Seorang pria setengah baya keluar dari mobil itu. Mobil yang mewah dengan sopirnya menunggui pria itu disamping mobil. Pria itu berjalan sendiri sambil sesekali mengelus kepala anak2 yang bergerombol di samping mobilnya.
Dia terlihat berbincang dengan salah seorang anak dan anak itu terlihat dengan senang hati menunjukkan jalan buatnya. Mau kemana orang itu?
---
“Tsunade… ada orang mencarimu.”
“Siapa?”
Seorang pria cukup keren dimata Tsunade berdiri menunggu Tsunade yang sedang duduk di kedai minuman siap untuk ‘menemui’ dia.
Tsunade mempersilahkan dia duduk.
Pria itu menyodorkan foto. Tsunade terlihat sedikit terkejut saat memandangi foto itu.
“Dia… anakku. Saya ingin menyewa kalian untuk menjaga dan menyelidiki apa aja yang dia lakukan. Saya sudah menyewa detektif untuk mengikutinya sepanjang waktu tapi tetap ada begitu banyak timing, dia tidak dapat terdeteksi…”
“Kenapa kamu ingin anakmu diawasi?” Tsunade menyelidik.
“Saya tidak ingin hal yang buruk terjadi padanya. Anak saya tinggal 1 itu aja setelah adiknya meninggal.”
Tsunade mengernyit.
“Saya dengar dari anak2 kalau desa masih kekurangan… saya bayar DP ini untuk membantu kekurangan… Oh ya, ini hanya sedikit untuk membantu anak2 manis diluar, belikan mereka buku2 dan alat2 permainan yang bermanfaat…”
Tsunade melotot memandangi segepok uang itu.
“Ohya, Bu, kalau bisa, saya ingin ketemu gadis itu.”
“Gadis? Gadis mana?”
“Gadis ini!” suara pria itu terdengar agak muntab saat menyodorkan secarik foto pada Tsunade.
---
Sakura keheranan diperintahkan Tsunade untuk duduk manis menunggu seseorang dibawah pohon. Helai-helai daun yang menguning menghiasi tanah yang berwarna coklat kehijauan berlumut.
Hatinya terkejut saat matanya menangkap sepasang sepatu hitam yang agak lusuh terlumuri lumpur. Diapun memandangi wajah pemilik sepatu itu. Agak mirip dengan seseorang yang pernah dia lihat. Tapi siapa?
“Sakura?” Suara bariton pria itu menyapanya.
“Ya? Betul.”
“Apa kamu ingat Hiro?”
“Ya…” Sakura tersentak melihat kemiripan pria itu dengan Hiro.
“Saya ingin tahu… kenapa kamu tidak melindungi Hiro waktu itu? Padahal kamu mampu. “
Rasa bersalah melingkupi hati Sakura. Dia tidak sanggup berkata apapun selain menunduk.:
“Saya ingin tahu pendapat kamu: mana yang lebih penting: perintah misi dan tetap menjalankan tugas sesuai kode etik atau…. Keberhasilan misi untuk melindungi seseorang?”
Sakura terdiam. Pikirannya melayang pada ekspresi Hiro saat terakhir melihatnya. Hiro…pasti sangat marah padanya…
“Saya ingin mengajukan tantangan padamu…” Suara pria itu agak bergetar menahan amarah. Tapi Sakura tercekat tersadar sesuatu… “Kenapa pria ini tahu tentang Hiro dan dia?”
Rasa penasaran membuat Sakura mengangkat wajahnya dan bertanya “Pak, Bapak kok tahu peristiwa itu? Bapak ada kepentingan apa dengan Hiro?”
“Hiro… anakku… kamu heran kenapa aku juga tidak melindunginya?”
Sakura semakin terheran tersadar kalau itulah kelak yang akan dia pikirkan dari orang yang terlihat care kepada HIro.
“Hiro, benci kalau tahu aku melindunginya. Tentang tantangan untukmu.”
“Yah?”
“Kamu sanggup menjadi teman super dekat Hiro dan cari tahu apa aja yang dia lakukan?”
“hah?”
“Sanggup menjalankan tantangan ini?” Pria itu mendesak Sakura.
“Sanggup..” Sakura walau masih begitu banyak tanda tanya di hatinya.
----
Naruto memandang heran kepada pria yang beranjak pergi dari Sakura yang sedang terbengong. “Siapa dia?” Naruto bertanya kepada Sakura.
“Ayah Hiro?”
“Ayah Hiro??!! Ngapain dia? Ngomong apa ke kamu? Jangan bilang kalau dia marah kepadamu karena dia tahu kamu tidak melindungi Hiro waktu itu.”
Mata Sakura berkaca-kaca sedih. Naruto geram dan mengejar pria itu.
“Pak, Bapak…” Naruto meneriakinya dengan kurang sopan.
Pria itu menoleh kepadanya dengan tenang dan santai. “Ya?”
“Bapak tidak boleh begitu kepada Sakura! Dia kan hanya menjalankan perintah! Kami tidak boleh ketahuan kalau kami ninja waktu itu.”
“Yah, Bapak mengerti.”
“Lalu kenapa Bapak masih marah pada Sakura?!” Naruto geram dan penasaran.
“Gadis itu, Sakura… Aku bisa saja kehilangan Hiro saat Hiro melindunginya… Aku, sangat marah, tapi tidak berdaya… semua itu pilihan Hiro…”
“Eh?” Naruto tidak paham dengan ceracauan pria ini.
“Kamu… sepertinya sangat gigih.” Pria itu memandangi Naruto. Muka Naruto kemerahan. “Yah, tentu saja, aku pasti akan melindungi klien sampai bagaimanapun.”
“Yah… terlihat jelas. Kamu rekan seteam Sakura?”
“Ya.”
“Bantu Sakura ya… melindungi Hiro… “ Pria itu membungkuk pada Naruto sampai Naruto sangat sungkan dan ikutan membungkuk.
---
Jantung Sakura dan Naruto begitu berdebar dan muka mereka terlihat sangat tegang. Tampang mereka sangat mengganggu Shikamaru.
Tapi ada hal yang lebih mengganggu Shikamaru… Aneh misi ini… mengirim dia, Sakura, Naruto dan Neiji… tapi dengan dampingan guru yang cukup banyak Yamato, Kakashi dan Guy. Misi ini pasti sangat berbahaya.
Shikamaru membalik halaman ingatannya: misi utama mengintai untuk melindungi seorang cowok bernama Hiro dan adiknya Hikaru.
Tugas dia dan Neiji adalah menjadi siswa di sekolah Kanzai high school. Dia ikutan klub Igo dan Shogi. Neiji mengawasi sekitar sekolah.
Dia paham kalau Naruto dan Sakura sudah dikenal sebelumnya oleh Hiro, mungkin karena itulah mereka tegang. Tapi entah kenapa mereka hanya ditugasi jadi tetangga apartemen Hiro nanti, tidak ikutan sekolah.
Guru Guy juga ditugasi menyamar jadi guru olah raga di sekolah itu, ‘kebetulan’ yang kebangetan kebetulannya. Guru olah raga disekolah itu pindah. Kasihan anak sekolah itu, pasti akan sengsara seperti Lee. Bayangkan latihan Lee aja, badan Shikamaru sudah sakit semua.
Tidak boleh menunjukkan jurus ninja di sekolah dan sekitarnya.
----
Iseng Shikamaru dan Neiji browsing dulu ke calon sekolah mereka yang baru. Kanzai high… Sekolah megah… terlihat mewah… tapi murid2nya sepertinya tidak eksklusif golongan kaya. Gedung igo… sangat megah… Shikamaru mengerti mengapa sekolah ini begitu megah… entah kenapa ada 7 pemain professional igo remaja yang bersekolah disini. Wow… Shikamaru membayangkan asyiknya bermain igo dengan pemain pro.
“Neiji, menurutmu kenapa ya sampai 3 guru dikirim bersama dengan kita?”
“Iya, aku juga merasa aneh.” Neiji yang terlihat serius mengawasi sekitar. Dia sangat ingin menggunakan byakugannya tapi teringat larangan.
Mata Shikamaru menangkap seorang anak cewek yang sedang berlarian kearahnya mengejar bola voli. Bola itu menggelinding kearah kakinya. Shikamaru memungutnya.
Manis juga dan suaranya sangat cute saat berucap terima kasih.
---
Sedang Neiji memandang kearah lapangan basket di luar areal sekolah. Lapangan yang aneh. Tertutup semua seperti kurungan burung yang besar. Mungkin biar bola tidak terpental ke jalan. Biar tidak ada anak yang tertabrak mobil saat mengejar bola.
-----
Naruto dan Sakura berjalan agak gemetar dan bimbang ke kamar apartemen mereka bersama dengan guru Guy. Sakura juga agak merasa tidak nyaman perempuan sendirian di kompleks apartemen yang masih kosong. Dia berharap seharusnya Hinata atau Ten-ten atau kalau kepepet Temari juga boleh menemani misinya kali ini.
Mata Sakura dan Naruto terus menatapi selembar pintu apartemen tetangga kiri mereka. Mereka antara berharap dan tidak agar Hiro tiba-tiba membuka pintu itu dan melihat reaksi Hiro. Suara keras guru Guy mengagetkan mereka. Guru mereka yang ber-hair style unik ini terdengar sedang ngobrol dengan seseorang. Suara yang Sakura pernah dengar waktu lalu… Suara Hikaru…
Sakura langsung menoleh ke sumber suara itu. Tabrakan mata antara Sakura dan Hikaru…
Hikaru…
Tidak terlihat marah. Dia tersenyum pada Sakura dan Naruto. “Konbawa… Huah, senang nya ada tetangga sekarang disini… Kompleks atas agak sepi, orang-orang malas terlalu tinggi dan apartemen bangunan sebelah jauh lebih murah tarifnya.”
“Mungkin Hiro tidak bercerita apapun kepada Hikaru tentang aku.” Sakura menebak setelah melihat reaksi Hikaru
“Kakak, suka main game?” Hikaru ramah menanyai Naruto.
“E… “ Naruto agak kebingungan dengan perubahan atmosfer yang dia rasakan. “Ayo kak, besok aku libur… Kakak main game dulu aja ke apartemen ku… makanan jangan kuatir… “ Hikaru membujuk Naruto yang terlihat ragu-ragu. Guy melihat ini kesempatan bagus, mengkode Naruto untuk ikut Hikaru.
---
Naruto tidak bisa berkonsentrasi bermain. “Sial…” akhirnya dia bertanya “Kakakmu, kapan pulangnya?”
“Kakakku…” Hikaru terlihat agak sedih dan kepikiran sesuatu.
“Ke kenapa?” Naruto heran.
Tiba-tiba Hikaru berdiri, “Sebelumnya… aku atas nama kakakku mau mohon maaf dulu sebesarnya…. Kakakku mungkin sudah melupakan kalian. Maaf ya..”
“Melupakan?” Naruto terkaget. “Bagaimana mungkin seorang bisa lupa dengan orang2 yang pernah terlibat kejadian gawat seperti itu?” Benaknya penuh dengan tanda tanya.
“Kakakku… sangat pelupa… ada ketidak-normalan dalam ingatannya. Kalau dibilang amnesia sementara, ya tidak seperti itu. Kakakku kadang sangat ingat orang yang baru ditemuinya. Yah, semoga aja kakakku ingat kalian…”
“Semoga dia lupa….” Naruto berharap dalam hatinya.
----
Sakura mengetuk pintu apartemen Hikaru untuk memanggil Naruto yang sudah kelamaan bermain dan sudah larut malam. Besok mereka harus pergi ke tempat kerja yang baru. Saat akan mengetuk pintu, tiba-tiba bayangan seseorang yang lebih tinggi darinya menghiasi daun pintu itu.
“Hah?” Sakura menoleh kebelakang.
“Hiro….” Sakura terbelalak, takut menunggu reaksi Hiro.
Tapi…
Hiro tersenyum. “Kamu cari siapa, nona?”
“Eh?!” Sakura keheranan.
“Ca.. cari te te teman…” Sakura tergagap.
“Dia didalam sini?” Hiro bergegas membuka pintu.
“Hii….ka…” Hiro bersiap meneriaki Hikaru saat masuk.
“Onni-chan…” Hikaru tersenyum senang.
“Kenalin dia Naruto dan itu Sakura…” Hikaru bergegas menghampiri Hiro setelah me-nge- PAUSE game-nya.
Naruto terlihat begitu tegang menunggu reaksi Hiro. Tapi Hiro malah melihat Naruto tidak begitu sehat. “Kamu sakit?”
“Ti tidak…”
“Kalian sudah makan?”
“Sudah… “ Hikaru riang.
“Kakak… besok jalan2 yuk… aku libur… ajak Naruto dan Sakura juga “ Hikaru bergelayut manja di atas kursi.
“Tapi… besok kami mau melapor ke tempat kerja…” Naruto bertukas tanpa berpikir. Kemarahan pada wajah Sakura membuat dia tersadar kalau dia baru saja salah bicara.
“Kakak, ayo besok, kita antar mereka… mereka tetangga kita sekarang.. setelah 5 bulan ini tidak ada tetangga di kompleks sini… Kakak jangan lupa… besok kakak kan libur juga…” Hikaru mengingatkan untuk menodong.
“Ah ya, ya… besok kita antar. Kalian mau kerja dimana?” Hikaru melihat kearah Sakura. Sakura dapat melihat dari sinar mata Hiro… bahwa Hiro terlihat tidak mengenalinya lagi dan Naruto.
----
Hari yang cerah….
Shikamaru sudah tidak sabar untuk mendaftarkan dirinya di gedung pelatihan igo di ‘sekolah barunya’. Neiji juga aneh2, mau ngendon dekat lapangan basket aneh di dekat sekolah.
Shikamaru melihat seorang anak SMP bermain serius sendirian di ruangan yang kosong. Sekolah libur. Tidak ada yang berlatih igo. Malas… asyik juga, suka-suka, tidak repot. Iseng Shikamaru mendekati anak SMP itu. “Butuh teman main?”
Anak itu terlihat terkejut. Anak cowok tapi bishie sekali. Cantik. Matanya sayu. “Ya, boleh.” Anak itu malah mengajak Shikamaru pindah meja. “Kenapa tidak pake yang itu saja?”
“Oh… itu bukan mejaku… aku cuma lihat-lihat catatan permainan mereka.”
“Ooo….” Shikamaru iseng melihat sekeliling dan tersontaklah dia. Wow, begitu banyak meja yang masih ada butir2 igo-nya. Banyak permainan belum terselesaikan.
-----
Neiji menunggu dengan telaten siapa-siapa aja yang bermain dalam lapangan basket aneh itu. Anak SD dan SMP sering main disana. Tidak ada yang special. Neiji pun memilih pergi dari pengintaian.
---
Beberapa hari kemudian, dalam flat mereka, Shikamaru dan Neiji berbincang serius tentang tugas-tugas mereka saat menyelidik di sekolah itu. Segala sesuatunya dilaporkan lewat fanfic dengan nyonya Hokage. Mereka berdua terpaksa bersusah2 mengarang cerpen untuk memberikan laporan tentang apa yang mereka lakukan.
Neiji memutuskan untuk lebih dekat dengan obyek yakni menjadi co-manajer team sepak bola. Dia bertugas membantu cewek yang adalah manajer tim itu yakni Momoko. Momoko cukup sibuk, selain manajer team sepak bola, dia juga manajer tim basket. Selain manajer, Momoko juga membantu melatih tim sepak bola. Seandainya ada tim sepak bola campur mungkin Momoko udah menduduki posisi striker. Tidak ada tim sepak bola cewek dan tim basket cewek di sekolah itu.
Shikamaru bulat mengikuti ekstra kuri Igo. Dalam hatinya Shikamaru berpikir pasti akan sangat merepotkan Neiji berada dibawah perintah seorang cewek yang dia tahu reputasinya ‘luar biasa’.
Sambutan untuk Neiji sebagai co manajer cukup mendapatkan sambutan hangat. Ke-bete-an Momoko karena beratnya tugas dia jadi agak berkurang. Tim senang dengan kehadiran Neiji, intensitas mereka dimarahi Momoko jadi berkurang. Kazuhiro, kapten tim sepak bola, bermaksud mengikutsertakan Neiji dalam perbincangan strategi dan taktik tim juga.
Tapi…Hal aneh dialami Neiji:
Kazu: “Neiji, ini Hiro, kiper cadangan…”
Neiji: “Senang bertemu denganmu…”
Hiro: “ Iya.. “ sahutnya ramah dan menyodorkan tangannya. “Cukup tinggi anak ini. Hiro… obyek kita.” Neiji berpikir dalam hati sambil menyambut tangannya.
Kazu: “Hiro, ingat baik2 wajahnya… ya?”
Hiro tidak menjawab, dia hanya memandangi Neiji yang sedang sibuk menghitung baju tim yang akan dia laundry. Neiji yang dipandangi terus jadi tidak enak.
Kazu terlihat tidak menyukai scene itu.
Kazu: “ Yah. Hiro, kamu bantu aja Neiji membawakan sebagian baju itu ke tempat laundry.”
----
Sore itu, Neiji berkesempatan berbincang dengan kiper utama tim, Miharu.
“Belum pulang?”
“Belum.”
“Saya masih harus berlatih fisik. Tolong ayunkan kantung pasir itu ya.”
Neiji pun mengayunkannya. Miharu dengan cepat berusaha untuk menghentikan kantung pasir yang bergerak tak tentu arah dengan menggila. “Aduh..” Miharu terjatuh terdorong kantung pasir itu. “Kau tidak apa?” Neiji agak khawatir dan heran
“Ya, tidak apa.”
“Apa striker tim tidak bisa membantu memberikan latihan khusus?”
“Sudah. Tapi striker lawan nanti sangat tangguh.”
“Tangguh?”
“Yah..”
“Apa kamu tidak berlatih terlalu keras? Nanti sebelum tanding, kamu bisa cedera duluan.” Neiji meminta pertimbangan Miharu.
“Yah.. seandainya… aku bisa setangguh Hiro..”
“Hiro? Dia kan cadangan?” Neiji heran.
“Hiro… sangat tangguh… olah raga unik yang dia ikuti sebelumnya sangat membantu kukira..”
“Olah raga unik?”
“Iya… kamu tidak akan percaya… dia pernah ikut latihan serius gulat Mongolia dan sumo…”
“Sumo?”
“Iya, sumo… entah kenapa pelatih sumo mau menerimanya. Padahal secara fisik, dia tidak ada potongan pemain sumo yang harus khusus itu.”
“Kenapa Hiro mau gabung tim sepak bola?” Neiji jadi agak merasa aneh.
“Dia gabung… sebenarnya gara-gara aku…” Miharu bercerita. Sambil istirahat, minum air jus, Miharu pun menceritakan kejadian yang pernah dia alami 6 bulan yang lalu.
---
“Malam itu, sehabis latihan, aku memutuskan untuk menerabas gang sepi untuk cari short cut ke rumah. Aku sudah sangat capek. Lusa pertandingan penting, pertandinganku yang perdana sebagai kiper tim.
Tak kusangka, di gang itu ada beberapa anak geng yang memaksa minta uang padaku. Uangku Cuma sedikit. Mereka marah dan aku berusaha lari. Tak kusangka mereka memukulkan pipa besi pada tungkai kakiku. Sakit sekali, aku tidak mampu berdiri lagi. Aku berteriak minta tolong.”
“Lalu Hiro datang. Aku tidak kenal akrab dengannya. Tapi reputasinya cukup buruk di sekolahku. Dia sering terlibat perkelahian dan sering berurusan dengan polisi. Hiro tidak menghajar anak2 geng itu, mungkin dia takut berurusan dengan polisi lagi.”
“Kebetulan ada mobil polisi lewat di jalan kira2 20m dari ujung gang. Dan hal yang dilakukan Hiro sangat menakjubkan bagiku. Dari ujung gang satunya, tempat dia berdiri, dia menendang kaleng begitu keras dan jauh sampe memecahkan kaca mobil polisi. Mobil polisi itu lewat dengan kecepatan kurang lebih 10 km/jam. Tentu saja polisi itu langsung berhenti dan turun menuju sumber kaleng yang memecahkan kaca mobil mereka. Hiro bersembunyi. Geng itupun kabur dan aku diselamatkan dan diantar ke rumah sakit.”
“Di rumah sakit, aku berpikir bagaimana pertandingan lusa. Kazuhiro dan teman2 lain juga bingung siapa penggantiku. Tim kami baru terbentuk. Kami hanya ada 11 orang saja. Aku tidak bisa bermain. 10 orang bagaimana bisa?”
“Malam itu, otakku terus merewind kejadian di gang itu. Bagaimana kalau Hiro? Akupun menelpon Kazu untuk minta tolong Hiro untuk menggantikan posisiku sementara. Besok minta dia latihan sebentar untuk setidaknya berlatih menendang bola dan memberikan operan yang bagus untuk teman2 ditengah lapangan. Tapi Hiro tidak muncul di latihan. Aku menelponnya untuk memohon padanya. Yang menerima telpon itu adiknya.”
“Saat pertandingan akan dimulai..
Hiro tidak juga muncul. Sampai akhirnya hampir mepet waktu untuk tidak kena WO, Hiro muncul.”
“Ternyata Hiro terlambat. Pintu gerbang sudah ditutup. Jadi dia memanjat dinding samping….”
“Kejadian yang sangat konyol sebenarnya..” Lalu Miharu terbahak-bahak sampai mukanya memerah. Neiji terheran2.
“Maaf… “
“Hiro setelah memanjat dinding itu. Dia pun melihat bangku yang diduduki beberapa orang anak. Diapun nimbrung duduk di situ. Dia baru merasa agak tidak beres setelah melihat Kazu di seberang lapangan.”
“Anak2 yang duduk disebelah dia ternyata adalah tim lawan… Tim lawan sampai berkacak pinggang jengkel melihat kelakuan dia. Kazu… kamu tidak akan dapat membayangkan bagaimana malunya dia… Dengan sangat terpaksa dan malu, Kazu berjalan ke tempat duduk tim lawan, membungkuk sebentar dan memanggil Hiro yang salah ambil posisi tempat duduk. Tim lawan pun ketawa terbahak2, mereka langsung meremehkan kami.”
“Karena Hiro kemarin tidak latihan, asisten pelatih terpaksa memberikan penjelasan dengan cepat2. Saking gugupnya, dia memberikan petunjuk yang memberikan persepsi yang salah kepada Hiro. Hiro berpikir bahwa areal yang harus dia lindungi adalah gawang, termasuk daerah samping belakang atas gawang. Jadi Hiro waktu itu berpikir: bola tidak boleh sampai masuk gawang, atas gawang, samping gawang.”
Neiji mengernyit “Apa bisa dia?”
Miharu yang sedang meneguk jus asal2an menjawab: “Hmm?”
“Dengar lagi kelanjutannya…
“Hiro luar biasa. Dengan sangat cepat dia bisa menampel bola hasil tendangan striker lawan yang merasa diatas angin sehingga tendangannya sedikit melenceng keatas. Untung dia berhasil oper ke Kazu. Walau tidak berhasil di daerah gawang lawan, tapi kami sempat memberikan tekanan. Itu sangat meningkatkan semangat tanding kami.”
“Striker lawan sempat menendang keras kearah gawang. Hiro berhasil menangkap bola itu. Tapi tiba-tiba dia menendang kearah pemain tengah lawan. Kami sangat kebingungan lihat kelakuannya. Tentu saja bola dengan cepat berbalik arah menyerang kami. Hiro berhasil menangkap bola itu. Lagi2 Hiro salah oper. Kazu sampai sangat marah waktu itu. Dia hampir saja menghajar Hiro sebab Hiro tidak terlihat tidak terampil mengopernya tapi lebih terlihat seperti sengaja salah oper.”
“Pelatih meminta Time Out setelah adik Hiro yang ikutan nonton berbisik sesuatu padanya.”
“Akhirnya kami tahu: Hiro buta warna. Karena warna baju cerah kami sudah mulai kotor, Hiro tidak bisa membedakan mana baju cerah tim kami dan mana baju gelap tim lawan. Hiro yang baru muncul hari itu, tidak bisa mengingat wajah kami, lagian jauh di lapangan pasti wajah kami juga tidak terlihat.
Kami pun memutuskan memakai kain ikat pada lengan kami agar Hiro bisa tahu mana teman timnya mana lawannya.”
“Tapi entah kenapa tim lawan bisa tahu, mereka memasang kain ikat pada lengan pada beberapa pemain tengah mereka, sehingga Hiro salah mengoper pada mereka.”
---
“Cara kotor mereka berhasil membuahkan 1 gol untuk mereka. Kami sangat marah. Hiro… entahlah… dia tidak terlihat marah juga tidak terlihat bingung. Dia mengkode Kazu: minta time out.”
Kami semua berdiri capai sambil jengkel. Hiro dengan anehnya berjalan mengitari kami terus menerus. Dia tiba-tiba berkata : “Ayo sudah, bermain lagi.”
“Tim lawan yang diatas angin menekan kami habis2an. Menekan kami yang kebingungan bagaimana. Hiro, waktu itu hebat seperti biasanya. Tendangan pemain lawan yang melenceng ke samping atas kanan gawang berhasil dia tendang kembali dengan tendangan salto. Yah… salah oper lagi deh dia. Tentu tim lawan segera menendang lagi kearah gawang kami, tapi Hiro berhasil menendang balik bola yang hampir masuk itu. Tendangan Hiro terlihat seperti salah oper lagi tapi tendangan dia kali ini tidak akurat. Bola itu benar2 menghajar wajah striker lawan. Kejadian itu 3-4 kali terulang. Kami baru sadar, tim lawan sedang dikerjai Hiro.”
“Di menit2 terakhir babak 2, skor kami masih imbang 1-1. Tiba-tiba Hiro memandang kearah tribun kearah adiknya, Hikaru. Waktu untuk dia bermain sepak bola sudah habis. Kalau ada perpanjangan waktu, dia tidak bisa mengikuti pertandingan igo. Setelah mendapat kode itu, begitu dia bisa mendapatkan bola dari tim lawan, Hiro menendang bola itu nun jauh ke atas. Mau apa dia? Hiro lalu berlari sangat cepat, secepat pelari sprint, dalam sekejap dia sudah dekat gawang lawan. Bola yang sedang diatas tiba-tiba menukik tajam kebawah dan Hiro menendangnya dengan sangat keras ke gawang lawan.. GOOL.. Hiro tiba2 membungkuk memberi salam kearah tim lawan yang sedang bengong, wasit, kami, pelatih dan lalu lari kabur memanjat tembok. Sesaat setelah bayangan Hiro menghilang, terdengar deru motor yang terdengar di kendarai dengan cepat. Beberapa detik kemudian, suara peluit tanda pertandingan usai berbunyi. Gool dari Hiro memenangkan kami.”
“Dramatis bukan? Sejak itu, walau bagaimana susah kami menyuruh Hiro berdisiplin berlatih dan banyak kesulitan lain yang kami hadapi karena dia, kami tetap menganggapnya anggota tim.”
Neiji heran “Hiro, tidak mau berlatih dengan disiplin…. Berarti dia tidak suka bermain bola…. Kenapa dia tetap bertahan disini? Sulit sekali bermain dalam tim kalau dia buta warna.”
“Hiro… sangat suka sesi strategi dan taktik lalu melihat hasilnya di lapangan. Kadang masukan dia walau unik tapi sangat brilian dan tim kami sampai bisa seperti sekarang ya berkat dia juga. Walau Hiro sangat kesulitan mengingat istilah2 tapi dia mulai cukup memahami aturan permainan.”
“Hiro memang parah… boro-boro ingat latihan… waktu pertandingan saja sering dia lupakan.”
-----
Naruto sangat kaget dengan perkataan Kakashi.
“Kami curiga, sekolah ini ada banyak ninja Naga HItam?”
“Ninja Naga HItam?”
“Ninja yang sangat terkenal dengan ramuan racunnya. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok dan jenjang. Tapi kami tidak seberapa jelas bagaimana. Yang pernah aku lihat: bagian peramu racun selalu berpasangan dengan ninja yang non peramu racun. Ninja ini sepertinya tidak pernah kehabisan cakra. Ilmu mereka dibanding desa kita jauh berbeda. Pastinya mereka terbagi dalam 4 mungkin 5 kelompok besar menurut elemen. Air, udara, api dan tanah. Sepertinya Kanzai ini tidak ada tanah dan airnya.”
“Ke kenapa Bapak yakin begitu?” Naruto semakin heran.
“Bangunannya.”
“Bangunannya, banyak mengandung logam. Bahkan Shikamaru melihat kolam renang berpinggiran logam semua dan ada didalam ruangan. Air kolam sering menyusut dengan mendadak. Baunya juga. Banyak bauan barang2 yang terbakar. Pastinya Ninja disini ada yang berelemen api. Tapi entah apa hanya elemen api saja. Atau bareng dengan lainnya. Kalau tanah, maka si api ini akan tenang. Tapi kalau angin, si api ini tidak bersahabat.”
“Kalau air bagaimana sensei?”
“Tidak bisa, kelompok api dan air tidak bisa bebarengan.” Kakashi terlihat tersadar sesuatu.
BQ:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar