
Kiba memandangi foto anak itu…
Akamaru entah mengapa terus terdengar geram. Kiba juga tidak suka wajah anak itu.
……
Pagi yang cerah…
Seragam baru…
Keren…
Abu-abu gelap…
Emblem sekolah pada dada kiri: keren banget…
…….
Pakaian paling ribet yang pernah Naruto pakai.
Sabuk..
Jas..
Dasi…… …. …. Waks kenapa dari tadi tidak juga berhasil memasangnya.
Surat pindah sudah ditangan. Sekolah mana ini? Naruto kagum dengan kehebatan Kakashi mendapatkan surat pindah dari sekolah lain untuk Kiba dan dia dengan cepat.
Teriakan Kiba membuat lamunan Naruto berhenti mendadak…
“Hoi, Naruto… kamu masih tidur atau udah mau berangkat! Kita sudah telat!”
“Ya… “
Naruto pun melompat dari jendela apartemen yang mereka sewa bertiga dengan Kakashi.
Kiba mengernyit.. Lalu membantu Naruto membetulkan dasi sambil mengejek Naruto.
---
Pelajaran susah…
Kepala serasa mau pecah…
Apa ini yang diajarkan?
…..
“Ayo keatas…” Kiba mengajak Naruto. Akamaru bilang anak itu ada diatas.
Pemandangan yang mereka lihat….
Seorang anak kurus berkacamata dipukuli dan ditendang. Naruto sangat geram.
Kiba menahannya.
Tiba-tiba mereka merasa kepala mereka sakit tertekan…
2 telapak tangan yang begitu besar memegangi tempurung kepala mereka dan mendorong mereka begitu kuat sampai terlempar menindih anak berkacamata itu.
Mata mereka memandangi sesosok wajah yang mereka pernah lihat sebelumnya.
Kiba dapat merasakan dinginnya pucuk pistol yang tertempel pada dahinya. Naruto diam tidak berkutik memandangi bullet chamber revolver itu berputar.
“Wanna play Russian roulette?”
“Hah!?”
“Yat….”
“Ji….”
“Sa…”
Tiiinggg… bunyi hentakan dalam revolver itu…
“Kamu beruntung…. Guren, tendang perutnya….”
Kiba pun memandangi sesosok kaki monster besar menendang perutnya…. “Aduuhhh.”
Naruto melihat ini sebuah kesempatan langsung hendak menyerang….
“Aaa aa aa aaaak…” suara pemuda yang memegangi revolver itu berkuda-kuda
Pemuda yang mereka tahu bernama Yohei itu melompat mundur dengan lincah….
Terdengar erangan Akamaru… Yohei pun membuka tabir penutup sumber suara erangan.
“Anjing besar... mari kita mengadakan percobaan fisika…”
Akamaru terperangkap dalam lilitan benang baja pada seluruh tubuhnya.
“Kira-kira guk guk besar ini… kuat berapa Pa?”
“Apa?!”
“Pascal pascal… tadi aku belajar tentang rumus P=T/A….”
“Hah?!”
“P = tekanan… T = energy… A = luas area.. Untuk luas area… hanya beberapa millimeter… UUUU… sakit sesak ya guk guk ya… enak ya tadi makan sosis… ama burger…. Kalau kamu kuat 3 kali tekanan… ntar kukasih sosisnya Brood n Brodjess….:D”
Pikiran Kiba dan Naruto melayang “Anak yang harus kita jaga…..GILAAA.”
“Jangan anjingku… tukar dengan aku saja…” Kiba berteriak shock saat melihat benang baja yang melilit Akamaru mengencang setelah alat pemintal benang itu diputar oleh suruhan Yohei…
“Hooo hoooo…. ” Yohei berteriak bersemangat. Yohei lebih tertarik kepada Naruto yang tidak berkutik diinjak oleh temannya yang berbadan super besar.
Yohei-pun merogoh kantung…
“Tadi ada percobaan kimia … entah aku tadi ini bikin apa ya?” Ujar Yohei sambil memandangi tabung reaksi yang dia keluarkan dari kantong.
“Temanmu….” Sambil memandangi Kiba…”Terlihat haus…..”
Yohei pun melemparkan tabung itu ke temannya dan temannya pun membuka penutupnya…
Bau begitu menyengat menyembur dari tabung itu…
“Shall I?” Temannya meminta persetujuan Yohei…
Yohei pun berjongkok dengan senang…. “Yah…. Ayo kita lihat reaksinya… Suruh anak berambut pirang itu menciumnya….”
Begitu membaui-nya, Naruto-pun langsung pingsan….
“Narutoo…” Kiba berteriak panic
“Wah… ndak seru.. Siapa namanya.. Naruto…” Yohei memandangi Kiba…
“Seret anak berambut coklat itu… borgol dia… Lepaskan anjingnya… nggak seru ah… “
Kiba dan Naruto diborgol sedang anak berkacamata itu dibiarkan begitu saja… Akamaru entah kenapa setelah dilepaskan terlihat lemas tidak menyerang mereka… lalu tertidur begitu saja. Sepertinya diberi obat tidur.
…
Naruto terbangun dan merasakan dinginnya borgol. Suara dentingan logam dipukul2 membuat dia terjaga.
“Kamu sudah bangun?”
“sudah…”
“Anak itu… ngapain dia memukulmu? Kamu tidak mau kerjakan PR-nya?”
“Dia.. aneh… PR, dia selalu bikin sendiri … malah sering kasih pinjam temannya.. dia cukup pintar di kelas…. Ulangan bagus…. Tapi dia akhir-akhir ini terlihat rada stress.”
“Kenapa?”
“Dengarnya sih dia patah hati…”
“Heh?”
“Iya… patah hati ama cewek gebetannya….”
…..
Borgol tiba-tiba terlepas..
“Sakura..”
“Kalian ini gimana?! Apa yang kalian kerjakan???!!”
Si kacamata memandangi Sakura dengan takjub… “Cewek cantik yang kuat….”
----
Penyebab Yohei strees..
Itulah tugas tambahan mereka…
Stress Yohei adalah inti masalah, yang kalau mereka bisa pecahkan, mereka bisa dapat bonus 50% dari besar pembayaran ke kas Konoha. Sakura membayangkan kalau uang itu bisa untuk dia beli rajutan indah yang menggodanya terus saat dia melewati butik di perbatasan Konoha.
Sakura-pun membayangkan Naruto akan beli bermangkok2 mie… lalu Kiba mungkin akan beli daging sapi yang berharga sejuta perkilo itu untuk Akamaru… Sedang Kakashi entah buat beli majalah XXX-nya atau buat apa…
----
Dari si kacamata…
Yohei stress karena seorang cewek.
“W♥w ada lowongan kerja disana….. benar-benar kebetulan…”
Begitu banyak gadis antri… Dia harus mendapatkan pekerjaan itu…. Batinnya bertempur
Sakura –pun terpaksa menggunakan sexy no jutsu kepada bos yang mewawancarainya….
Yahh… pekerjaanpun ditangan….
Inilah momen yang dia tunggu… cewek macam apa sih yang bikin Yohei …
Sakura terpesona sesaat saat bos memanggil gadis itu untuk bertegur sapa dengan Sakura. Gadis itu tersenyum pada Sakura sambil membungkuk.
Cantik… Rambut sekuping… imut… Matanya indah…. Terlihat rapuh… lesung pipit membuat gadis ini bertambah manis… Mata Sakura lalu tertuju pada antrian pembeli kedai drive thru kopi yang dilayani gadis ini.
Sesekali tersenyum… lalu dengan ramah menanyakan kabar pelanggan… godaan pelanggan dibalas senyum manis… bahkan ada pelanggan yang sengaja membuang kopi yang sudah dibelinya untuk antre lagi…
Betul betul… mesin uang… walau tidak genit seperti Ino…. Tapi sesuatu yang menyenangkan keluar dari aura gadis yang dipanggil Kyoko… Pantas…
---
Kyoko mengantar Sakura ke kamar mereka berdua..
“Ini ranjang kakak… sudah saya bersihkan…”
“Arigatou…”
“Oniii chan dari mana?”
“Hah dari desa… desa kecil di Utara…” Sakura gelagapan.
“Hmm.. kapan-kapan kalau off kerja, kita jalan2 ke desa kakak ya…”
“Ya ya ya…” Sakura terkaget.
---
Sementara itu, Naruto dan Kiba terus mengikuti gerak gerik Yohei, si gangster ini..
Pemandangan gore yang disodorkan Yohei kepada mereka membuat mereka semakin tidak yakin.. kenapa Yohei harus dijaga… hampir seluruh gangsta di kompleks tunduk pada Yohei.. biarpun temperamental tapi Yohei cukup pintar. Dia cukup jago bernegosiasi. Bahkan mereka sempat dengar kalau Yohei beberapa waktu lalu malah berhasil menjebak polisi yang selalu mengganggunya dan membuat polisi ini bermasalah dengan hukum.
---
“Hari yang ditunggu” Naruto dan Kiba-pun tiba..
Genk Yohei terdesak…
Yohei dan temannya terpencar….
Yohei terdesak dengan puluhan genk dari kota lain mengejarnya dalam beberapa kelompok dan mengepungnya. Yohei terdesak.
Akamaru pun melompat menggeram melindungi Yohei atas suruhan Kiba, walau hatinya dongkol.
“Anjing besar…” beberapa anggota genk mundur…
Naruto melihat tumpukan berpuluh karung semen di dekatnya…
Naruto menyobeknya yang mengibaskan isinya ke bawah dimana Yohei berdiri…. Abu debupun meliputi Yohei. Dengan cepat, Kiba mengikatkan dirinya pada katrol yang tersedia disana dan meluncur kebawah. Memegangi Yohei dan menyuruh Naruto melemparkan tali satunya yang sudah diberi 1 bola besi penghancur bangunan. Akamaru berlari jauh kedalam gedung menyusul Kiba diatas.
Yohei membersihkan dirinya.
Lalu memandangi penolongnya dengan kaget…
“Kenapa kalian menolongku?”
Kiba gelagapan tidak memikirkan sebelumnya apa yang harus dikatakan kepada Yohei. Untung saja perut Naruto tiba-tiba berbunyi keras…. Keroncongan… keroncongan….
“Kalian lapar ya… Ayo kutraktir… lewat sini aja. Trimakasih atas bantuannya. Saya hutang kepada kalian.”
Misi sukses untuk sementara
---
Sakura sangat kaget saat melihat kedua teammate-nya berjalan kearah kedai tempat dia berdiri.
Naruto dan Kiba pun tak kalah terkejut saat melihat Sakura didalam…
Tapi Yohei salah paham…
Dia lalu meremas dasi Naruto dan Kiba…
“Jangan lihat dia terus.. walau aku hutang kepada kalian.. tapi jangan memandanginya dengan tidak sopan…”
“heh?” Naruto langsung berimajinasi Yohei menyukai Sakura dan lalu saat menyatakan ♥ “Aishiteru” >> Yohei ditinju dan ditendang ama Sakura.
Sedang pandangan Kiba tertuju pada seorang gadis manis yang dengan ramah menuang teh kepada pelanggan. Setelah menuang teh, gadis itu meletakkan teapot di ujung dan berjalan kearah Yohei..
“Yohei-kun…”
Yohei langsung menoleh kearah gadis itu. Kemarahannya seperti menguap. Gadis itu terlihat cemberut sambil memandangi Yohei. Yohei pun dengan menurut duduk di kursi dan mengisyaratkan agar Naruto, Kiba duduk sedang Akamaru berbaring didekat Kiba,
“Mie ramen 6… oden 2 buat anjing itu!” Yohei memerintah Sakura dengan tidak sopan.
Sakura ingin menghajarnya. Tapi akhirnya dengan jengkel dia masuk dan meminta pesanan ke bagian dapur.
Sakura memandangi Naruto yang dengan lahap dan cepat menghabiskan 2 mangkok mie-nya. Kiba sedikit kuatir kalau Naruto nanti minta lagi dan mereka bermasalah dengan Yohei. Tapi Yohei ternyata tidak setengah2 mentraktir. Tangannya langsung memasang angka 5 pada Sakura. Sakura terlihat ragu… Yohei lalu membalikkan telunjuk tangan kanannya dan menggerakkannya untuk mengkode Sakura agar mendekat. Dia mengeluarkan uang dari dalam dompet. Dan menaruhnya di meja. Begitu banyak. “Bungkus buat dia, 30…”
Kiba dan Naruto mulai menyenangi Yohei. Pantas teman2nya begitu setia.
---
Malam tiba…
Huah capeknya…
Kyoko menepuk2 bahunya…
“Onii-san-ma, hari ini hari apa ya?”
“Hari Rabu..”
“Hari Rabu ya….Rabu?!! kakak bilang hari ini Rabu???!” Kyoko tersentak
“Kenapa?”
“Huah… gawat gawat gawat, jam berapa ini?”
“Jam 9…” Sakura masih kebingungan.
“Hah? Jam 9… hua tidak sempat mandi… waduh gimana?”
“Kamu ada janji?”
“Tidak… aduh gimana nieh?”
Kyoko buru2 ke kamar ganti baju. Lalu keluar sambil sibuk membaui tubuhnya.
“Kakak.. maaf .. BB tidak?”
“Eh?”
“Aduh… yang penting tampil cantik..”
Kyoko mencuci mukanya dan me-make up sedikit wajahnya dengan tergesa…
Rambut masih acak2kan.
Sakura membantunya menyisir rambut Kyoko yang halus. Dia meminjamkan jepitnya dan menyematkannya pada rambut Kyoko… “Kawaii.. “ Kyoko berteriak senang melihat jepit itu. “ Arigatou Onii chan…”
Tiba-tiba lampu byar pet…
“Lho…”
Sakura tidak dapat menahan ketawa… Kyoko juga..
Mati-matian berdandan buat dikasih lihat orang… eh lampu mati… wkwkwkwk.. Mau lihat pake senter?
Sakura jadi sangat penasaran siapa yang ditunggu2 oleh Kyoko. Lamunannya terhenti saat mendengar ketukan di pintu yang hampir terpendam suara gemuruh guntur dalam hujan yang begitu deras.
Sakura pun membantu Kyoko membuka pintu…. Jedeerr, suara guruh hampir membuat rambutnya berdiri. Jantungnya hampir berhenti pas dia membuka pintu…
Sesosok yang cukup tinggi…
Terlihat seram di kegelapan malam dan lampu mati…
Mengenakan jubah jas hujan berwarna gelap …
Kilat yang sambar menyambar membuat Sakura teringat scene movie yang pernah dilihatnya “I know what u did last summer.”
Tapi cahaya kilat sempat menunjukkan kepada Sakura bentuk hidung dan mulut sosok itu yang terlihat elok.
“Ee..” Sakura tidak sanggup berbicara.
“Mau kirim barang.” Sosok itu terdengar ramah.
“Oh…”
Sakura menoleh kearah Kyoko… dia membaui aroma seduhan teh kembang yang hangat.
“Hiro-san, terimakasih ya.. Tolong taruh disana aja.. Minum teh dulu.” Suara Kyoko terdengar gugup tapi senang.
“Trimakasih.”
Hiro melepaskan jubah jas hujan yang terlihat seram itu dan menggantungnya di pojok.
Sakura ikutan duduk. Dengan cahaya lilin, dia melihat wajah Hiro yang tampan dan simpatik. Hiro tidak berbicara apapun. Tapi sorotan mata Hiro membuat Sakura kehilangan bahan pembicaraan. Mereka hanya saling berpandangan lalu minum teh yang disediakan Kyoko. Yang jelas, Kyoko menyukai Hiro. Tapi mana si Kyoko. Sakura tolah toleh.. dia mendengar suara gaduh di dapur…
Diapun dengan tergesa ke dapur. “Kyoko, kamu baik2 aja?”
“Ya…”
“Aduh kenapa ya kompornya ndak bisa nyala?”
“Coba kulihat..” suara Hiro mengagetkan mereka berdua.
Hiro mengambil senter di rak dan lalu mengotak-atik kompor itu. Dia membersihkan bagian kompor dengan alat seadanya dengan cekatan. Kompor nyala kembali.
“Knop-nya agak rusak.” Hiro berkesimpulan sambil memandangi Kyoko.
Hiro memandangi Kyoko terus. Sampai muka Kyoko semakin kemerahan. “Apa Hiro suka ama Kyoko juga?” Sakura bertanya dalam hati. Tapi wajah Hiro terlihat tegang. Dia lalu dengan tiba-tiba mencabut saluran elpiji ke kompor.
“Ada apa?” Kyoko memegangi mulutnya dengan kedua tangannya.
Hiro dengan aneh tiba-tiba menjebol kabel pada dinding diatas saluran gas elpiji.
“Hiro-san?!” Kyoko berteriak kaget.
“Tunggu sebentar… aku matikan sekring dulu….”
Setelah beberapa menit menunggu dalam kebingungan, mereka melihat Hiro membawa selotip kertas. Dan membalut kabel dinding itu.
“Kabel ini digigit tikus. Sebaiknya pindah aja kompornya ke tempat lain. Jangan dekat kabel listrik.”
“Ooo..” Sakura dan Kyoko ber-koor- ria.. sambil terbengong.
“Ini uang ganti semen dan cat untuk dinding yang kujebol tadi.” Hiro meletakkan beberapa lembar uang di meja…
“Hiro-san jangan…” Kyoko kaget.
“Oh ya, nomor telpon rumah bos kalian berapa? Nanti kutelpon dia..”
“Tidak usah. Terimakasih, kamu sudah repot. Kami nanti yang bilang.” Kyoko sambil berusaha menyodorkan uang itu kembali, tapi Hiro tidak mau mengambilnya.
“Ya, besok pagi bos mu datang kan?”
“Ya…”
“Besok pagi saya telpon..” Hiro bersiap beranjak.
“Hiro-san.. tidak tunggu hujan sedikit reda? Mau kue…” Kyoko menahan Hiro sambil memandangi derasnya hujan diluar..
“Tidak terimakasih. Saya harus pergi sekarang.” Hiro dengan tergesa mengenakan jas hujan.
“Mari…” Hiro membungkuk dan berjalan dengan cepat ke motor trailnya dan pergi.
---
“Apa Hiro marah ya ama aku?” Kyoko bertanya pada Sakura.
“Masa? Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Tadi aku sengaja merusak knop kompornya.. “
“Apa?” Sakura mengerti sikap Kyoko yang ingin menahan Hiro lebih lama.
“Dia tidak tiap hari Rabu datang ya, Kyoko?”
“Ya, jarang datang, biasanya pegawai genit satunya. Kalau cuacanya buruk, pegawai satunya pasti tidak mau antar, jadi Hiro yang antar… “ ujar Kyoko lemas.
Baru kali ini, Sakura melihat Kyoko sedih.
Tapi tiba-tiba Kyoko kembali ceria. “Sakura, tadi beneran dia bilang mau telpon besok?”
“Iya…?!” Sakura heran dengan perubahan cuaca pada Kyoko
“Huah… aku yang terima semua telpon aja ya besok .. ”
---
“Sensei… kenapa jalan-jalan kesini?” Naruto sambil mengelus perutnya yang buncit. Kiba bersumpah pada dirinya untuk tidak menyentuh mie ramen sampai beberapa bulan ke depan.
“Sekolah itu.. coba apa yang kalian rasakan…”
“Kanzai school….Tidak ada sensei.. kenapa?”
“Akamaru?” Kakashi terheran.
Akamaru sibuk santai seperti anjing biasanya, berjalan mengitari sekitar dan mengendus-endus.
“Kenapa Naruto, Kiba dan Akamaru tidak merasakannya? Apa bau-an ini aja yang menggangguku?” Kakashi mencoba mengingat bau-an aneh yang pernah dia bau bertahun2 lalu. “Dimana ya? … Kakashi mulai penasaran pada dirinya sendiri.
“Astaga!” Kakashi memandangi Naruto dan Kiba yang lagi bercanda dengan Akamaru.
----
Tsunade memandangi email terenskripsi pada layar laptopnya. Dari Kakashi. Matanya sedikit terbelalak saat membacanya. Lalu menenangkan dirinya dengan menyeruput 1 sloki arak.
……..
Hari ini…
Naruto dan Kiba serta Akamaru mulai berjalan beriringan dengan Yohei sebagai sesama anggota genk. Mereka mendatangi sebuah trotoar. Banyak murid berseragam sekolah lain sedang berjalan, bersepeda, bersepeda motor bahkan turun dari mobilnya. Yohei memerintahkan mereka agar berjalan agak ke tempat yang lebih jauh lagi dari sumber keramaian. Kiba mulai berpikir: “Wah, jangan2 kita disuruh ngompas?!”
Mereka menunggu cukup lama di suatu spot yang agak sepi didekat pohon Sakura. Dari belokan, Kiba dan Naruto bisa melihat sesosok penjelmaan bunga sakura yang begitu cantik. Rambutnya yang panjang dipermanis dengan bando berkilauan. Semakin memancarkan keanggunan gadis ini. Semampai. Berjalan dengan gemulai, menenteng tas sekolah yang cute sambil sibuk memencet tombol hape.
Tiba-tiba terdengar Yohei meneriakinya. “Momoko-chan….”
“Eh?!” Naruto dan Kiba menoleh kaget.
Momoko terlihat kaget dan takut sekali sambil memandangi segerombolan anak genk yang terlihat sangar. Yohei merasa diatas angin lalu berjalan mendekati Momoko dan memandanginya dengan cara yang kurang sopan.
“Momoko-chan…. Hiro mana?”
“Hiro?”
Yohei mendekatkan kepalanya ke telinga Momoko.
“Ya…. Hirooo… mana?!”
Naruto dan Kiba melihat Momoko begitu ketakutan. Naruto hampir saja menghajar Yohei kalau tidak Kiba menahan bahunya dan Akamaru menggigit celananya.
Tiba-tiba…
Momoko melancarkan tendangan naga ular boa-nya ke selangkangan Yohei. Yohei yang merasa kesakitan, berlutut bersimpuh didepan Momoko.
Seluruh anggota gerombolan Yohei tersentak. Momoko menginjak jemari kelingking tangan Yohei. Membuat Yohei bergeliat kesakitan tidak berdaya
“Jangan anggap remeh manajer team sepak bola Kanzai School……”
“Aku… mengalami pagi yang buruk…. Kamu sebut-sebut Hiro lagi!”
Dengan depresi, Yohei memandangi Momoko
“Aku aja yang titip pesan…. Kalau kamu ketemu HIro…. Bilang… hari ini…. HARUS latihan… besok ada pertandingan jam 4 sore ngumpul di stasiun KA…. Udah seminggu dia bolos latihan…. “
Momoko melepaskan injakannya. Lalu berjalan menjauhi Yohei dan memandangi seluruh anggota gerombolan satu persatu dengan wajah yang seram.
Anggota gerombolan diam tercekat memandangi Momoko. “La Femme el Diablo”
Tiba-tiba Momoko seperti teringat sesuatu dan kembali berjalan ke arah Yohei.
“Hey, kalau kamu lupa bilang Hiro… awas! Kucari kau! Dan kujadikan samsak latihan tendangan melengkungku!” Momoko menendang pantat Yohei dengan tendangan sekeras tendangan kiper pada bola ke arah tengah lapangan.
Setelah Momoko meninggalkan spot, seluruh anggota gerombolan yang tercenung baru berlarian kearah Yohei. Yohei tidak bergerak
“Apa dia masih hidup?” Salah satu anggota menyentuhkan telunjuknya pada pipi Yohei. Yohei menjadi naik pitam. “Ya! Sekarang angkat aku. Carikan es batu.. aku harus mengompres.”
Dalam pikirannya, Naruto dan Kiba mulai berpikir: “Aku sudah mulai merasa kasihan pada Hiro…”
….
Sore setelah pulang sekolah…
Yohei menyuruh genk-nya berpencar mencari Hiro. Kiba melihat seorang anak cowok berseragam yang sama dengan Momoko berjalan tergesa kearahnya. Tiba-tiba anak itu berhenti dan memandangi sesuatu dibelakang Kiba dengan kaget. Kiba pun menoleh kebelakang.
“HAH!!”
Anggota segenk Yohei sekitar 30an anak sedang membawa pentung berlari menyerbu. Kiba pun ikut berlari sementara dia melihat anak cowok yang terlihat lebih tampan darinya itu sudah berlari sangat cepat didepan. “Cepat juga larinya. Tapi aku tidak boleh pake jurus ninja.”
Akamaru terlihat mengejar anak cowok itu dengan sangat cepat. Anak itu menambah kecepatan larinya dan setelah Akamaru hampir saja menggigit celana panjangnya, anak itu melompat pipa yang menjulur dari dinding. Dengan ringan dia melakukan gerakan senam berputar swing dan melompat kearah menggenggam pinggiran atap. Dia melompat dan berlari bebas diatas genteng ala traceur.
Sementara anak geng Yohei hanya bisa meneriakinya dari bawah sambil terus mencari akses keatas.
Tiba-tiba Yohei mencegatnya diatas entah dari mana naiknya.
Anak itupun terdiam berancang2 lari.
“Hei, pesan dari Momoko… kamu nanti harus latihan…. Besok ada pertandingan jam 4 ngumpul di stasiun KA.. “
Anak itu terlihat kaget. “Sekarang, pesan Momoko udah kusampaikan….. saat nya menghajarmu…” Yohei berlari bersama beberapa anggota geng menyerbu dengan pentungan dan samurai.
Berlarianlah mereka diatas genteng.
“Stamina anak itu lumayan juga…” Kakashi berpikir sambil memandangi scene kejar mengejar itu.
Kakashi sangat terpesona saat melihat anak itu melakukan gerakan lompat bebas bak Jackie chan terjun ke jendela di apartemen seberang yang posisinya agak lebih dibawah. Tak ada satupun geng Yohei yang berhasil mengejarnya. Naruto dan Kiba harus menahan diri.
----
Hiro berjalan tersegal kearah apartemennya. “Tadi anak itu bilang Momoko suruh apa ya?”
“Onnii-chan… “ suara yang begitu dikenalnya menyapanya dari tangga.
“Hikaru…” Hiro mengelus kepala adiknya. “Kok tidak masuk dalam?”
“Tunggu kakak aja. KOk telat, kak?”
“Ya… tadi ada urusan sebentar…” Hiro sambil tersenyum.
“Oh ya, kak… kak Momoko bilang sore ini kakak ada latihan…. Aku bilang kakak latihan di lapangan futsal aja di dekat distro… Daripada kena hujan…”
“Jam berapa?”
“Sebenarnya sekarang ini kak..”
“Hah?”
“Tapi kakak makan dulu aja. Karena yang melatih kakak, kak Momoko….”
Bayangan aura gelap langsung meliputi Hiro… “Mampus aku…”
----
Sambil makan mie ramen yang udah dibeli Hikaru. Hikaru menceritakan kejadian2 lucu di sekolahnya. “Oh ya… kak?”
“Hmm?” sruup. HIro menjawab seadanya.
“Kakak udah telpon kedainya kak Kyoko?”
“Aduuuh belum… sial…”
----
“Dia belum telpon juga?, Kyoko?” Sakura merasa iba.
“Belum…”
“Wah, bos udah meringkas hape dan sebagainya kedalam tasnya. Dia mau pulang..” Sakura khawatir.
Tiba-tiba kring….
Kyoko langsung melompat menerima telpon berharap.
“Hiro-san… Konbawa..”
“Hai”
“Bos, Hiro mau bicara.”
“Oh ya ya..”
…
Bos terlihat mengangguk senang sambil berbincang dengan Hiro.
“Begini aja.. daripada aku pusing nyari orang betulin dinding itu.. mending kamu aja yang kerjakan… sanggup? Tolong dibantu ya.. terimakasih lho nak…”
Kyoko menutup mulutnya kegirangan.
“Sudah ya, aku pulang dulu… jaga kedai baik-baik ya.. jangan lupa kunci pintu.. Oh ya, telpon bosnya HIro dulu deh…”
Bos berbincang dengan renyah dengan bos Hiro…
“Terimakasih yo senpai… Ya ya… kupinjam anak buahmu yang satu itu ya…”
---
Kyoko berteriak kegirangan… Saking gembiranya, dia memeluk Sakura sambil melompat2.
“huah… Hiro mau kesini lagi…”
---
Hiro menyelinap masuk kedalam bangunan lapangan futsal tanpa sadar ada orang lain yang juga menyelinap masuk mengikutinya. Dia mengintip perlahan dari balik pintu, apa ada Momoko disana?
“Lho… tidak ada… wah, asyik… bisa nyantai.. pulang pulang.”
Pas balik badan hendak tancap gas. Wajah seram Momoko menghiasi pandangannya.
“Hiiiirrrroooooo….. telat sekali… apa anak berandalan itu tidak bilang ke kamu?”
Hiro berancang-ancang hendak kabur ke dalam lapangan.
“Udah bilang udah bilang… tapi aku lupa..”
“Hiiiirrrrooooo…..” suara Momoko menggelegar berbunyi seperti hantu nyonya Oiwa.
Hiro pun langsung tancap gas lari kedalam lapangan. Serbuan beberapa bola yang ditendang Momoko segera mengikutinya. Dengan sigap Hiro menampel bola kesamping. Meninjunya keatas. Menghindarinya. Bahkan jongkok sambil melindungi kepalanya. Serbuan beberapa bola lagi menyusul. Hiro menendangnya, menangkap satu dan menampelnya satu.
“Ayo Hiro berdiri di depan gawang…”
Hiro memandangi gawang itu dan berjalan dengan gontai.
Setelah berlatih ‘meladeni’ bola selama 1 jam. Hiro minta berhenti.
“Hirroooo…” Momoko marah berjalan mendekati Hiro dan akan mengomelinya.
Hiro memandangnya balik dan dengan tegas bilang tidak mau karena harus kerja. Ketegasan Hiro membuat wajah Momoko memerah. Hanya Hiro dalam team yang berani kepadanya sekali-kali. Lainnya walau sakit, terlalu takut untuk mengeluarkan unek-unek.
Latihan itu diperhatikan 1 mata dengan tenang. Saat hendak keluar pintu, Hiro merasa ada yang aneh dari dalam lemari penyimpan barang. Dia menjadi khawatir dengan Momoko yang sedang mengumpulkan bola. Dia pun memutuskan untuk membantu Momoko sebentar.
“lho… katanya mau kerja?”
“Ya… “ jawabnya sekenanya sambil memunguti bola.
Hiro mengambil bola dari tangan Momoko yang melongo dan memasukkannya kedalam keranjang.
“Ayo kita pulang” ujar Hiro sambil mengangkat keranjang itu.
Entah mengapa Momoko merasa senang Hiro tiba-tiba mengantarnya ke rumah dan baru pergi setelah pintu dibukakan ibunya. Hiro pun sempat membungkuk pada ibunya.
Lalu berjalan pergi.
----
Hiro merasa tidak enak dengan semak belukar yang ada diseberang rumah Momoko. Dia memutuskan untuk memeriksanya.
Dia berjalan berputar mengitari belukar dan melihat seorang anak berambut pirang sambil jongkok melihat kearah rumah Momoko. Tiba2 anak berambut pirang itu merasakan kehadiran Hiro langsung menoleh. Pandangan mereka beradu.
Hiro yang memandanginya terus membuat Naruto gugup dan mukanya kemerahan. Lalu melihati pakaiannya. “Kenapa?”
Saat menoleh kearah Hiro lagi. Hiro sudah menghilang.
----
Sore itu, Sakura membeli perlengkapan toko. Dia berjalan santai sambil sedikit berdendang menikmati keindahan matahari terbenam.
Lamunannya melayang pada masa kecilnya bersama Sasuke dan Naruto bersantai sambil menikmati matahari terbenam.
Tiba-tiba ada suara keras erangan sepeda motor…
Dan teriakan.. “Itu anaknya… cantik juga… ayoo…”
Motor itu hendak menabrak Sakura. Saat bersiap hendak melancarkan jurus ninjanya saat dia melihat motor melaju dengan cepat tiba2 dia merasakan seseorang mendorongnya ke samping dan membuat mereka berdua terseret kearah tumpukan barang bekas.
“Genki?” suara yang dia kenal sebagai suara Hiro mengagetkannya.
“Hai.”
Belum bisa banyak bicara. Deruan motor menggila dan saat hampir saja melindas mereka, Sakura merasa tubuhnya ditarik Hiro dan diajak berlari ke gang yang sempit. Sesaat kemudian, Sakura dapat mendengar bunyi2an desingan logam tajam membentur barang2 bekas disekitar mereka. Peluru… senjata api…. Kyaaa…
Hiro terus menarik tangan Sakura. Berlari berlari kedalam gang yang gelap.
Sampai pada pertigaan gang Sakura dapat merasakan bahaya dari pinggir. Lalu melihat sebuah pipa besi dihantamkan kearah mereka. Tapi sesaat kemudian, Sakura dapat merasakan dekapan dan deru nafas yang tersegal begitu dekat dengan wajahnya. Matanya dapat melihat 2 pasang mata yang memandanginya dengan khawatir tapi terlihat lelah dan kesakitan.
Sesaat kemudian, dia melihat betapa Hiro melawan mereka semua dengan gerakan judo bercampur gulat Mongolia yang lincah. Sedikit gerakan karate memukul pada bagian tubuh lawan yang agak peka. Dan memukul mundur mereka. Lalu merampas salah satu motor itu dan menaikinya bersama.
Pemandangan super mengerikan, saat mata Sakura melihat sebidang papan yang menuju keatas dilewati dengan cepat dan Sakura dapat melihat mereka melayang diatas sebuah sungai yang besar. Kyaaaaaa….
Mereka mendarat dengan keras diseberang sungai. Tapi genk itu juga tidak kalah lihai. Satu persatu mereka meniru Hiro dan mengejar dari arah lain.
Hiro-pun melarikan motor yang dikendarainya bersama Sakura, jauh kedalam bangunan kosong yang akan dirobohkan.
Dudukan sepeda motor bergetar keras dan pantat Sakura serasa naik rodeo saat Hiro mengendarai motor itu menaiki anak tangga.
Mereka menuju keatas gedung. Waks… hanya beberapa batang pipa besi air ledeng menghubungkan mereka dengan gedung sebelah. Genk motor udah berhasil menyusul mereka.
Hiro memancal motor itu dengan kedua kakinya ke tepian atap. “Mau apa dia?” Sakura memandangi keringat Hiro yang bercucuran dan nafas Hiro yang udah terengah2.
Hiro memandangi anggota genk itu satu persatu. Lalu berkata kepada Sakura. “Sakura.. pegang erat perutku.. Jangan sampai lepas..”
“Eh? Ya…”
Sedetik kemudian pemandangan super cepat nan mengerikan menghiasi pelupuk matanya… KYaaaaaaaaaa…..
Dia melihat satu persatu pipa ledeng besi itu jatuh bergelimpangan menghantam lantai semen dibawah bersama bunga api saat Hiro meluncurkan motor itu dan menggunakan spare part diantara 2 roda untuk meniti pipa itu. Sesaat sampe roda depan menyentuh tepian atap bangunan seberang. Sakura dapat merasakan motor itu diangkat Hiro dan motor itu bertumpu pada roda depan saja.
Hentakan di tempat duduknya, membuat Sakura sadar kalau roda belakang sudah mendarat di atap juga. Dengan cepat Hiro mendorong mundur dan kabur secepatnya.
Melompat tinggi dan menyusuri atap seng yang miring 30o
Sepeda itu melompat kearah tumpukan barang bekas dan mereka merangkak keluar lalu bersembunyi di bangunan yang kosong.
-----
Setelah menunggu beberapa menit…
Tidak ada tanda2 genk itu ada di sekitar mereka.
“Sakura, aku tidur dulu.”
“Ya?”
Hiro terlihat tidur dengan pulas. Sakura dapat melihat wajahnya yang begitu lelah. Tiba-tiba jarinya menyentuh debu yang basah oleh sesuatu. Dari temaram lampu luar, Sakura dapat melihat darah menghitam yang mulai mongering.
Sakura memandangi tangan dan kakinya serta memegangi kepalanya. Mungkin ada yang terluka. Tapi tatapan matanya terhenti pada jaket kain yang terlihat bernoda kehitaman yang dipake Hiro.
“Hiro terluka?”
Sakura segera membuka jaket itu dan memeriksa luka Hiro. Luka di perut. Ada peluru masuk ke dalam. Untung agak kesamping tidak sampai melukai organ dalam. Tapi Sakura sangat terkaget melihat bekas luka yang begitu mengerikan di dada Hiro. Sakura memeriksanya “Apa ini? Seharusnya jantungnya sudah tertusuk kalau posisi lukanya disini. Pasti fatal… ”
Saat matanya menuju pada wajah Hiro. Sakura terkaget melihat tatapan Hiro. “Eh? Perutmu luka…” tanpa sadar kalau jemarinya belum terlepas dari bekas luka Hiro yang mengerikan.
“Ayo kuantar pulang… “
Hiro tetap menggandeng Sakura dan berjalan menyusuri tepian gudang dengan hati-hati menuju ke motor Hiro yang diparkir agak jauh.
Ternyata… ada orang yang walau tidak berkemampuan ninja… tapi mau melindunginya seperti Naruto melindunginya.
----
Di kedai….
Kyoko dibekap dan diikat pada kursi…
---
Dengan geram, Yohei meremas handphone-nya yang sedang memainkan 3G dimana Kyoko terlihat disekap.
Dia menyuruh anggota genknya tancap gas ke kedai Kyoko.
---
“Jadi ini ya, bos genk Teitan?”
“Ya! Lepaskan dia!” Yohei menghardik.
Seluruh anggota genk Yohei mengeluarkan senjata api berikut dengan anggota genk musuh. Mirip adegan film mafia. Darimana mereka dapat senjata api ya?
“Ak a k ak a k…” kepala genk musuh bergelengkan jarinya.
Dia memegang pisau tentara dan menekankannya pada pipi Kyoko…
“Kira-kira kalau pisau ini menggores pipi halus ini… cewek ini kelak hidupnya bagaimana ya?”
“Lepaasskkan dia!” Yohei mengarahkan pistol pada pemimpin genk yang keji itu.
“Hahaha… aku akan lepaskan gadis ini kalau kamu mau menuruti perintahku!”
“Apa itu?!”
“Pertama letakkan pistol kita semua di lantai…”
Yohei dengan gigi gemeretaknya meletakkan pistolnya dilantai sambil mengkode anak buahnya untuk melakukan hal yang sama.
“Kedua… Ponco pukuli dia… kalau dia melawan, pisauku akan menyayat kulit lembut gadis ini..”
Kyoko menangis melihat betapa Yohei berusaha menahan sakit dan berusaha bertampang cool dihadapannya saat dipukuli dengan pemukul kayu pada perut, punggung, lengan, bahu…
“Hentikan hentikan” teriaknya.
Saat tongkat pemukul hampir menghantam kepala Yohei…
Tiba-tiba sebuah lengan mencegahnya dengan menggenggam erat pemukul itu. Pemilik lengan berambut pink ini dengan segera menendang Ponco hingga terjengkang ke belakang beberapa feet.
“Sakura?” Kyoko terkaget.
“Nona cantik… kalau kamu berpolah lagi… temanmu ini akan kusayat.”
“Siaall….” Naruto dan Kiba sebenarnya sudah tidak sabar. Sampai kapan mereka harus bertahan menyembunyikan identitas? Kiba mengkode Akamaru untuk menggigit pantat Naruto saat dia melihat Naruto hampir saja melompat.
Tiba-tiba ada suara dari dapur….
“Hi guys…. “
Semua orang yang ada didalam ruangan itu menoleh ke sumber suara.
Seorang cowok sedang memegang pemantik api.
“Kalian.. bau sesuatu tidak?”
“Bau bau gas menyengat!” Mereka berusaha menutup hidung.
“Kalau kalian tidak segera keluar dari sini… aku kirim kita semua ke neraka…”
Wajah Hiro terlihat begitu menakutkan dimata Kyoko dan Sakura. Begitu berbeda saat dibandingkan dia sedang membetulkan dinding dan mengirimkan barang. Tatapan matanya yang biasanya simpatik dan sedikit sendu sekarang menjadi begitu marah dan mengancam.
Kepala genk musuh dengan agak ragu menyeletuk “Ayo, kalau kamu berani!”
Kyoko diam tidak berkedip memandangi pemantik ditangah Hiro. Pemantik yang dia kenal…
“Hah? Pemantik itu kan sudah rusak dan bensolnya udah menguap habis.”
“Hiro…. “ Kyoko hendak berbisik memberitahu Hiro.
Tapi….
Hiro keburu memencet pemantik itu…
“Lho….” Kok tidak nyala.. Hiro dengan heran membaui pemantik itu.
“Wkwkwkwkwk…. “ pemimpin geng musuh ketawa terpingkal2. “Aktingmu lumayan memukau tapi konyol….”
“Ponco… tembak saja anak itu…”
“Hiro!” Sakura dan Kyoko berteriak bersamaan.
“Tembak tepat didahinya di tengah2nya…”
Saat Ponco mengarahkan senjata, tiba-tiba Hiro menangkap laras pistol dan tidak sengaja menarik bagian atas laras hingga terlepas.. Klooontangg….
Ponco dan Hiro bertempur sebentar dan Hiro berhasil menendang tumit Ponco yang tubuhnya lebih besar dari dia hingga Ponco jatuh kesakitan.
-----
Tiba-tiba berbunyi raungan sirine diluar dengan lampu merah berputar2 diluar kedai. Polisipun menggerebek kedai. Dan dari arah dapur dan atap, polisi khusus menerobos dan mengacungkan senjata laras panjang kearah genk yang memegang senjata.
Semua genk musuh dikeler ke penjara. Dan geng Yohei dibawa ke kantor polisi untuk ditanyai karena tidak tertangkap tangan memegang senjata. Yohei dan Hiro masuk RS karena luka-luka mereka.
-----
“Sial..kenapa sekamar dengan dia!” Yohei mengeluh.
Hatinya sangat sedih melihat Kyoko dan Sakura yang lebih peduli pada Hiro daripada dirinya.
Tapi keadaan Hiro terlihat lebih parah. Darahnya terlihat mengucur deras sampai Sakura harus membocorkan ilmu ninja nya untuk menotok jalan darah Hiro agar perdarahan terhenti.
Kyoko berjalan kearah Yohei. “Terimakasih Yohei… Kamu bodoh…” Kyoko sambil terisak. Yohei terheran. Kyoko lalu membuka wadah makanan dan menyuapi Yohei sup yang dia bikin sendiri. Enaaakk..
----
Bosan…. Mau keluar kamar tidak bisa, tidur tidak bisa, teman pasien disebelah walau tidak tidur, diam saja. Yohei menyalakan TV. Ganti channel berita… berita.. berita… kenapa semua pembawa beritanya laki2?… apa ibu2 nonton berita jam segini?
Akhirnya ada 1 yang cewek. Yah walau seumuran tante Yohei tapi lumayan lah.. Cantik…
Berita tentang penculikan anak pengusaha kaya… di kota yang jauh dari sini…
Gadis kecil yang manis... terlihat pada gambar yang dibesarkan dan disertai permintaan kerjasama pemirsa kalau-kalau melihat gadis ini di suatu tempat harap menghubungi TV ini atau polisi.
Ganti berita…
Yohei pun tiba-tiba ingin menoleh melihat reaksi Hiro…
Heee? Hiro menatap layar TV dengan ekspresi sangat aneh. Dia terlihat tersegal dan bernafas sangat cepat. Dengan tangan gemetar, Yohei memencet bel. Satu suster datang dengan tanggap. “Ya ada yang bisa dibantu?”
Yohei menunjuk kearah Hiro. Dia merasa Hiro sangat tidak beres.
Susterpun terperanjat melihat Hiro berkeringat dingin. Dia lalu mengecek pulse dan suhu tubuh Hiro. Cepat dan kuat… Dingin…
Suster berlari ke front desk dan meminta temannya menghubungi dokter.
Suster kembali membawa selimut ekstra dan membebatkannya ke tubuh Hiro. Dia terlihat panic tidak tahu harus berbuat apa.
Tiba-tiba Hiro berbicara… “Suster… pinjam HP…”
“Eh? Kamu harus istirahat…”
Hiro menoleh kearah Yohei… “Pinjam hape…” sambil menyodorkan tangannya kearah Yohei. Pandangan Hiro yang terlihat kosong sangat membuat Yohei takut. “Aku akuu tidak bawa hape….”
“Ya sudah, kupinjami hape..” suster itu merogoh kantongnya dan menyalakan hapenya.
“Arigatou gotzaimasu.”
Entah nomor siapa yang dipencet Hiro…
Dia hanya berkata “Gadis itu di tempat dimana banyak bangkai kepiting raksasa tertimbun. Ada bau bumbu kayu manis, lada dan cabe berbau khas Sezhuan…. Mangkok keramik coklat terpahat kepiting… “
Setelah memencet tombol tutup, Hiro lalu mengembalikan hape itu ke suster. Dan tiba-tiba ambruk tertidur.
Hape tiba-tiba berbunyi lagi dan suster saking kagetnya sampai hampir menjatuhkan hape itu. “Ya?”
Terdengar suara yang berapi-api ingin berbicara dengan pembicara sebelumnya. “Dia sakit! Dia tidur!” Suster berkata dengan tegas. Sambil mengecek suhu tubuh Hiro yang berangsur menghangat.
----
“Tunggu2, ayo… cari resto dengan mangkok keramik coklat dengan gambar kepiting… dan ala Sezhuan.”
“Ada satu ini pak, di Hokkaido..”
----
Yohei penasaran terus mencari perkembangan berita gadis yang diculik.
Huah, siaran langsung…
Gadis itu dimasukkan ambulan, orang tuanya terlihat menangis terharu. Seorang detektif polisi yang galak diwawancarai begitu banyak wartawan.
“Pak, apa informan itu mempunyai hubungan dengan penculik?”
“Kita tidak tahu… harus diadakan penyelidikan.”
Suster yang merawat Yohei dan Hiro jadi ketakutan. “huah.. gimana nieh… beneran tuh gara-gara Hiro ngelindur pinjam hape?”
----
Belum sampai ½ jam berita berlalu, tiba-tiba seorang detektif wanita muda menjemput suster ini di front desk. “Bukan aku bukan aku…”
“Lalu mana orangnya?”
Suster itupun tergesa menunjukkan kamar Hiro dengan ketakutan. Suster kepala yang tahu ada masalah segera turun tangan. Ini rumah sakit. Pasien kalau bukan tersangka, jangan diganggu.
“Ya.. Saya hanya mau mengunjungi dia dulu… apa dia bangun?”
----
Detektif itupun masuk ke kamar Yohei dan Hiro. “mana yang Hiro?”
Yohei menunjuk ke pasien sebelahnya dengan heran.
Detektif itu meminta data Hiro dan meminta kepolisian mengecek bagaimana file Hiro di kepolisian. Sambil mengecek data yang dikirim lewat email pada I Pad-nya, cewek ini berujar:
“Huah, kamu nakal juga ya Nak… Sering dibawa ke kantor polisi rupanya, kamu kena banyak sekali kasus – tapi tanpa bukti… ditengarai terlibat perkelahian 25 kali, tertangkap di arena tanding liar 10 kali, tertangkap balapan liar 15 kali, wow, dan yang paling parah, kamu dilaporkan menghajar seluruh anggota Dojo. Ayahmu membayar ganti rugi banyak untuk itu …. ”
Yohei ikut terkaget. Dia tidak menyangka tampang Hiro yang kelihatannya alim ternyata lebih parah dari dia.
“Tapi aku bukan datang untuk itu… Kalau kamu bekerjasama… saya ingin tahu apa kamu dengar dari lingkunganmu info tentang gadis yang diculik itu…”
“Tidak ada..” ujar Hiro dengan cuek mencatat catatan pelajaran yang ketinggalan di sekolah.
Detektif itu terlihat gemas. Dia merampas bolpen Hiro. “Lihat aku… dengar…. Kamu bisa terseret kasus ini…”
Hiro terlihat menghindari kontak mata dengan detektif ini. Dia menunduk. Detektif inipun mengeluarkan secarik foto dan menyodorkannya ke muka Hiro. “Ini.. pandang foto ini.. kamu kenal? Atau pernah dengar namanya?”
Yohei melihat ekspresi Hiro yang terlihat mengerikan dari samping. Keringat mengucur pada dahi… nafasnya jadi tersegal…. Dan memegangi dadanya dan terlihat kesakitan…. Detektif itupun panic. “Apa yang sudah kau buat?” Suster kepala menyalahkan.
Entah kenapa polisi begitu saja berhenti mengobok-obok Hiro setelah mereka tahu Hikaru adalah adik Hiro. Yohei melihat Momoko dan Hikaru menjemput Hiro di Rumah Sakit. Seluruh biaya rumah sakit untuk mereka berdua ditanggung orang tua gadis yang diculik itu. Mereka sangat berterimakasih pada Hiro. Yohei heran kenapa Hiro juga memohon mereka untuk membayarkan biaya dia juga. Aneh… Mungkin Hiro baik hati… tapi tetap Yohei tetap merasa jengkel atau lebih tepatnya marah pada dirinya: kenapa Kyoko menyukai Hiro… Hiro…. Yang ternyata tidak buruk juga, membuat dia semakin marah pada dirinya, tetapi kejadian aneh yang menimpa Hiro di kamar bersamanya tidak bisa dia lupakan.
“Kenapa?” Naruto melihat Yohei melamun terus sejak keluar dari RS.
“Hiro… aku memikirkan Hiro… ada yang tidak beres dengan anak itu…”
“Tidak beres? Kenapa?”
“Kayaknya dia sejenis paranormal atau semacamnya..”
“Heh? Benarkah??”
Sore itu, Kyoto mengajak Sakura pergi ke apartemen Hiro untuk membawakan makanan sambil mungkin membantu Hikaru mengganti perban Hiro.
Tapi pemandangan di apartemen Hiro dan Hikaru sangat mengejutkan Kyoko…
Ternyata dia tidak mengenal Hiro sama sekali. Hiro yang terlihat aktif, memang atlit dan tangkas serta cekatan ternyata suka bermain Igo.
2 jam Sakura dan Kyoko di apartemen Hiro dan Hikaru… hanya menonton mereka bermain igo. Tidak enak hati minta nonton TV setelah menolak tawaran Hikaru untuk nonton DVD. Permainan kancing hitam putih yang membosankan. Tapi mereka melihat kedisplinan…
Ada jangka waktu maksimum untuk berpikir. Gerakan jemari sangat berhati2 pada papan agar tidak menyenggol kancing yang udah ada di papan. Seluruh gerakan dicatat. Ada 2 kitab catatan permainan lagi milik Hiro yang warna covernya berbeda. Sedang Hikaru ada 3 kitab lagi dengan cover yang berbeda2.
Iseng Sakura membuka-bukanya dengan asal. Semua kitab masih belum habis terpakai. Huah, kenapa bahasanya tidak ada yang sama. Seperti bahasa Mandari tapi dengan pola huruf melengkung-lengkung seperti huruf Mandarin jaman kuno
Lalu huruf yang ini sangat aneh. Sepertinya kode2 saja. Aneh, kenapa tulisan mandarin kuno ya?
Sakura menebak kerdus2 berdebu yang ada dipojok ruangan mungkin isinya kitab catatan permainan juga.
Sepertinya Hiro kalah…
“Maaf.. kalian terlantar… Kalian makan malam disini ya…”
“Iya… jangan repot… Saya masakkan saja.” Kyoko tidak enak hati.
Hiro tetap tersenyum berjalan kea rah dapur.
Apartemen yang cukup lumayan. Luas dan lega hanya untuk dihuni 2 orang. Begitu banyak meja igo di apartemen ini. Buku2 dan majalah igo berjajar rapi di rak dan berserakan diatas lantai dalam keadaan terbuka. Bahkan ada meja2 igo yang diletakkan berjajar diatas meja lain. Banyak kancing hitam putih yang masih menghiasi papan2 itu. Mungkin Permainan yang belum diselesaikan. Mungkin belum ketemu penyelesaiannya. Dipending dulu. Sakura berhipotesis. Karena itu itulah, Sakura melarang Kyoko sebelumnya yang hendak memunguti buku yang berserakan dan menatanya.
Kyoko diam terkaget melihat Hiro yang ternyata cekatan dalam memasak. Gerakan Hiro secepat koki dapur pada kedai mereka. Bau harum menyeruak didalam ruangan. Aroma lezat masakan ala Perancis itu menggoda hidung Sakura dan membuatnya susah berkonsentrasi meneliti ruangan apartemen Hiro tanpa menyadari Hikaru dari tadi memperhatikannya terus.
Hiro dan Hikaru terlihat sebagai saudara yang kompak dan saling mengasihi. Hiro terlihat sangat menyayangi Hikaru.
Saat perjalanan pulang…
Kyoko berkata: “Ternyata Hiro jago masak ya… dan sangat sayang Hikaru…”
Sakura: “Ya… sangat sayang…. Mungkin kalau adiknya bilang supaya Hiro jadian ama kamu, Hiro pasti melakukannya. Kelihatannya seperti itu…”
“Benarkah?” Kyoko kaget mendengar ucapan Sakura.
Tiba-tiba kilasan ingatan akan bagaimana Hiro berjuang mati-matian melindungi dia dari geng luar kota dulu memenuhi ingatan Sakura. Tatapan mata Hiro yang begitu tulus tidak dapat dia lupakan.
----
Geng luar kota yang hendak menghabisi Yohei dibebaskan dengan jaminan….
“Sial…. Bekingnya pasti besar…” Yohei berkesimpulan.
“Tapi siapa?” Kiba menimpali.
“Bukan hanya siapanya itu yang penting… tapi lebih terpenting siapa-nya itu bisa melakukan apa terhadap kita?”
Kiba dan Naruto mengernyit: kayaknya ntar bakalan tambah parah dan berbahaya…. Chikuso… Tugas mereka akan bertambah berat… tidak hanya Yohei dan gengnya… tapi juga sekolah Teitan…. Kyoko dan rekan sekedainya… lalu Hiro…
----
Naruto dan Kiba menceritakan kesulitan mereka pada Kakashi terutama tentang dibebaskannya geng luar kota lalu. Apa mereka akan dapat bantuan dari Konoha?
“Tidak??!!” Naruto terkaget.. “Kenapa? Hanya bantu observasi kedai dan Hiro aja tidak ada orang?”
“Yah.. sayangnya sebagian besar ninja masih dikirim membantu desa sebelah yang masih terkena bencana alam.”
----
Naruto dan Kiba pun menemui Sakura di kedai dan menceritakan perihal bebasnya geng luar kota itu. Kyoko jadi sangat ketakutan. Mereka jadi tambah terkejut saat hujan begini, Hiro datang membawa peralatan.
“Ngapain?” Naruto heran.
“Menambal dinding berlubang yang kena peluru waktu lalu.” Jawab Hiro riang.
Tatapan Naruto lalu tertuju pada tatapan Sakura pada Hiro….
Naruto menggeram marah… Tatapan Sakura pada HIro…. Seperti itulah Sakura saat menatap Sasuke dulu…. Tapi Hiro mirip apanya dengan Sasuke ya? Sasuke saat masih bersama mereka… yang pendiam, sok dan menjengkelkan…. Hiro.. pendiam tapi menyenangkan… menyenangkan seperti api unggun hangat di cuaca yang dingin…
----
Setelah Hiro selesai membetulkan dinding dibantu Naruto dan Kiba, Hiro memasakkan mereka sebagai rasa terimakasih dibantu Kyoko.
Naruto meminta Sakura untuk berbicara 4 mata dengan dia.
"Apa kamu suka Hiro?"
Muka Sakura memerah. "Apa??!" Sakura mencoba menyanggah, tapi tidak berdaya. Tanpa menyadari Kiba dan Akamaru diam menunggui mereka diambang pintu.
Naruto menjadi sangat jengkel.
Kiba tiba-tiba menimpali "Kita tidak boleh terlalu terikat secara emosional. Kendalikan diri kalian. Sepertinya mereka sudah kembali"
Suara lembut Kyoko memanggil mereka bertiga untuk makan. Saat yang membahagiakan bagi Kyoko. Memasak dan makan bersama orang yang disukai.
-----
Kiba dan Naruto berebutan makanan itu. Masakan yang jauh lebih enak dari traktiran Yohei waktu itu. Yah, masakan Hiro sangat enak.
Sakura berkomentar "Masakan Hiro enak, tidak ingin jadi chef aja?"
"Chef? Tidak."
"Lho kenapa?"
"Aku terlalu moody, tidak suka masak sesuai pesanan."
"Ouw?"
Naruto menimpali "Tapi kamu terlihat rajin dan bisa kerja sesuai perintah."
"Tidak."
"Hee? Apa maksudnya?" Kiba heran menyelidik ke mata Hiro.
Hiro membuang pandangan ke arah sup yang mulai terkuras habis. "Kalian mau tambah ya... Kumasakkan menu lain."
-----
Setelah menunggu beberapa lama...
"Huah... mie..."
"Rasanya unik. Tidak seperti soba, ramen...."
"Huah... ada telur burung dara-nya... cute.." Sakura senang,
"Hmmm.... enak sekali..." Naruto menyeruput mie itu. "Kuah kentalnya enak, ada jamurnya, ada telur nya."
Tapi Kiba terlihat bingung dengan ekspresi Akamaru.
Akamaru terlihat sedikit waspada memandangi Hiro.
Kiba melihat Hiro. Ada yang aneh... Tapi entah apa. Tatapan matanya seperti berubah. Hiro sepertinya terlihat sedih.
"Hiro, kamu tidak makan?" Kiba menyelidik.
"Sudah kenyang..." Hiro menoleh kearah Akamaru yang memandanginya terus.
Hiro berdiri. Dia berjalan kearah Akamaru lalu mengelus kepalanya.
Akamaru sempat terlihat ketakutan tapi tiba-tiba Akamaru terlihat diam tenang sekarang sambil memakan potongan daging dari telapak tangan Hiro.
Kiba keheranan dengan adegan itu tanpa menyadari kalau Sakura juga memperhatikannya.
----
Tiba-tiba, telpon di kedai berdering...
Teriakan Yohei di telinga Naruto dapat terdengar oleh yang lainnya.
"Huah, gawat, sekolah diserang gangster luar kota itu." Naruto bergegas pergi dengan Kiba dan Akamaru.
"Hiro, kamu bawa pergi Sakura dan Hiro dari sini. Kemana aja yang penting aman..."
"Ya.." Hiro bergegas pergi diikuti Kyoko yang ketakutan dan Sakura yang waspada.
"Naik motor bertiga?" Kyoko ragu.
Sakura jadi tidak enak hati. "Eh, aku naik bus aja ke mall. Kan aman."
"Kita bertiga naik bus aja." Hiro memutuskan. Tapi baik Kyoko maupun Sakura merasa Hiro agak aneh.
----
"Kenapa ke sekolahmu, Hiro?" Sakura heran.
Hiro tidak menjawab.
Hiro membawa mereka masuk ke sekolahnya, dan membawa mereka ke rumah kaca.
"Sembunyi sini... Sini aman." Tak lama kemudian, Hiro membawa selimut, bantal dan kasur lipat. Tidur dekat tanaman bunga lavender itu biar nyamuk agak sedikit.
"Ya..."
"Hiro, kamu mau kemana?"
"Mau cari Hikaru sebentar."
----
Keadaan begitu kacau di sekolah Yohei. Banyak anak sekolah yang tidak tersangkut geng Yohei ikut jadi korban. Banyak dari mereka yang lari berhamburan keluar sekolah dan masuk ke sekolah Hiro yang relative dekat dengan sekolah mereka.
Geng luar kota pun dengan beringas merangsek masuk ke sekolah Hiro.
Tapi saat masuk sekolah itu….
Kenapa sepi ya…. Seharusnya masih banyak anak di jam pas buyaran sekolah. Apa sekolah ini pulang pagi ya?
Tiba-tiba….
Hawa begitu panas menyeruak dari bawah….
----
Polisi pun datang dengan detasemen khusus dan menangkap semua geng luar kota yang tersisa. Ada 50an orang hilang tanpa jejak….
“Kakashi sensei, menurut sensei, kemana 50 orang itu hilang ya?”
“Ah, masih harus diselidiki, tapi prioritas kita melindungi Yohei sekarang sesuai permintaan klien.”
“Sampai berapa lama lagi, sensei?”
“Sampai geng luar kota itu dapat diproses di pengadilan dan menjalani hukuman…”
“Pimpinan geng luar kota itu juga menghilang. Sensei?”
Kakashi hanya diam penuh arti. Dia terlihat kepikiran sesuatu.
---
Sementara itu, Yohei dan gengnya diinterogasi. Naruto, Kiba juga menunggu giliran ditanyai polisi. Mereka semua tidak ada yang tahu perihal hilangnya ke 50 orang geng luar kota yang merangsek masuk ke sekolah Hiro. Sekolah Hiro hari itu, memang kebetulan pulang pagi karena ada acara untuk mendukung pertandingan final judo antar sekolah. Dan penjaga sekolah memastikan tidak ada murid yang masih hang out di sekolah waktu itu.
Hasil dari sekolah itu membuat Naruto dan Kiba berpikir apa Sakura ya?
---
Setelah bebas sementara dari kantor polisi tapi wajib lapor, Naruto dan Kiba bergegas ke kedai Kyoko dan Sakura bekerja. Dengan penasaran mereka bertanya tentang perihal masuknya 50 orang geng luar kota itu.
Sakura dan Kyoko mengaku ketiduran dengan pulas beberapa menit setelah Hiro meninggalkan mereka di rumah kaca.
----
Akamaru tiba-tiba menggonggong keras memandangi TV. Berita tentang kepala geng luar kota itu. Kepalanya ditemukan tergantung di jembatan penyeberangan. Jantungnya dikirim dalam panci sup ke kantor polisi beserta alamat kepalanya.
Entah apa yang terjadi pada tubuhnya.
Penelitian polisi menyatakan: sesuatu yang kuat mencopot kepalanya secara instant dan sisa-sisa serpihan tulang iga yang tertancap pada jantung yang sudah tidak utuh lagi menunjukkan sesuatu tenaga yang kuat menembus tulang iganya dan menggenggam jantungnya dan menariknya keluar.
Sadis sekali… tapi polisi yakin pasti bukan perbuatan manusia.
----
Tanpa pemimpin dan ketakutan akan nasib pemimpinnya, geng luar kota itupun segera mengaku salah dan memohon agar dipenjara di luar kota saja.
Tugas Naruto, Kiba dan Sakura pun selesai. Sakura pun dengan berat hati berpamitan pada Kyoko. Entah Kyoko kelak berhasil tidak menarik hati Hiro. Hatinya terasa agak sakit kalau memikirkan hal itu. Pikirannya selalu dipenuhi wajah Hiro kala dia dilindungi Hiro dari serangan geng luar kota.
Mata yang begitu tulus…
His eyes…
Tell nothing but…
I shall protect you…
Even no words came out from his mouth…
His eyes…
So sincere...
Hati terasa begitu teduh saat melihat tatapan mata Hiro.
----
Naruto, Kiba dan Sakura bergegas masuk kedalam kereta api. Hati mereka begitu dongkol saat tahu mereka masih harus menjalankan misi kombat membantu tim lain di kota seberang.
Musuh yang menyerang di daerah rawan di kota itu cukup beringas dan sulit ditangani. Mereka ber-6 mati-matian berjuang membantu agar sederet pemilik toko di sebuah gang tidak jadi korban. Setelah mati-matian bertempur dengan shuriken, jutsu mereka, mereka pun berhasil mengalahkan dan menghalau musuh dari toko itu.
Tapi mata Sakura menangkap sesosok wajah yang begitu dia kenal…
Hiro…
Hiro terlihat kaget…. Lalu berjalan menuntun motornya berjalan gontai melewati Sakura begitu saja tanpa bertegur sapa…. Lalu menyalakan motornya dan menghilang dengan cepat dari balik tikungan.
“Hiro…” Sakura hampir menangis. “Pastilah dia sangat marah… mengingat peristiwa-peristiwa sebelumnya… aku.. seharusnya bisa melawan dan membantunya kala itu… tapi ….tidak kulakukan.”
Ekspresi Sakura membuat Naruto bergegas dengan marah dan jengkel mengejar Hiro….
Tapi aneh…
Hiro menghilang begitu saja…
Naruto tidak dapat menemukan jejaknya…
Bahkan Akamarupun tidak bisa menemukan jejak bau Hiro… sepertinya dia hilang ditelang tembok2 gang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar