meww

meww
meww

Rabu, 02 Maret 2011

Pagi itu,

Bergerombol begitu banyak anak2 di desa Konoha memandangi sesuatu. Naruto begitu penasaran, apa yang mereka lihat?

Seorang pria setengah baya keluar dari mobil itu. Mobil yang mewah dengan sopirnya menunggui pria itu disamping mobil. Pria itu berjalan sendiri sambil sesekali mengelus kepala anak2 yang bergerombol di samping mobilnya.

Dia terlihat berbincang dengan salah seorang anak dan anak itu terlihat dengan senang hati menunjukkan jalan buatnya. Mau kemana orang itu?

---

“Tsunade… ada orang mencarimu.”

“Siapa?”

Seorang pria cukup keren dimata Tsunade berdiri menunggu Tsunade yang sedang duduk di kedai minuman siap untuk ‘menemui’ dia.

Tsunade mempersilahkan dia duduk.

Pria itu menyodorkan foto. Tsunade terlihat sedikit terkejut saat memandangi foto itu.

“Dia… anakku. Saya ingin menyewa kalian untuk menjaga dan menyelidiki apa aja yang dia lakukan. Saya sudah menyewa detektif untuk mengikutinya sepanjang waktu tapi tetap ada begitu banyak timing, dia tidak dapat terdeteksi…”

“Kenapa kamu ingin anakmu diawasi?” Tsunade menyelidik.

“Saya tidak ingin hal yang buruk terjadi padanya. Anak saya tinggal 1 itu aja setelah adiknya meninggal.”

Tsunade mengernyit.

“Saya dengar dari anak2 kalau desa masih kekurangan… saya bayar DP ini untuk membantu kekurangan… Oh ya, ini hanya sedikit untuk membantu anak2 manis diluar, belikan mereka buku2 dan alat2 permainan yang bermanfaat…”

Tsunade melotot memandangi segepok uang itu.

“Ohya, Bu, kalau bisa, saya ingin ketemu gadis itu.”

“Gadis? Gadis mana?”

“Gadis ini!” suara pria itu terdengar agak muntab saat menyodorkan secarik foto pada Tsunade.

---

Sakura keheranan diperintahkan Tsunade untuk duduk manis menunggu seseorang dibawah pohon. Helai-helai daun yang menguning menghiasi tanah yang berwarna coklat kehijauan berlumut.

Hatinya terkejut saat matanya menangkap sepasang sepatu hitam yang agak lusuh terlumuri lumpur. Diapun memandangi wajah pemilik sepatu itu. Agak mirip dengan seseorang yang pernah dia lihat. Tapi siapa?

“Sakura?” Suara bariton pria itu menyapanya.

“Ya? Betul.”

“Apa kamu ingat Hiro?”

“Ya…” Sakura tersentak melihat kemiripan pria itu dengan Hiro.

“Saya ingin tahu… kenapa kamu tidak melindungi Hiro waktu itu? Padahal kamu mampu. “

Rasa bersalah melingkupi hati Sakura. Dia tidak sanggup berkata apapun selain menunduk.:

“Saya ingin tahu pendapat kamu: mana yang lebih penting: perintah misi dan tetap menjalankan tugas sesuai kode etik atau…. Keberhasilan misi untuk melindungi seseorang?”

Sakura terdiam. Pikirannya melayang pada ekspresi Hiro saat terakhir melihatnya. Hiro…pasti sangat marah padanya…

“Saya ingin mengajukan tantangan padamu…” Suara pria itu agak bergetar menahan amarah. Tapi Sakura tercekat tersadar sesuatu… “Kenapa pria ini tahu tentang Hiro dan dia?”

Rasa penasaran membuat Sakura mengangkat wajahnya dan bertanya “Pak, Bapak kok tahu peristiwa itu? Bapak ada kepentingan apa dengan Hiro?”

“Hiro… anakku… kamu heran kenapa aku juga tidak melindunginya?”

Sakura semakin terheran tersadar kalau itulah kelak yang akan dia pikirkan dari orang yang terlihat care kepada HIro.

“Hiro, benci kalau tahu aku melindunginya. Tentang tantangan untukmu.”

“Yah?”

“Kamu sanggup menjadi teman super dekat Hiro dan cari tahu apa aja yang dia lakukan?”

“hah?”

“Sanggup menjalankan tantangan ini?” Pria itu mendesak Sakura.

“Sanggup..” Sakura walau masih begitu banyak tanda tanya di hatinya.

----

Naruto memandang heran kepada pria yang beranjak pergi dari Sakura yang sedang terbengong. “Siapa dia?” Naruto bertanya kepada Sakura.

“Ayah Hiro?”

“Ayah Hiro??!! Ngapain dia? Ngomong apa ke kamu? Jangan bilang kalau dia marah kepadamu karena dia tahu kamu tidak melindungi Hiro waktu itu.”

Mata Sakura berkaca-kaca sedih. Naruto geram dan mengejar pria itu.

“Pak, Bapak…” Naruto meneriakinya dengan kurang sopan.

Pria itu menoleh kepadanya dengan tenang dan santai. “Ya?”

“Bapak tidak boleh begitu kepada Sakura! Dia kan hanya menjalankan perintah! Kami tidak boleh ketahuan kalau kami ninja waktu itu.”

“Yah, Bapak mengerti.”

“Lalu kenapa Bapak masih marah pada Sakura?!” Naruto geram dan penasaran.

“Gadis itu, Sakura… Aku bisa saja kehilangan Hiro saat Hiro melindunginya… Aku, sangat marah, tapi tidak berdaya… semua itu pilihan Hiro…”

“Eh?” Naruto tidak paham dengan ceracauan pria ini.

“Kamu… sepertinya sangat gigih.” Pria itu memandangi Naruto. Muka Naruto kemerahan. “Yah, tentu saja, aku pasti akan melindungi klien sampai bagaimanapun.”

“Yah… terlihat jelas. Kamu rekan seteam Sakura?”

“Ya.”

“Bantu Sakura ya… melindungi Hiro… “ Pria itu membungkuk pada Naruto sampai Naruto sangat sungkan dan ikutan membungkuk.

---

Jantung Sakura dan Naruto begitu berdebar dan muka mereka terlihat sangat tegang. Tampang mereka sangat mengganggu Shikamaru.

Tapi ada hal yang lebih mengganggu Shikamaru… Aneh misi ini… mengirim dia, Sakura, Naruto dan Neiji… tapi dengan dampingan guru yang cukup banyak Yamato, Kakashi dan Guy. Misi ini pasti sangat berbahaya.

Shikamaru membalik halaman ingatannya: misi utama mengintai untuk melindungi seorang cowok bernama Hiro dan adiknya Hikaru.

Tugas dia dan Neiji adalah menjadi siswa di sekolah Kanzai high school. Dia ikutan klub Igo dan Shogi. Neiji mengawasi sekitar sekolah.

Dia paham kalau Naruto dan Sakura sudah dikenal sebelumnya oleh Hiro, mungkin karena itulah mereka tegang. Tapi entah kenapa mereka hanya ditugasi jadi tetangga apartemen Hiro nanti, tidak ikutan sekolah.

Guru Guy juga ditugasi menyamar jadi guru olah raga di sekolah itu. ‘kebetulan’ yang kebangetan kebetulannya: Guru olah raga disekolah itu pindah. Kasihan anak sekolah itu, pasti akan sengsara seperti Lee. Bayangkan latihan Lee aja, badan Shikamaru sudah sakit semua.

Tidak boleh menunjukkan jurus ninja di sekolah dan sekitarnya.

----

Iseng Shikamaru dan Neiji browsing dulu ke calon sekolah mereka yang baru. Kanzai high… Sekolah megah… terlihat mewah… tapi murid2nya sepertinya tidak eksklusif golongan kaya. Gedung igo… sangat megah… Shikamaru mengerti mengapa sekolah ini begitu megah… entah kenapa ada 7 pemain professional igo remaja yang bersekolah disini. Wow… Shikamaru membayangkan asyiknya bermain igo dengan pemain pro.

“Neiji, menurutmu kenapa ya sampai 3 guru dikirim bersama dengan kita?”

“Iya, aku juga merasa aneh.” Neiji yang terlihat serius mengawasi sekitar. Dia sangat ingin menggunakan byakugannya tapi teringat larangan.

Mata Shikamaru menangkap seorang anak cewek yang sedang berlarian kearahnya mengejar bola voli. Bola itu menggelinding kearah kakinya. Shikamaru memungutnya.

Manis juga dan suaranya sangat cute saat berucap terima kasih.

---

Sedang Neiji memandang kearah lapangan basket di luar areal sekolah. Lapangan yang aneh. Tertutup semua seperti kurungan burung yang besar. Mungkin biar bola tidak terpental ke jalan. Biar tidak ada anak yang tertabrak mobil saat mengejar bola.

-----

Naruto dan Sakura berjalan agak gemetar dan bimbang ke kamar apartemen mereka bersama dengan guru Guy. Sakura juga agak merasa tidak nyaman perempuan sendirian di kompleks apartemen yang masih kosong. Dia berharap seharusnya Hinata atau Ten-ten atau kalau kepepet Temari juga boleh menemani misinya kali ini.

Mata Sakura dan Naruto terus menatapi selembar pintu apartemen tetangga kiri mereka. Mereka antara berharap dan tidak agar Hiro tiba-tiba membuka pintu itu dan melihat reaksi Hiro. Suara keras guru Guy mengagetkan mereka. Guru mereka yang ber-hair style unik ini terdengar sedang ngobrol dengan seseorang. Suara yang Sakura pernah dengar waktu lalu… Suara Hikaru…

Sakura langsung menoleh ke sumber suara itu. Tabrakan mata antara Sakura dan Hikaru…

Hikaru…

Tidak terlihat marah. Dia tersenyum pada Sakura dan Naruto. “Konbawa… Huah, senang nya ada tetangga sekarang disini… Kompleks atas agak sepi, orang-orang malas terlalu tinggi dan apartemen bangunan sebelah jauh lebih murah tarifnya.”

“Mungkin Hiro tidak bercerita apapun kepada Hikaru tentang aku.” Sakura menebak setelah melihat reaksi Hikaru

“Kakak, suka main game?” Hikaru ramah menanyai Naruto.

“E… “ Naruto agak kebingungan dengan perubahan atmosfer yang dia rasakan. “Ayo kak, besok aku libur… Kakak main game dulu aja ke apartemen ku… makanan jangan kuatir… “ Hikaru membujuk Naruto yang terlihat ragu-ragu. Guy melihat ini kesempatan bagus, mengkode Naruto untuk ikut Hikaru.

---

Naruto tidak bisa berkonsentrasi bermain. “Sial…” akhirnya dia bertanya “Kakakmu, kapan pulangnya?”

“Kakakku…” Hikaru terlihat agak sedih dan kepikiran sesuatu.

“Ke kenapa?” Naruto heran.

Tiba-tiba Hikaru berdiri, “Sebelumnya… aku atas nama kakakku mau mohon maaf dulu sebesarnya…. Kakakku mungkin sudah melupakan kalian. Maaf ya..”

“Melupakan?” Naruto terkaget. “Bagaimana mungkin seorang bisa lupa dengan orang2 yang pernah terlibat kejadian gawat seperti itu?” Benaknya penuh dengan tanda tanya.

“Kakakku… sangat pelupa… ada ketidak-normalan dalam ingatannya. Kalau dibilang amnesia sementara, ya tidak seperti itu. Kakakku kadang sangat ingat orang yang baru ditemuinya. Yah, semoga aja kakakku ingat kalian…”

“Semoga dia lupa….” Naruto berharap dalam hatinya.

----

Sakura mengetuk pintu apartemen Hikaru untuk memanggil Naruto yang sudah kelamaan bermain dan sudah larut malam. Besok mereka harus pergi ke tempat kerja yang baru. Saat akan mengetuk pintu, tiba-tiba bayangan seseorang yang lebih tinggi darinya menghiasi daun pintu itu.

“Hah?” Sakura menoleh kebelakang.

“Hiro….” Sakura terbelalak, takut menunggu reaksi Hiro.

Tapi…

Hiro tersenyum. “Kamu cari siapa, nona?”

“Eh?!” Sakura keheranan.

“Ca.. cari te te teman…” Sakura tergagap.

“Dia didalam sini?” Hiro bergegas membuka pintu.

“Hii….ka…” Hiro bersiap meneriaki Hikaru saat masuk.

“Onni-chan…” Hikaru tersenyum senang.

“Kenalin dia Naruto dan itu Sakura…” Hikaru bergegas menghampiri Hiro setelah me-nge- PAUSE game-nya.

Naruto terlihat begitu tegang menunggu reaksi Hiro. Tapi Hiro malah melihat Naruto tidak begitu sehat. “Kamu sakit?”

“Ti tidak…”

“Kalian sudah makan?”

“Sudah… “ Hikaru riang.

“Kakak… besok jalan2 yuk… aku libur… ajak Naruto dan Sakura juga “ Hikaru bergelayut manja di atas kursi.

“Tapi… besok kami mau melapor ke tempat kerja…” Naruto bertukas tanpa berpikir. Kemarahan pada wajah Sakura membuat dia tersadar kalau dia baru saja salah bicara.

“Kakak, ayo besok, kita antar mereka… mereka tetangga kita sekarang.. setelah 5 bulan ini tidak ada tetangga di kompleks sini… Kakak jangan lupa… besok kakak kan libur juga…” Hikaru mengingatkan untuk menodong.

“Ah ya, ya… besok kita antar. Kalian mau kerja dimana?” Hikaru melihat kearah Sakura. Sakura dapat melihat dari sinar mata Hiro… bahwa Hiro terlihat tidak mengenalinya lagi dan Naruto.

----

Hari yang cerah….

Shikamaru sudah tidak sabar untuk mendaftarkan dirinya di gedung pelatihan igo di ‘sekolah barunya’. Neiji juga aneh2, mau ngendon dekat lapangan basket aneh di dekat sekolah.

Shikamaru melihat seorang anak SMP bermain serius sendirian di ruangan yang kosong. Sekolah libur. Tidak ada yang berlatih igo. Malas… asyik juga, suka-suka, tidak repot. Iseng Shikamaru mendekati anak SMP itu. “Butuh teman main?”

Anak itu terlihat terkejut. Anak cowok tapi bishie sekali. Cantik. Matanya sayu. “Ya, boleh.” Anak itu malah mengajak Shikamaru pindah meja. “Kenapa tidak pake yang itu saja?”

“Oh… itu bukan mejaku… aku cuma lihat-lihat catatan permainan mereka.”

“Ooo….” Shikamaru iseng melihat sekeliling dan tersontaklah dia. Wow, begitu banyak meja yang masih ada butir2 igo-nya. Banyak permainan belum terselesaikan.

-----

Neiji menunggu dengan telaten siapa-siapa aja yang bermain dalam lapangan basket aneh itu. Anak SD dan SMP sering main disana. Tidak ada yang special. Neiji pun memilih pergi dari pengintaian.

---

Beberapa hari kemudian, dalam flat mereka, Shikamaru dan Neiji berbincang serius tentang tugas-tugas mereka saat menyelidik di sekolah itu. Segala sesuatunya dilaporkan lewat fanfic kepada nyonya Hokage. Mereka berdua terpaksa bersusah2 mengarang cerpen untuk memberikan laporan tentang apa yang mereka lakukan.

Neiji memutuskan untuk lebih dekat dengan obyek yakni menjadi co-manajer team sepak bola. Dia bertugas membantu cewek yang adalah manajer tim itu yakni Momoko. Momoko cukup sibuk, selain manajer team sepak bola, dia juga manajer tim basket. Selain manajer, Momoko juga membantu melatih tim sepak bola. Seandainya ada tim sepak bola campur mungkin Momoko udah menduduki posisi striker. Tidak ada tim sepak bola cewek dan tim basket cewek di sekolah itu.

Shikamaru bulat mengikuti ekstra kuri Igo. Dalam hatinya Shikamaru berpikir pasti akan sangat merepotkan Neiji berada dibawah perintah seorang cewek yang dia tahu reputasinya ‘luar biasa’.

Sambutan untuk Neiji sebagai co manajer cukup hangat. Ke-bete-an Momoko karena beratnya tugas dia jadi agak berkurang. Tim senang dengan kehadiran Neiji, intensitas mereka dimarahi Momoko jadi berkurang. Kazuhiro, kapten tim sepak bola, bermaksud mengikutsertakan Neiji dalam perbincangan strategi dan taktik tim juga.

Tapi…Hal aneh dialami Neiji:

Kazu: “Neiji, ini Hiro, kiper cadangan…”

Neiji: “Senang bertemu denganmu…”

Hiro: “ Iya.. “ sahutnya ramah dan menyodorkan tangannya. “Cukup tinggi anak ini. Hiro… obyek kita.” Neiji berpikir dalam hati sambil menyambut tangannya.

Kazu: “Hiro, ingat baik2 wajahnya… ya?”

Hiro tidak menjawab, dia hanya memandangi Neiji yang sedang sibuk menghitung baju tim yang akan dia laundry. Neiji yang dipandangi terus jadi tidak enak.

Kazu terlihat tidak menyukai scene itu.

Kazu: “ Yah. Hiro, kamu bantu aja Neiji membawakan sebagian baju itu ke tempat laundry.”

----

Sore itu, Neiji berkesempatan berbincang dengan kiper utama tim, Miharu.

“Belum pulang?”

“Belum.”

“Saya masih harus berlatih fisik. Tolong ayunkan kantung pasir itu ya.”

Neiji pun mengayunkannya. Miharu dengan cepat berusaha untuk menghentikan kantung pasir yang bergerak tak tentu arah dengan menggila. “Aduh..” Miharu terjatuh terdorong kantung pasir itu. “Kau tidak apa?” Neiji agak khawatir dan heran

“Ya, tidak apa.”

“Apa striker tim tidak bisa membantu memberikan latihan khusus?”

“Sudah. Tapi striker lawan nanti sangat tangguh.”

“Tangguh?”

“Yah..”

“Apa kamu tidak berlatih terlalu keras? Nanti sebelum tanding, kamu bisa cedera duluan.” Neiji meminta pertimbangan Miharu.

“Yah.. seandainya… aku bisa setangguh Hiro..”

“Hiro? Dia kan cadangan?” Neiji heran.

“Hiro… sangat tangguh… olah raga unik yang dia ikuti sebelumnya sangat membantu kukira..”

“Olah raga unik?”

“Iya… kamu tidak akan percaya… dia pernah ikut latihan serius gulat Mongolia dan sumo…”

“Sumo?”

“Iya, sumo… entah kenapa pelatih sumo mau menerimanya. Padahal secara fisik, dia tidak ada potongan pemain sumo yang harus khusus itu.”

“Kenapa Hiro mau gabung tim sepak bola?” Neiji jadi agak merasa aneh.

“Dia gabung… sebenarnya gara-gara aku…” Miharu bercerita. Sambil istirahat, minum air jus, Miharu pun menceritakan kejadian yang pernah dia alami 6 bulan yang lalu.

---

“Malam itu, sehabis latihan, aku memutuskan untuk menerabas gang sepi untuk cari short cut ke rumah. Aku sudah sangat capek. Lusa pertandingan penting, pertandinganku yang perdana sebagai kiper tim.

Tak kusangka, di gang itu ada beberapa anak geng yang memaksa minta uang padaku. Uangku Cuma sedikit. Mereka marah dan aku berusaha lari. Tak kusangka mereka memukulkan pipa besi pada tungkai kakiku. Sakit sekali, aku tidak mampu berdiri lagi. Aku berteriak minta tolong.”

“Lalu Hiro datang. Aku tidak kenal akrab dengannya. Tapi reputasinya cukup buruk di sekolahku. Dia sering terlibat perkelahian dan sering berurusan dengan polisi. Hiro tidak menghajar anak2 geng itu, mungkin dia takut berurusan dengan polisi lagi.”

“Kebetulan ada mobil polisi lewat di jalan kira2 20m dari ujung gang. Dan hal yang dilakukan Hiro sangat menakjubkan bagiku. Dari ujung gang satunya, tempat dia berdiri, dia menendang kaleng begitu keras dan jauh sampe memecahkan kaca mobil polisi. Padahal Mobil polisi itu lewat dengan kecepatan kurang lebih 10 km/jam. Tentu saja polisi itu langsung berhenti dan turun menuju sumber kaleng yang memecahkan kaca mobil mereka. Hiro bersembunyi. Geng itupun kabur dan aku diselamatkan dan diantar ke rumah sakit.”

“Di rumah sakit, aku berpikir bagaimana pertandingan lusa. Kazuhiro dan teman2 lain juga bingung siapa penggantiku. Tim kami baru terbentuk. Kami hanya ada 11 orang saja. Aku tidak bisa bermain. 10 orang bagaimana bisa?”

“Malam itu, otakku terus me-rewind kejadian di gang itu. Bagaimana kalau Hiro? Akupun menelpon Kazu untuk minta tolong Hiro untuk menggantikan posisiku sementara. Besok minta dia latihan sebentar untuk setidaknya berlatih menendang bola dan memberikan operan yang bagus untuk teman2 ditengah lapangan. Tapi Hiro tidak muncul di latihan. Aku menelponnya untuk memohon padanya. Yang menerima telpon itu adiknya.”

“Saat pertandingan akan dimulai..

Hiro tidak juga muncul. Sampai akhirnya hampir mepet waktu untuk tidak kena WO, Hiro muncul.”

“Ternyata Hiro terlambat. Pintu gerbang sudah ditutup. Jadi dia memanjat dinding samping….”

“Kejadian yang sangat konyol sebenarnya..” Lalu Miharu terbahak-bahak sampai mukanya memerah. Neiji terheran2.

“Maaf… “

“Hiro setelah memanjat dinding itu. Dia pun melihat bangku yang diduduki beberapa orang anak. Diapun nimbrung duduk di situ. Dia baru merasa agak tidak beres setelah melihat Kazu di seberang lapangan.”

“Anak2 yang duduk disebelah dia ternyata adalah tim lawan… Tim lawan sampai berkacak pinggang jengkel melihat kelakuan dia. Kazu… kamu tidak akan dapat membayangkan bagaimana malunya dia… Dengan sangat terpaksa dan malu, Kazu berjalan ke tempat duduk tim lawan, membungkuk sebentar dan memanggil Hiro yang salah ambil posisi tempat duduk. Tim lawan pun ketawa terbahak2, mereka langsung meremehkan kami.”

“Karena Hiro kemarin tidak latihan, asisten pelatih terpaksa memberikan penjelasan dengan cepat2. Saking gugupnya, dia memberikan petunjuk yang memberikan persepsi yang salah kepada Hiro. Hiro berpikir bahwa areal yang harus dia lindungi adalah gawang, termasuk daerah samping belakang atas gawang. Jadi Hiro waktu itu berpikir: bola tidak boleh sampai masuk gawang, atas gawang, samping gawang.”

Neiji mengernyit “Apa bisa dia?”

Miharu yang sedang meneguk jus asal2an menjawab: “Hmm?”

“Dengar lagi kelanjutannya…

“Hiro luar biasa. Dengan sangat cepat dia bisa menampel bola hasil tendangan striker lawan yang merasa diatas angin sehingga tendangannya sedikit melenceng keatas. Untung dia berhasil oper ke Kazu. Walau tidak berhasil di daerah gawang lawan, tapi kami sempat memberikan tekanan. Itu sangat meningkatkan semangat tanding kami.”

“Striker lawan sempat menendang keras kearah gawang. Hiro berhasil menangkap bola itu. Tapi tiba-tiba dia menendang kearah pemain tengah lawan. Kami sangat kebingungan lihat kelakuannya. Tentu saja bola dengan cepat berbalik arah menyerang kami. Hiro berhasil menangkap bola itu. Lagi2 Hiro salah oper. Kazu sampai sangat marah waktu itu. Dia hampir saja menghajar Hiro sebab Hiro tidak terlihat tidak terampil mengopernya tapi lebih terlihat seperti sengaja salah oper.”

“Pelatih meminta Time Out setelah adik Hiro yang ikutan nonton berbisik sesuatu padanya.”

“Akhirnya kami tahu: Hiro buta warna. Karena warna baju cerah kami sudah mulai kotor, Hiro tidak bisa membedakan mana baju cerah tim kami dan mana baju gelap tim lawan. Hiro yang baru muncul hari itu, tidak bisa mengingat wajah kami, lagian jauh di lapangan pasti wajah kami juga tidak terlihat.

Kami pun memutuskan memakai kain ikat pada lengan kami agar Hiro bisa tahu mana teman timnya mana lawannya.”

“Tapi entah kenapa tim lawan bisa tahu, mereka memasang kain ikat pada lengan pada beberapa pemain tengah mereka, sehingga Hiro salah mengoper pada mereka.”

---

“Cara kotor mereka berhasil membuahkan 1 gol untuk mereka. Kami sangat marah. Hiro… entahlah… dia tidak terlihat marah juga tidak terlihat bingung. Dia mengkode Kazu: minta time out.”

Kami semua berdiri capai sambil jengkel. Hiro dengan anehnya berjalan mengitari kami terus menerus. Dia tiba-tiba berkata : “Ayo sudah, bermain lagi.”

“Tim lawan yang diatas angin menekan kami habis2an. Menekan kami yang kebingungan bagaimana. Hiro, waktu itu hebat seperti biasanya. Tendangan pemain lawan yang melenceng ke samping atas kanan gawang berhasil dia tendang kembali dengan tendangan salto. Yah… salah oper lagi deh dia. Tentu tim lawan segera menendang lagi kearah gawang kami, tapi Hiro berhasil menendang balik bola yang hampir masuk itu. Tendangan Hiro terlihat seperti salah oper lagi tapi tendangan dia kali ini tidak akurat. Bola itu benar2 menghajar wajah striker lawan. Kejadian itu 3-4 kali terulang. Kami baru sadar, tim lawan sedang dikerjai Hiro.”

“Di menit2 terakhir babak 2, skor kami masih imbang 1-1. Tiba-tiba Hiro memandang kearah tribun kearah adiknya, Hikaru. Waktu untuk dia bermain sepak bola sudah habis. Kalau ada perpanjangan waktu, dia tidak bisa mengikuti pertandingan igo. Setelah mendapat kode itu, begitu dia bisa mendapatkan bola dari tim lawan, Hiro menendang bola itu nun jauh ke atas. Mau apa dia? Hiro lalu berlari sangat cepat, secepat pelari sprint, dalam sekejap dia sudah dekat gawang lawan. Bola yang sedang diatas tiba-tiba menukik tajam kebawah dan Hiro menendangnya dengan sangat keras ke gawang lawan.. GOOL.. Hiro tiba2 membungkuk memberi salam kearah tim lawan yang sedang bengong, wasit, kami, pelatih dan lalu lari kabur memanjat tembok. Sesaat setelah bayangan Hiro menghilang, terdengar deru motor yang terdengar di kendarai dengan cepat. Beberapa detik kemudian, suara peluit tanda pertandingan usai berbunyi. Gool dari Hiro memenangkan kami.”

“Dramatis bukan? Sejak itu, walau bagaimana susah kami menyuruh Hiro berdisiplin berlatih dan banyak kesulitan lain yang kami hadapi karena dia, kami tetap menganggapnya anggota tim.”

Neiji heran “Hiro, tidak mau berlatih dengan disiplin…. Berarti dia tidak suka bermain bola…. Kenapa dia tetap bertahan disini? Sulit sekali bermain dalam tim kalau dia buta warna.”

“Hiro… sangat suka sesi strategi dan taktik lalu melihat hasilnya di lapangan. Kadang masukan dia walau unik tapi sangat brilian dan tim kami sampai bisa seperti sekarang ya berkat dia juga. Walau Hiro sangat kesulitan mengingat istilah2 tapi dia mulai cukup memahami aturan permainan.”

“Ohya, ngomong2, Hiro ikut tim Igo sekolah ya?” Neiji mencari tahu kebenaran berita.

“Tidak…” Miharu menyahut. “Kenapa?”

“Tidak ikut?”

“Iya, dia dilarang ikut, adiknya juga. Karena dia pemain Igo professional, tentulah akan sangat mengganggu keadilan kesetaraan pemain.”

“Hiro, pemain Igo hebat ya?” Neiji menyelidik lagi.

“Hmm.. sebagai pemain professional, ratingnya lumayan lah. Tapi pemain Igo professional yang paling hebat disini adalah Akira. Akira bisa menembus babak semifinal permainan Igo Asia Timur.”

“Akira?” Neiji pernah mendengar nama itu.

“Kenapa?”

“Apa Akira kenal baik dengan Hiro?” Neiji menyelidik lagi.

“Hiro? Tentu saja kenal. Bukan karena semata-mata mereka sama2 profesional. Tapi Akira terlihat sangat terobsesi dengan adiknya Hiro, Hikaru.”

“Hikaru?”

“Hikaru dulu pemain professional Igo yang lumayan tapi chart prestasinya naik turun sangat ekstrim. Dengar2 dia pernah sakit keras, jadi tidak bisa memenuhi kewajiban sebagai pemain Igo professional. Dulu Hikaru sempat bikin heboh, dengar2 sih virtual name dia di permainan Igo on line pernah mengalahkan pemain Igo professional terhebat, ayahnya Akira. Terus tiba-tiba si ayah ini mundur dari dunia per-igo-an, huah, Hikaru pun sempat mendapatkan masa2 sulit dan lalu katanya dia sakit keras. Tapi anehnya, dulu kami tahunya dia itu anak tunggal, Kok sekarang punya kakak?”

“Sekarang bagaimana chart Hikaru?” Neiji pun mulai merasakan keanehan.

“Dia sudah tanding dengan teratur tapi dengar2 sih katanya permainan dia kadang bagus kadang biasa kadang asal2an.”

Neiji pun merasa ini tugas Shikamaru untuk menguji Hikaru.

----

“Shikamaru, aku ingin kamu menyelidiki tentang kemampuan igo Hikaru.”

“Hmm, menjengkelkan, pemain Igo professional hanya boleh jadi tutor selebihnya mereka bermain sendiri dengan sesama mereka. Boleh dilanggar sih. Beberapa dari mereka yah kadang iseng main ama kita. Entah kenapa sepertinya ada dinding yang membuat mereka2 ini enggan bermain dengan kita secara serius. Sering meninggalkan permainan sebelum selesai kalau belum mengalahkan kami.“

“Akira… apa kamu pernah main dengan dia?”

“Akira… adalah maksud tujuan ku yang utama. Belum pernah. Dia sangat sibuk sepertinya dan waktunya disana betul2 total untuk tutoring dan bermain serius dengan sesama professional dan belum lagi dia bermain di tempat2 yang mengundang dia.”

“Bagaimana dengan Hiro dan Hikaru?”

“Hiro, sudah. Dia agak asal2an kalau main. Kalah ya tidak apa. Tidak seperti pemain professional yang lain yang agak jaga gengsi.”

“Shikamaru, apa kamu mampu membuat Akira tertarik bermain igo dengan mu secara serius?”

“Kenapa memangnya?”

“Ada yang aneh dengan Hiro dan Hikaru. Kukira mungkin Akira tahu sesuatu. Kamu pernah lihat Akira bermain dengan Hikaru?”

“Yah, agak aneh. Akira sering terlihat berusaha mengajak Hikaru bertanding dengannya. Tapi Akira sering marah dan tidak puas dengan permainan Hikaru. Entah kenapa? Dari gelagatnya sih, permainan Hikaru kadang sangat jelek kadang sangat brilian tidak stabil. Hikaru agak aneh, untuk pemain professional, dia sering terlihat tidak passioned dengan permainan Igo.”

“Cobalah bermain Igo dengan Hikaru sesekali waktu.”

----

Permainan terlama yang pernah dilihat anak2 di ruangan latihan Igo itu. Hikaru VS Akira. Udah 2 jam. Permainan masih berjalan alot. Shikamaru dan mereka semua bergerombol menonton pertandingan itu. Kadang tempo cepat kadang lambat. Shikamaru melihat sepertinya Hikaru tidak terlihat begitu sehat. Dia terlihat sangat lelah. Akira sepertinya terus memaksa dia untuk bermain terus. Tapi permainan Hikaru kali ini sangat bagus. Hebat… setelah 2 jam kemudian, Hikaru menang. Akira terlihat puas dengan permainan itu.

Shikamaru semakin penasaran ingin juga bermain dengan Hikaru. Pantas Akira sedemikian. Tidak ada seorangpun di ruangan itu yang sanggup mengalahkan Akira, kecuali Hikaru. Pemain yang sangat unik.

-----

Tapi keesokannya…

Hikaru tidak masuk sekolah. Hiro bahkan juga absen sekolah. Sepertinya sakit Hikaru cukup parah. Pada sore hari, 3 jam setelah sekolah buyar. Iseng, Shikamaru mendatangi rumah Hikaru sendirian. Neiji sibuk dengan tim sepak bola. Dari Neiji, Shikamaru tahu Hiro absen latihan juga. Mungkin dia menjaga Hikaru.

Tapi…

Setelah menggedor pintu apartemen itu selama 10 menit tidak ada jawaban. Shikamaru pun mencari jalan masuk dari tempat lain. Aha ada jendela kamar di balkon, tidak ditutup. Shikamaru pun masuk kedalamnya. Dia melihat Hikaru tidur sendirian. LHo?

Shikamaru-pun menuju pintu kamar dan memutar knop pintu yang tidak dikunci. Dia melihat sekitar. Tidak ada tanda2 Hiro disana. Tapi saat berbalik hendak melihat kearah Hikaru kagetlah dia.

“Ka kamu sudah bangun?” Shikamaru kaget.

“Iya… Kamu siapa?”

Shikamaru melihat blind fold dimata Hikaru, mulai merasa Hikaru ini lucu. Cekikikan sedikit. “Buka dulu blind fold mu.”

“Ohh.” Hikaru lesu sambil masih mengenakan blind fold. “Bisa bantu aku duduk di meja itu?” Hikaru memohon bantuan.

“Tentu saja.”

Bau keringat menyelimuti tubuh Hikaru. “Kamu mau kucarikan baju ganti?” Shikamaru menawari.

“Boleh.” Hikaru mulai mengutak atik laci mejanya. Dia mengeluarkan sebidang papan igo dan buah caturnya.

“Kamu mau baju yang mana? Kaos biru ini atau oren ini?”

“Oren saja, terimakasih.”

“Kamu sudah makan?” Shikamaru mulai merasa Hikaru seorang diri dalam waktu cukup lama.

“Sudah.”

“Lho ngomong2 kakakmu mana?” Shikamaru ingin tahu.

“Dia kerja.”

“Apa kamu tidak apa ditinggal sendirian?”

“Tidak apa. Cuma kesepian. Kamu, mau main igo denganku?”

Shikamaru teringat permainan Igo Hikaru sebelumnya tentu saja tidak menolak. Dia mengambil kesempatan siapa tahu permainan kali ini bagus. Tapi dia melihat ada yang aneh. Hikaru tetap mengenakan blind fold yang diikat ketat diwajahnya.

“Blind fold kamu, apa tidak kamu lepas?”

“Tidak….” Hikaru mulai meraba papan catur dan tertatih berusaha menaruh biji2 catur diatasnya.

“Sini kubantu..” Shikamaru merasa sangat heran.

“Maukah kamu membantuku menyebut gerakanmu dan membantuku memindahkan biji caturku?”

Permintaan yang sangat aneh. “Ya.”

----

Setengah jam, Shikamaru bermain dengan Hikaru.

Rasanya….

Seperti bermain…

Dengan orang yang berbeda dengan orang yang kemarin dia tonton pertandingannya.

Karakter begitu berbeda.

Kemarin karakter Hikaru sungguh dingin dan hati2. sedikit kejam. Saat terakhir, dia memberangus hampir 2/3 biji igo Akira. Penuh jebakan.

Sekarang…

Seperti bermain dengan teman yang baik. Menahan serangan secukupnya. Menyerang secukupnya. Tapi hebat. Hebatnya lagi, Hikaru bisa mengingat semua langkahnya dan langkah Shikamaru. Pasti ada bayangan papan igo imaginer di otaknya.

“Kenapa kamu bermain igo dengan mata tertutup?” shikamaru heran.

“Maaf, aku sudah lelah.. kapan2 kita bermain lagi ya… senang bermain dengan mu.” Hikaru membungkuk sedikit.

“Ya…” Shikamaru melihat bibir Hikaru sangat pucat.

“Kamu beneran tidak apa? Apa mau kubawa ke dokter atau sinshe gitu?” Shikamaru menawari.

Hikaru mulai berdiri sempoyongan kearah ranjangnya. “Hei.” Shikamaru dengan sigap membantunya, tapi blind fold Hikaru terlepas.

“Kenapa memandangiku terus?” Shikamaru keheranan. Hidung Hikaru mulai berdarah.

“Hei, kamu tidak apa?”

“The shadow…” Hikaru berbisik.

“Apa?” Shikamaru agak sedikit kaget.

“The eyes…” Hikaru berbisik lagi.

“Hah?”

“The evil…”

“Kenapa?”

“The medicine woman.”

Shikamaru tersontak. “Apa dia sedang membisikkan… jurus dia dan Neiji. Kyuubi Naruto dan Sakura?”

Hikaru lalu tertidur pulas. “Ada orang datang!” Shikamaru bersiap. Tapi setelah waspada selama ½ jam, tidak ada yang terjadi. “Aneh!” Shikamaru mengendurkan penjagaan. Diapun celingukan memandang keluar jendela lalu menuju pintu dan celingukan keluar. “Aneh, tadi aku sangat yakin ada orang datang…”

Shikamaru tidak menyadari sepasang mata mengawasinya dari pojok ruangan. Merasa tidak ada sesuatu apapun, Shikamaru pun pergi melesat keluar dari jendela.

Naruto dan Sakura dengan kaku dan tidak enak hati berjalan ke festival bersama Hiro, Hikaru dan guru Guy. “Guru Yamato ngapain ya?” Naruto penasaran. Hikaru seperti anak kecil suka gula-gula dan es krim. Hiro terlihat tidak ingin membeli apa-apa, dia hanya sibuk membelikan untuk Hikaru sambil sesekali menawari mereka. Sakura merasa sedikit iba, dan memutuskan untuk membelikannya syal. Naruto terlihat agak sedikit marah. Guru Guy melihat Sakura hanya membelikan Hiro, diapun protes dengan lebay-nya. Tapi Hiro yang tiba-tiba membelikannya semacam senjata tongkat pendek kembar. “Ouw… terimakasih…”

“Wow, bermain lempar bola.” Naruto asyik menggosokkan tangannya ingin bermain tapi Sakura menjewer kupingnya. Sambil bilang kalau dia harus hemat dan masih harus bayar hutang ke Sakura.

Tapi ternyata ada senjata air yang sangat diinginkan Hikaru. Guru Guy pun mengambil kesempatan. “Saatnya membalas kebaikan Hiro…” Dengan sekali lempar, sasaran yang diinginkan langsung terhempas ke air. Senjata mainan-pun ditangan.

Sementara itu, Guru Guy mulai merasakan hawa pekat serasa dia sedang diawasi sesuatu yang sangat kuat. Dia memutuskan untuk tidak tolah toleh. Dia pamit ke toilet dan sengaja berjalan kearah pohon yang sangat mencurigakan. Tidak ada siapapun dan tidak ada orang yang terlihat baru aja meninggalkan pohon itu tadi.

----

Hari yang cerah…

Sabtu yang menentukan…

Begitu banyak supporter mendukung tim masing2.

Mereka duduk sambil terus menerus meneriakkan yel2 dan sedikit berjoget.

Dari bawah Neiji dapat melihat Shikamaru duduk dibangku penonton bersama beberapa teman dari tim Igo sekolah. Di sebelah barat Shikamaru dengan posisi duduk agak ke atas, Neiji melihat Naruto, Sakura dan Hikaru duduk bersebelahan sambil makan. Guru Guy ada bersama tim. Neiji selalu merasa striker tim nya itu agak bersikap aneh dan berlebihan terhadap Hiro.

Dia melihat striker itu berjalan mendekati Hiro yang sedang dengan santai duduk di bawah sambil memperhatikan gerakan awan2 pada langit yang cerah. “Daijiobun?” striker itu menyapa Hiro.

Hiro mengangguk sambil tersenyum sebentar kepadanya lalu memandangi langit lagi. Tak lama kemudian terdengar seruan Neiji kepada siapa2 yang masuk ke lapangan terlebih dahulu. Panggilan Neiji terhadap Hiro tidak dihiraukan Hiro. Dia asyik menonton wajah2 tim lawan.

Neiji pun beranjak tuk berdiri di depannya agar mendapatkan konsentrasi dari Hiro. “Hiro… permainan kali ini ….. “Neiji berjongkok menjelaskan dengan bantuan kerikil untuk menjelaskan posisi dan strategi yang diambil kepada Hiro. Hiro terlihat memperhatikan. Tapi Neiji tidak begitu yakin padanya.

-----

Pertama kalinya, ninja2 Konoha itu melihat Hiro sebagai kiper. Tim sekolah Kanzai cukup kuat. Jarang musuh bisa sampai ke daerah gawang yang harus dijaga Hiro. 15 menit pertandingan berjalan begitu melelahkan bagi tim lawan. Akhirnya setelah gamemaker tim itu dimasukkan, tempo permainan tim lawan berubah.

Tim Kanzai agak tertekan. Tim lawan mulai bermain2 didaerah gawang yang dijaga Hiro. Tendangan begitu kuat dan dahsyat meluncur dari penyerang tim lawan kearah gawang Hiro. Tapi dengan santai ditinju Hiro ke atas meluncur ke arah daerah gawang lawan.

Neiji mulai paham kenapa Miharu bilang Hiro sangat kuat. Pelatih bermaksud menaruh Hiro untuk melemahkan daya juang tim lawan. Hiro kebobolan gawangnya hanya sekali pada pertandingan pertama dia. Setelah itu, Hiro tidak pernah kebobolan lagi.

Permainan dimenangkan tipis oleh tim Kanzai… 0 – 1. Tim lawan pada sesi akhir terlihat frustasi berusaha memasukkan gol kearah gawang yang dijaga Hiro. Tembakan mereka jadi asal2an dan permainan mereka jadi agak berantakan. Pelatih kali ini sangat tepat menaruh Hiro sebagai kiper. Tampang tenang dan santainya bahkan kadang tersenyum saat mendapat serangan bertubi dari tim lawan sangat menghancurkan mental lawan.

Tapi… setelah pertandingan…..

“Kenapa Kazu?” Neiji heran melihat Kazu sibuk menggotong sebuah kotak yang sepertinya berat.

“Untuk Hiro… tangannya sakit semua katanya…”

“Apa itu? Baunya seperti telur..”

“Yup, telur rebus hangat…. Untuk menghilangkan lebam2 katanya.”

“Kenapa tidak pake es batu aja?”

“Dia langsung sakit flu berat kalau pake es batu.”

Momoko terlihat khawatir dengan keadaan Hiro dan sibuk menggosokkan telur rebus di tangan dan lengan Hiro. Tangan Hiro hampir tidak bisa digunakan untuk menulis padahal dia sedang buat PR.

Terpaksa Hikaru menuliskan PR-nya. Tulisan mereka mirip. Besok bagaimana tuh? Hiro dengan santai bermaksud pinjam catatan aja. Besok kan ada test. Hiro dengan santai menjawab yah dikosongkan aja, tidak usah dijawab. Momoko marah, “aku yang bilang gurunya. Biar Hiro test oral aja diruangan guru!”

Hikaru terkenal cukup pintar di sekolah itu. Anak baik-baik kelas 2 ini kurang berbakat olah raga sedang Hiro terkenal sebagai berandalan dengan kemampuan olah raga diatas rata2, tapi akademis cukup pintar tapi karena sering seenaknya prestasi studynya naik turun.

------

Pemandangan lapangan basket berbentuk aneh memberikan tampilan yang berbeda dari biasanya dimata Neiji. Ada anak2 SMA. Pintu ditutup rapat. Permainan basket yang aneh. Memasukkan bola kedalam keranjang tidak pake tangan tapi pake tendangan kaki. Gerakan 6 orang bermain ala ‘street ball’ yang aneh yang sangat lincah. Bola kadang dipantulkan kearah atas bawah samping membentur jeruji yang mengelilingi lapangan seperti kandang.

Tiba-tiba segerombol anak SMA yang posturnya menjulang berjalan dari seberang jalan dan meneriaki mereka. “Hei… kalian! Sudah kami bilang kan… kalian tidak boleh main di lapangan ini jam seginian….”

Pemain2 dalam lapangan itu berhenti dan terdiam bengong memandangi mereka…

“Ah. Kalian baru ketemu kami ya… kami beritahu ya… kalian tidak boleh main di lapangan ini lagi!”

Keenam anak dalam lapangan terlihat takut dan ragu-ragu serta kebingungan. Mereka pun beranjak dari lapangan dan memunguti barang2 mereka untuk pergi. Tapi suara dari balik semak mengejutkan Neiji dan mereka.

"Kalian…. Asal usir aja…. Yang hebat mainnya stay donk…. Aku bertaruh untuk ke 6 orang itu… aku sudah lihat permainan kalian….”

Salah satu dari ke-6 anak yang terlihat sangat bishie tersenyum dan berkata: “Maaf, kami tidak bisa main basket… Kalau gitu kami ngungsi aja ke tempat lain… hehe, permisi…”

Anak2 dalam lapangan pun beranjak pergi sambil membungkuk. Tiba-tiba saat pintu dibuka ada 5 anak perempuan kecil langsung berlari kedalam lapangan. Mereka tersenyum gembira. Tapi salah seorang dari pengacau yang menjulang tinggi itu dengan kasar mengusir mereka sampai 3 dari anak2 itu menangis…

Salah satu dari ke 6 anak yang masih ada dalam lapangan, menenangkan mereka dan memberikan permen… “Adik, jangan nangis ya… kalian mau main disini ya…”

“Iya…. Kami mau main disini.!” Salah seorang anak kecil itu berteriak sambil hampir menangis dan memandangi berandalan yang membentak mereka dengan wajah marah.

Salah satu dari ke6 anak itu yang berpostur paling tinggi akhirnya membuka suara. “Kami mau bertanding dengan kalian.. Kami mau memperebutkan tempat ini untuk mereka…”

“Ayo adik2, sebentar ya, duduk sana ya, nieh ada manisan makan sama2 ya… masalah ini kakak2 urus dulu… bentar aja kok…. Nanti kalau sudah selesai kalian bisa main disini dengan bebas….”

Gadis2 kecil itu tersenyum riang melihat keelokan bentukan manisan yang super imut. Berbentuk ikan koi, doraemon, hello kitty….”Kawaii…” Mereka tidak memakannya malah sibuk menatanya dan dibuat mainan di bangku.

Pertandingan pun dimulai…

Ke-6 anak yang posturnya beda jauh dibandingkan dengan grup lawan….

Setelah berunding sebentar justru anak yang paling tinggi dari ke 6 anak itu malah duduk di cadangan…. Dia terlihat meringis sambil memegangi rusuknya…

Ternyata ke-6 anak itu sangat paham permainan basket. Mereka tahu aturan permainan basket dengan baik dan ketrampilan mereka diatas rata2. Mereka banyak melakukan gerakan tipuan untuk memanipulasi postur mereka yang lebih pendek dan melakukan operan2 cepat. Mereka pun sering melakukan tembakan 3 point atau tembakan dari sudut2 sulit yang tidak akan disangka oleh pemain2 lawan yang kemampuan hanya biasa.

Kekalahan telak anak2 berpostur menjulang itu. Mereka betul2 kehabisan stamina. Anak2 ‘pendek’ lawan mereka tidak terlihat tersegal. Mereka pun marah karena malu. Didoronglah salah seorang lawan mereka. “Hei..” Penonton pertandingan itu jadi kaget. “Kalian sudah kalah!”

Neiji pun berjalan mendekat khawatir dengan keadaan yang tidak terlihat baik. Tak disangka, ada polisi patrol yang memeriksa ke sana. Mereka pun terselamatkan karena anak2 berandal itu jadi takut dan pergi dengan tergesa.

Tapi… ada hawa aneh yang Neiji bisa rasakan dari anak2 itu…. Mereka sepertinya sangat marah…. Walaupun wajah mereka terlihat lega dan tersenyum kepada anak2 gadis kecil itu. Ke 6 anak itupun pergi dari lapangan sambil membungkuk kea rah Neiji dan anak yang tadinya bersembunyi di semak2. Neiji bermaksud mengikuti ke 6 anak itu tapi dia mengurungkannya. Entah kenapa dia jadi ragu. Tapi raungan anak SMA yang sebelumnya bersembunyi di balik belukar membuat ke 6 anak itu dan Neiji bengong. Dengan over acting anak itu memohon agar ke 6 anak itu masuk tim basketnya. Tim basket sekolah Kanzai memang belum berprestasi apapun. Mereka merasa tidak enak dengan dewan guru yang mendukung mereka dengan sepenuh hati. Tapi ucapan salah satu dari ke 6 anak itu membuat Neiji heran. “Kami tanya dulu ya…”

Tanya ke siapa? Apa mereka salah dengar? Neiji keheranan.

“Kalian mau tanya siapa?!” Anak itu tetap berteriak. “Kalian sebagai murid Kanzai apa kalian tidak punya loyalitas terhadap almamater?!”

Ke-6 anak itu hanya membungkukkan badan kepada anak itu dan lalu berjalan pergi.

Anak2 yang aneh. Neiji bermaksud berkonsultasi ke guru2 mereka, apa mereka perlu memeriksa anak2 itu. Anak yang berteriak tadi berlutut lemas. Lalu berdiri dan berjalan dengan gontai.

-----

Hari ini Miharu bertengkar dengan striker tim Kanzai yang bernama Honda. Miharu merasa Honda tidak pernah mengeluarkan kemampuan terbaiknya saat berlatih dengan dia. Neiji pun menengahi tapi Miharu sudah terlalu marah dan memutuskan untuk pulang.

“Kamu masih butuh teman berlatih?” Neiji bertanya.

“Tidak, hari ini sial sekali!” Honda melepaskan sepatunya dengan kasar karena jengkel.

Neiji diam saja menunggu mungkin Honda memberikan info. Honda.. dimata Neiji, striker yang menurutnya memberikan perhatian terlalu berlebihan pada Hiro. Neiji ingin bertanya kenapa. Tapi Honda keburu berdiri dan mengibas pantatnya lalu berjalan ke ruangan loker.

Neiji pun berjalan ke dalam dan melihat Kazu sedang berbincang dengan Honda yang bĂȘte dan terlihat sedang memberikan motivasi.

Setelah Honda pergi, Neiji berjalan mendekati Kazu. “Kazuhiro, kenapa dia?”

“Wah, entahlah, Honda sering jengkel dengan dirinya sendiri.”

“Apa hubungan Honda dengan Hiro?” Neiji iseng bertanya. Tidak berharap jawaban yang bikin wah. Tapi harapan Neiji terlempar jauh saat mendengar info menarik dari mulut Kazu

“Hiro dan Honda dulunya sahabat satu sekolah. Suatu hal membuat Honda marah kepadanya sampai keluar dari sekolah itu.”

“Tapi… Honda tidak terlihat marah pada Hiro?” Neiji heran.

“Tentant seorang cewek. Cewek yang 2 sahabat ini sama2 suka. Akhirnya Honda tahu kalau Hiro sengaja mengalah padanya. Cewek itu sebenarnya suka pada Hiro dan Hiro suka padanya, tapi setelah tahu Honda suka juga pada cewek itu. Hiro pun mundur.”

“Lalu bagaimana Honda tidak mendorong Hiro untuk bersama cewek itu?”

“Cewek itu sudah meninggal, dia bunuh diri.”

“Apa?”

“Yah, dia bunuh diri karena membaca surat penolakan Hiro. Honda marah besar pada Hiro. Tapi Hiro tidak menulis surat itu.”

“Siapa yang menulisnya?” Neiji semakin penasaran.

“Sohib cewek itu yang suka pada Hiro juga.”

“Huah, kejam juga temannya.” “Lalu apa Hiro jadi agak aneh seperti sekarang gara2 kejadian itu?”

“Entahlah, hanya Honda yang tahu bagaimana Hiro di sekolah sebelumnya.”

------

Neiji merasa Honda-lah kunci untuk menemukan sesuatu tentang Hiro.

Neiji-pun mengikuti Honda pulang. Honda tidak terlihat langsung pulang ke rumah tapi dia malah berjalan cukup jauh menuju gedung apartemen Hiro tapi dia tidak masuk hanya duduk di luar memandangi salah satu jendela apartemen dengan wajah yang terlihat sedih. Honda duduk kira-kira ¾ jam disana sambil merokok.

Saat dia bangkit, Honda terlihat kaget melihat Hiro sedang berjalan pulang menenteng motornya.

Honda memandangi Hiro yang tidak menyadari keberadaan dengan gelisah. Dia pun membuat sisa rokok dan berjalan mendekati Hiro.

“Hiro…”

“Konbawa..”

“aku ingin tahu sesuatu…”

“Tentang apa?”

“Kenapa kamu seperti ini, kenapa hidup seperti ini?”

“Kenapa?”

“Ayahmu bisa mencukupimu. Kenapa hidup begitu susah? Kamu terlihat pucat!”

“Pucat? Ayah?”

“Iya… ayahmu! Kamu mau membuktikan apa! Kamu marah padaku?” Honda tidak dapat menahan diri.

“Marah? Kenapa aku harus marah kepadamu?”

“Kamu sepertinya tidak mau kita bersahabat lagi, apa kamu masih marah soal aku menuduhmu gara2 kamu Natsumi meninggal?”

“Natsumi?”

“Hiro! Kau seperti kehilangan ½ dirimu. Kamu seperti orang yang berbeda! Aku sangat khawatir dan sangat ingin tahu kenapa? Kamu butuh bantuan.”

“Butuh bantuan?”

“Hiro! Berhenti mengulangi pertanyaanku!” Teriakan Honda sampe ditoleh orang lewat.

“Aku… tidak ingat punya ayah… tapi aku mau kok jadi sahabatmu.” Hiro heran.

Honda terlihat lemas. Memorinya akan pertemuan dengan ayah Hiro waktu itu yang terlihat sangat sedih karena Hiro tidak bisa mengingat keluarganya. Hiro hanya ingat dia punya adik. Hiro jadi seperti ini setelah kecelakaan yang merenggut jiwa adiknya. Hikaru bukan adik kandung Hiro tapi Hiro mengingatnya sebagai adiknya. Honda sangat membenci Hikaru, penyamar itu berbahaya. Honda mencurigai Hikaru.

Tiba-tiba Hikaru sudah berdiri dibelakang Honda dan sebenarnya Honda hendak sekali itu juga mencetuskan kecurigaannya pada Hikaru, tapi setelah melihat tampang Hikaru, dia mengurungkannya… “Adakah mungkin Hikaru juga sama dengan Hiro? Dia juga tidak ingat siapa dia dulu?”

-----

“Onii-san, mau masuk??” Hikaru menawari. “Ada bazaar soba murah…” Hikaru sambil mengacungkan sebuntal makanan.

“Soba, kok baunya aneh?” Hiro penasaran dan sepertinya sudah melupakan perbincangan dengan Honda sebelumnya. Honda terlihat kaget dengan ekspresi Hiro.

“Emang bau apa, kak?” Hikaru keheranan sambil mengendus2 bungkusannya. “Sobanya memang aneh, “Han kok” tulisannya. Hitam-hitam gitu sausnya… “

Hiro lalu menepuk pundak Honda. “Ayo sama2 makan.”

Honda pun dengan heran dan tercocok hidungnya ikut masuk kedalam.

Neiji pun memutuskan untuk menghentikan penyelidikannya. Dia sangat ingin menggunakan byakugannya untuk melihat kedalam apartemen Hiro dan Hikaru tapi Kakashi melarangnya menggunakannya dikompleks apartemen Hiro juga. Lagian mungkin teammate dia, Naruto dan Sakura lebih menguntungkan posisinya.

Neiji sangat terkejut setelah mendengar berita yang disampaikan Shikamaru.

“Oi, Neiji…. Kamu tahu beberapa anak berandal sekolah Kyokosima yang juga sering main basket di lapangan aneh itu….”

“Ya… kenapa?” Neiji sambil asyik membuat pekerjaan rumah yang diberikan sekolah dan sambil menunggui sambungan internet terkoneksi di laptop-nya.

“Pagi buta tadi, kepala mereka ditemukan terpancang di fondasi beton bendrant di konstruksi taman bermain yang belum jadi di pulau seberang. “

“Apa?”

“Sampai sekarang polisi masih mencari tubuh mereka.”

“Kamu sudah laporkan hal ini ke Tsunade?”

“Akan… bikin pusing aja tuh Ny. Hokage… aku pusing bikin fanfic-nya… “ Shikamaru jengkel. “Kamu punya ide?… bikin kisah misteri pembunuhan aja… bikin repot aja.”

Neiji juga merasakan kesulitan yang sama dengan Shikamaru karena harus mengarang fanfic untuk melaporkan kepada Ny. Hokage. Dalam hati sedikit iri dengan Naruto dan Sakura yang tidak perlu melapor langsung ke Hokage cukup ke guru Guy langsung. Neiji juga sama halnya dengan Shikamaru, penasaran dengan keberadaan Guru Yamato.

-----

Pagi itu,

Neiji keheranan dan penasaran dipanggil keruangan kepala sekolah. Dia melihat anak cowok yang dia tahu sebelumnya pernah memohon 6 anak yang main basket aneh di lapangan itu. Anak itu terlihat ketakutan dan Momoko duduk disampingnya mendampinginya dengan gelisah. “Neiji?” Momoko kaget menyapa Neiji.

Neiji pun menceritakan perihal kemarin.

“Ke-6 anak itu dipanggil tidak?” Momoko keheranan mengintip2 jendela kepsek yang menampakkan sepertinya 2 orang polisi detektif sedang duduk berbincang dimeja kepsek.

Tak lama kemudian, 2 orang dari 6 anak aneh yang sempat duel basket dengan anak2 yang terbunuh datang. “Lho, lainnya mana?” Momoko yang sepertinya tahu mereka sering terlihat ber-6.

“Aoki dan Inoki sedang ujian. Nanti jam 2.30 mereka menyusul ke sini..”

“Tachibana dan Tenma?” Momoko yang mulai berpikir kenapa pasangan2 ini berima namanya.

“Mereka sedang dihukum guru.”

“Dihukum lagi? Ngapain lagi mereka?” Momoko yang rupanya paham betul tabiat anak2 aneh itu.

“Wkwkwk….. mengecat ulang mobil Pak Serisawa…”

“Mengecat?”

“Yup, digambar gambar hentai… di kap depan….”

“Kok bisa tahu kalau mereka..”

“Ketangkap CCTV…”

“Oh ya…. Neiji…. Kenalkan… mereka Motoba dan Kaiba.” Berima lagi… Pikir Momoko…

“Mereka anak Karya Ilmiah Remaja. Kalau ada desain aneh alat elektrik aneh di sekolah itu pekerjaan mereka.”

“Aneh? Masa gitu aja aneh sih?” Motoba heran. Kaiba menimpali “Hei, Momoko kapan2 kita rame2 lagi ama teman2 kamu dari klub Kendo, main game. Neiji juga boleh ikut, kalau mau?” Kaiba menoleh ke Neiji. Neiji mengangguk sopan. “Why… so serious?” Kaiba menepuk bahu Neiji. Tepukan yang cukup kuat tapi bersahabat.

“Aoki dan Inoki, mereka sedang ujian di gedung pemerintah kah? Ujian botanical?”

“Bukan… mereka ujian berkaitan soal farmasi… Gila….”

“Gila?”

“Yah, mereka gila belajarnya…. Kemarin aja abiz main basket mereka menyusup ke gedung perpus kota dan membaca didalam…. Akhirnya mereka diusir pas paginya…. Mereka bikin ringkasan dan mengeprint-nya pake kertas dan tinta printer milik perpus sampe habis…. “

Neiji pun berpikir: “Aoki dan Inoki pastilah bukan pelakunya. Alibi mereka sangat kuat dengan adanya bukti jam computer pada cookie dan history dalam database computer perpus. Hawa mereka setelah ‘memberangus’ anak2 berandal itu tidak dapat kulupakan. Aku sedikit curiga dengan mereka tadi… tapi bagaimana dengan Kaiba dan Motoba?”

Butuh tenaga besar untuk membunuh anak2 yang berpostur tinggi kemarin. Kulit jari tangan mereka sedikit mengeras, mereka terlatih bermain basket. Mereka sangat lincah dan tidak bisa diam. Daripada Momoko yang sering mengintip ke jendela dan jinjitannya membuat roknya yang pendek terlihat semakin pendek. Mereka lebih memilih untuk melihat keluar dari jendela. Kaiba memang anak yang paling tinggi diantara ke 6 anak itu.



-----

-----

Naruto sangat kaget dengan perkataan Kakashi.

“Kami curiga, sekolah ini ada banyak ninja Naga HItam?”

“Ninja Naga HItam?”

“Ninja dengan cakra yang sangat unik. Kita sampai sekarang tidak tahu bagaimana cara kerjanya. Tapi cakranya sepertinya tidak pernah habis.”

“Mereka juga memiliki banyak ahli racun. Racun yang mereka bikin… luar biasa.”

“Apa… mereka baik?” Naruto penasaran.

“Mereka… bisa jadi musuh bisa jadi teman bisa juga netral.”

“Apa maksudnya, sensei?”

“Mereka bukanlah sekutu kita. Kita juga tidak bisa mengajukan persekutuan dengan mereka.”

“Kenapa begitu?”

“Kita tidak akan bisa menemukan desa mereka seperti halnya KOnoha. Hanya sekali2 kita bisa bertemu mereka saat menjalankan misi. Tapi sekolah ini ada begitu banyak ninja Naga Hitam.”

“Kenapa guru bisa berkata seperti itu?”

“Bau ramuan… bau ramuan ini sangat identik dengan bau ramuan racun Ninja Naga Hitam.”

“Guru pernah ketemu mereka?”

“Pernah ketemu 1 dari mereka.. Aku bertemu dengan seorang ahli racun. Saat itu, satu desa dihancurkan dengan racun, penduduk sekarat. Kita tidak berdaya membantu mereka. Menunggu tabib dari Konoha tidak akan sempat. Kami pun mencoba ke tebing gunung, kami dengar disana ada tabib hebat.”

“Tabib hebat itu Ninja Naga Hitam?”

Kakashi tidak menjawab. Dia menerawang sebentar.

“Bukan. Dia tabib hebat tapi bukan ninja naga hitam.”

Kakashi pun menceritakan pertolongan tabib itu.

Tabib itu sering memarahi asisten-nya. “Air ini tidak bisa dipakai lagi. Dasar bodoh. Kamu harus cari di tebing sana.”

“Kami akan membantu dia mencari airnya. Air yang bagaimana?” Salah seorang tim Kakashi mencoba membantu.

“Bawa dia. Si bodoh itu sudah paham.”

---

Kakashi membawa asisten itu. Asisten itu mengambil beberapa liter air di suatu sumber mata air setelah mencicipi air itu sedikit. Tapi sesuatu yang terlihat ceroboh dimata Kakashi, dilakukannya. Dia memutuskan batang bambo dan menaruh air itu didalamnya. Kakashi mau tidak mau menanyakannya: “Hei, apa kandungan getah bambu itu tidak berpengaruh pada kualitas air?”

“Ahh… tidak…” dengan santai.

Seperti yang sudah diduga Kakashi, mereka harus kembali, air itu terkontaminasi getah bambu, tidak bisa dipakai untuk merebus obat. Tapi ada permintaan aneh yang diminta asisten itu. Dia minta Kakashi mengambil 2 dari buah yang tergantung di pohon. Maunya hanya buah yang di kanan itu dan di atas sekali. Dengan sedikit heran, Kakashi melakukannya.

Beberapa orang desa membaik, beberapa tetap parah dan ada yang sudah meninggal. Tabib betul2 tidak bisa melakukan apa-apa. Dia angkat tangan untuk beberapa yang tidak berhasil dia sembuhkan.

Tapi si asisten ini terlihat sering menggunakan buah yang dia minta Kakashi memetiknya untuk membuatkan mereka minuman hangat. Beberapa orang yang sudah minum air yang dibuat asisten ini termasuk yang sembuh. Tapi tabib memarahinya lagi. “Buah apa yang kau pakai?!” Dia menampar gelas dan menumpahkan minuman itu ke lantai.

“Dasar bodoh! Kamu tidak boleh sembarangan.”

Asisten yang sabar. Dia tidak terlihat dendam atau ingin melawan. Dengan sabar dia mengepel lantai itu. Tapi keanehan dilihat Kakashi saat asisten itu mengumpulkan tumpahan air bekas rebusan buah itu ke dalam bambu. Asisten itu tetap memberikannya kepada mereka diam-diam.

Kakashi sangat terkejut. Langsung mencurigai dia ini musuh. Dia pun langsung menangkap dan menginterogasi asisten itu. Mungkin dia bisa tahu bos dari asisten itu dan mendapatkan obat penawar.

Tapi ancaman Kakashi tidak membuat asisten ini takut. “Kamu tahu… sebenarnya uap-nya aja yang perlu dihirup….”

“Apa?” Kakashi menutup hidungnya saat tahu uap minuman hangat itu mulai masuk hidungnya.

Kakashi yang mulai sedikit lengah dimanfaatkan si asisten untuk kabur. Kakashi pun mengejarnya dan menemukan asisten itu berada dalam bangsal pasien.

Apa yang dia lihat tidak dapat dilupakannya…

Sekarang si asisten memegang panci. Panci tempat isi air rebusan itu terlihat membara di tangan si asisten itu. Air rebusan menguap, lalu menyebar dengan cepat dan terhirup pasien.

---

Kakashi bersiap dengan jurus chidorinya untuk melumpuhkannya. Tapi tiba2 seorang anak bangun dan bilang haus. Kakashi pun menghentikan jurusnya…. Satu persatu dari mereka bangun… Dia menyembuhkannya.

“Kenapa tidak bilang saja?”

Asisten itu tersenyum. Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar. Teriakan penduduk desa yang sudah sehat sebelumnya membuat Kakashi bergegas.

Sangkur menusuk beberapa orang termasuk tabib itu. Teammate Kakashi tidak sempat menyelamatkan mereka.

“Sudah kubilang… desa ini adalah percontohan. Biar mereka tidak membangkang. Kau tabib malah menyembuhkan mereka.”

Ternyata penjahat ini cukup hebat, tim Kakashi yang hanya ber3 ini kewalahan menghadapi mereka. Tapi saat sangkur beracun pimpinan penjahat ini hampir menebas leher Kakashi. Suatu pemandangan mengerikan tidak bisa dilupakan Kakashi.

Orang itu terlihat kesakitan dan matanya melotot. Lalu kulitnya tiba2 seperti terbakar kehitaman… darah keluar dari mata, hidung dan telingannya… kulitnya yang kehitaman mulai retak dan mengeluarkan darah kehitaman…… Lidahnya terjulur keluar dan terlepas…. Bola matanya pun akhirnya terlepas dari kelopak matanya…. Tubuhnya pun terjatuh dan proses seperti terbakar itu berlanjut terus… sampai kita tidak bisa tahu kalau itu dulunya sesosok manusia.

Tapi orang yang sekarang berdiri didepan Kakashi. Yang masih memegang jarum kecil ditangannya. Yang berhasil membunuh kepala penjahat itu. Si asisten.

Gumaman muncul dari mulutnya. “Penghakiman…” Tiba2 tangan si asisten bergerak dan jarum itu dilemparkannya dan menembus tubuh seluruh penjahat bak bola liar bergerak melengkung. Jarum itu terhenti di tubuh terakhir dan mereka semua berakhir sama dengan pemimpin mereka.

Tapi beberapa detik kemudian, Kakashi melihat, ujung sangkur menembus perut asisten itu. Dia jatuh berlutut. Seorang penjahat menarik sangkurnya dan bermaksud menusuk asisten itu lagi tapi tidak sempat….

Asisten itu tiba-tiba menghilang dari pandangan penjahat itu. Kakashi melihatnya bergerak sangat cepat kearah belakang penjahat itu dan sekarang Kakashi dapat melihat jemari asisten itu keluar dari dada si penjahat dan memegang jantung yang masih berdetak lambat. Jantung itu dijatuhkannya dan tangannya pun dengan pelan beranjak dari rongga dada itu.

Tiba2 tanah yang dipijak asisten itu bergoncang… Retakan besar disertai begitu banyak sulur tanaman menjeratnya dan menariknya ke dalam dengan cepat ke dalam dan tanah itu berguncang lagi dan berhenti saat terbentuk gundukan.

-----

“Mengerikan sensei… Ninja yang mengerikan..” ninja2 muda itu bergidik. “Sensei, tidak sedang bergurau bercerita horror ke kita kan?” Naruto berusaha menguatkan dirinya.

“Yah, karena itu, kita tidak boleh menunjukkan jurus ninja kita di sekolah. Takut mereka merasa terancam. Aku tidak tahu bagaimana karakteristik ninja2 ini, seharusnya si asisten itu sebenarnya tidak jahat. Dia juga sabar. Mungkin yang dilakukannya hanya untuk menakuti penjahat2 lain agar tidak menyerang desa itu. Penduduk desa yang marah itu menggantung kepala penjahat terakhir di gerbang desa.“

“Jadi menurut sensei, apa ninja naga hitamlah yang berada dibelakang hilangnya 50 orang waktu kasus Yohei dulu?”

“Yah. Mungkin saja mereka diserang racun sejenis.”

“Kamu?” Kakashi tersentak memandang sesosok wajah yang pernah dia lihat sebelumnya.

Sesosok itu tersenyum dan membungkuk sambil meletakkan se-pot tanaman di meja.

“Katakan padaku… kenapa sekolah ini banyak ninja naga hitam?”

Kakashi merasa orang yang dia kenal sebagai asisten tabib ini dulu, wajahnya tidak bertambah tua, rambutnya juga disemir dan ber-hairstyle keren.

“Ohayou… kita belum saling berkenalan… namaku Sasaki. Kamu Kakashi kan?”

Kakashi agak tersentak orang ini tahu namanya.

“Soal pertanyaan kamu: kenapa sekolah ini banyak ninja naga hitam? Lebih baik kamu tidak usah tahu dan pergi dari sekolah ini.”

“Tapi.. “

“Hiro kan?”

“Yah, kalian sudah tahu semuanya.”

Sasaki tersenyum penuh arti.

“Katakan kenapa cakra kalian sepertinya tidak pernah habis.”

“Cakra?”

“Yah, cakra, energi kalian…”

“Energi tidak pernah habis?”

“Yah.”

---

Sasaki menerawang…

“Sasaki dulu 10 tahun lalu dan Sasaki sesudahnya berbeda. Kami simbion….”

“Apa maksudnya?”

“Sumber energi yang kamu sebut cakra itu datang kepada kami, memilih kami dan kalau kami mau dan mengadakan kontrak, dia dan Sasaki menjadi penghuni tubuh ini. My cakra is very nasty. Burn burn burn burn… let’s bring the hell here…. Tiap cakra yang datang kepada kami masing2 punya karakternya sendiri, mereka memilih orang tertentu. Cakra kami mempunyai pribadi masing-masing. Cakra-ku tipe pribadi yang sangat pemarah, hancurkan sampai ludes. Next time, you’ll see me as different personality…. “

Sasaki lalu mengangkat pot itu dan menyemprotnya air.

Sambil memandangi air yang keluar dari alat semprot, Sasaki bergumam “Aku… pasti mati kalau ketemu ninja naga hitam bercakra air yang lebih kuat dariku.”

Sedang Kakashi masih berusaha mencerna perkataan Sasaki tentang cakra yang merupakan sesuatu kepribadian tertentu yang mengadakan kontrak dengan orang2 tertentu.

“Kalian ninja naga hitam… apa tujuan kalian dibentuk?”

“Ninja naga hitam, mempunyai agenda tersendiri. Kadang kami baik dan kadang kami monster…. Semuanya tergantung….”

“Apa kalian bekerja sendiri2?”

“Bekerja sendiri? Yah dan tidak….” Sasaki tersenyum.

“Jadi kalian punya pemimpin?”

“Tergantung…. Apa urusannya…..” Sasaki menjawab santai sambil menghilangkan gulma pada tanaman.

“Kalian bayaran?”

“Bayaran? Hahahaha… sebenarnya kadang kami bergerak dalam satu kesatuan besar. Tapi kadang kami merasa begitu sendirian, tidak berguna dan terlantar.”

“Kenapa? Apa maksudmu?”

Sasaki tidak menjawab lalu berkata2 hal yang tidak berkaitan dengan hal itu. “Aku iri pada kalian. Kalian, cakra air – cakra api. Cakra angin – cakra tanah. Bisa berteman akrab satu tim. Sedang kami…. Cakra lawan adalah musuh terbesar. Berdoa tiap hari tidak bertemu dengan ninja naga hitam bercakra lawan tidak lebih besar dari kami… Tapi sebenarnya apa perduli ku? Aku sudah mati 10 tahun lalu.”

Sasaki-pun lalu pergi kea rah pintu. Sambil beranjak keluar.. dia bilang: “Nanti kalau kamu keluar, jangan lupa kunci ya…. Lalu taruh kunci itu di pot tanaman kaktus diatas, Cuma kamu selain club pecinta tanaman ini yang diberitahu kuncinya ditaruh mana..”

“Apa maksudmu? Memang kamu yakin tidak ada orang lain yang melihat kita menaruh kunci itu disana?”

Sasaki tertawa. Agak menyeramkan, diapun berkata “Beberapa tanaman disini, perlu gizi yang berbeda.”

“Hah?”

“Aku masih anggap kamu teman, lebih baik keluar aja bareng aku.”

Kakashi-pun mulai bergidik sedikit setelah dia merasa tanaman dibelakang dia mulai meliuk2 tidak lazim dan bunyinya aneh. Bayangan tanaman yang terlihat meliuk2 itu membuat Kakashi pun memutuskan untuk keluar ruangan itu bersama Sasaki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar